Kisah Imam Ali a.s. dalam QS Al-Baqarah: 274
Orang-orang mengenal Ali bin Abi Thalib a.s. melalui kilatan pedangnya di Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar. Namun, Al-Qur’an juga memperlihatkan sisi lain dari lelaki yang sama: bukan tangan yang menggenggam Dzulfiqar, melainkan tangan yang diam-diam menyelipkan satu dirham kepada orang yang membutuhkan.
Malam itu Madinah tenggelam dalam keheningan.
Tidak ada pasukan. Tidak ada denting pedang. Tidak ada benteng yang harus ditaklukkan. Hanya lorong-lorong sunyi, rumah-rumah sederhana, dan manusia-manusia yang menyembunyikan lapar agar kehormatan mereka tidak terlihat terluka.
Di tangan Ali a.s. terdapat empat dirham.
Hanya empat.
Riwayat tafsir dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Ali menginfakkan satu dirham pada malam hari, satu dirham pada siang hari, satu dirham secara sembunyi-sembunyi, dan satu dirham secara terang-terangan.
Dalam riwayat yang lebih panjang bahkan disebutkan: itulah seluruh uang yang dimilikinya.
DIRHAM PERTAMA: MALAM
Ketika kota telah terlelap dan pintu-pintu rumah tertutup, Ali keluar membawa satu dirham.
Malam menyembunyikan langkahnya. Tidak ada mata yang memuji. Tidak ada tangan yang bertepuk. Tidak ada nama yang diumumkan.
Satu dirham berpindah dari tangannya kepada seseorang yang memerlukan. Kita tidak diberi tahu siapa penerimanya. Seakan-akan sejarah sengaja merahasiakannya, sebab sedekah itu memang tidak dilakukan untuk dikenang manusia.
Malam menjadi saksi, tetapi malam tidak berbicara.
Ali mengerti bahwa ada kebaikan yang justru menjadi agung karena tidak diketahui siapa pun selain Allah.
DIRHAM KEDUA: SIANG
Matahari kemudian terbit di atas Madinah.
Di tengah kesibukan manusia, Ali menginfakkan dirham kedua. Jika pada malam hari ia memberi ketika dunia tidak melihat, pada siang hari ia memberi ketika dunia dapat melihat.
Sebab keikhlasan bukan sekadar menyembunyikan amal. Keikhlasan adalah membebaskan amal dari ketergantungan kepada penilaian manusia—baik ketika amal itu tersembunyi maupun ketika terlihat.
Orang yang ikhlas tidak berhenti berbuat baik hanya karena takut dicurigai sedang mencari pujian. Ia tidak menjadi hamba pujian, tetapi juga tidak menjadi tawanan prasangka.
Ali memberi pada malam hari tanpa penonton.
Ali juga memberi pada siang hari tanpa memerlukan penonton.
DIRHAM KETIGA: SEMBUNYI-SEMBUNYI
Dirham ketiga diberikan secara rahasia.
Mungkin bukan karena Ali takut orang mengetahui kebaikannya, melainkan karena ia menjaga kehormatan orang yang menerimanya.
Ada sedekah yang harus disembunyikan bukan demi melindungi kemuliaan pemberi, tetapi demi melindungi harga diri penerima.
Orang miskin bukan panggung bagi kesalehan orang kaya. Air mata manusia bukan latar untuk membangun citra. Tangan yang memberi tidak boleh mengubah tangan yang menerima menjadi tontonan.
Ali a.s. tidak sekadar mengerti nilai uang. Ia memahami martabat manusia.
Karena itu, dirham ketiga datang tanpa suara. Ia menutup kekurangan seseorang tanpa membuka aibnya.
DIRHAM KEEMPAT: TERANG-TERANGAN
Dirham terakhir diberikan secara terbuka.
Apakah sedekah terbuka selalu berarti riya?
Tidak.
Kadang-kadang kebaikan perlu diperlihatkan untuk membangunkan hati yang tertidur, menggerakkan orang lain, dan mengajarkan bahwa harta tidak kehilangan nilainya ketika diberikan di jalan Allah. Yang merusak amal bukan terlihatnya perbuatan, melainkan keinginan agar diri dipuja melalui perbuatan itu.
Ali mampu menyembunyikan amal tanpa merasa harus dikenal. Namun, ia juga mampu memperlihatkannya tanpa merasa ingin dipuji.
Ia tidak diperbudak oleh kerahasiaan dan tidak mabuk oleh keterbukaan. Yang menguasai dirinya hanyalah Allah.
Empat dirham telah habis.
Tidak ada lagi yang tersisa di tangannya. Namun, justru pada saat tangannya kosong, langit mengabadikan tangannya dalam Al-Qur’an.
Dalam salah satu bentuk riwayat, Rasulullah saw. bertanya kepadanya:
“Apa yang mendorongmu melakukan itu?”
Ali menjawab:
“Aku ingin memperoleh apa yang telah dijanjikan Allah kepadaku.”
Rasulullah saw. kemudian bersabda:
“Ketahuilah, sungguh hal itu telah menjadi milikmu.”
Lalu turunlah firman Allah:
«ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ»
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
—QS Al-Baqarah: 274
Perhatikanlah:
Allah tidak menyebut besarnya jumlah yang diberikan. Allah menyebut waktu dan keadaannya—malam dan siang, rahasia dan terbuka.
Sebab kemuliaan infak tidak selalu terletak pada banyaknya angka, tetapi pada keluasan keikhlasan.
Empat dirham itu mewakili seluruh kemungkinan: ketika gelap maupun terang, ketika diketahui maupun tidak diketahui. Seakan-akan Ali berkata melalui perbuatannya:
“Ya Allah, di setiap waktu dan dalam setiap keadaan, harta ini tetap milik-Mu.”
Ayat itu memakai bentuk jamak: orang-orang yang menginfakkan harta mereka. Riwayat boleh menunjuk Ali sebagai peristiwa yang melatarinya, tetapi pesan ayat tidak berhenti pada Ali. Dari satu manusia yang memberi, Allah membuka jalan bagi seluruh manusia untuk meneladaninya.
Inilah kaidah penting dalam memahami Al-Qur’an: sebab turunnya boleh khusus, tetapi pelajarannya berlaku luas.
Ali a.s. menjadi teladan pertama di dalam kisah itu, sedangkan ayatnya memanggil kita semua.
Kisah ini juga menghancurkan alasan orang yang terus menunggu kaya sebelum bersedekah. Ali tidak menunggu memiliki empat ribu dirham. Ia menginfakkan empat dirham yang ada dalam genggamannya.
Sebab kemurahan hati tidak dimulai ketika harta telah berlimpah. Kemurahan hati dimulai ketika cinta kepada Allah lebih besar daripada ketakutan akan berkurangnya harta.
Malam itu, tidak ada benteng yang runtuh.
Tidak ada pasukan yang ditaklukkan.
Namun, sesuatu yang lebih besar telah dikalahkan: rasa memiliki yang berlebihan terhadap dunia.
Ali tidak sekadar memberikan empat dirham. Ia menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak diukur dari berapa banyak yang tersimpan di tangannya, tetapi dari seberapa kecil dunia menguasai hatinya.
Empat keping dirham itu mungkin tidak berarti apa-apa bagi pasar Madinah. Namun, ketika disentuh oleh keikhlasan Ali, nilainya menembus langit.
Karena di sisi Allah, yang kecil tidak lagi kecil ketika diberikan dengan seluruh hati.
Dan tangan Ali yang pada suatu hari mengangkat pintu Khaibar, pada hari yang lain membuka pintu harapan seorang miskin.
Keduanya adalah keberanian.
Yang satu menaklukkan benteng.
Yang lain menaklukkan diri sendiri.

—–
Catatan riwayat:
Pengaitan QS Al-Baqarah: 274 dengan empat dirham Imam Ali a.s. dicatat dalam sejumlah kitab tafsir.
Al-Wahidi memuat riwayat dari Mujahid dan Ibnu Abbas, serta versi lebih panjang dari al-Kalbi.
Riwayat tersebut juga disebut oleh al-Qurthubi dan Fakhruddin al-Razi. Ibnu Katsir mencatat bahwa salah satu jalurnya melalui Abdul Wahhab bin Mujahid dinilai lemah, tetapi ia juga menyebut adanya jalur lain dari Ibnu Mardawaih melalui Ibnu Abbas.
Karena itu, penyebutan yang paling cermat ialah: riwayat tafsir yang masyhur mengenai sebab turunnya ayat, sementara makna ayat tetap bersifat umum bagi semua orang yang berinfak ikhlas.
Rujukan: “Al-Wahidi, Asbāb al-Nuzūl”, “Al-Qurthubi, tafsir QS 2:274”.
“Fakhruddin al-Razi, Mafātīḥ al-Ghayb”, dan “Ibnu Katsir, tafsir QS 2:274”.
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BwmGRsmuY/

