22 October 2026

1. Peninjauan Ulang & Latar Belakang (Evaluasi Ayat 9 & Metode Dakwah Nabi Nuh AS)

  • Metode Dakwah Totalitas: Nabi Nuh AS telah menempuh segala cara dan metode dalam berdakwah. Beliau berdakwah secara terang-terangan (jihaar), sembunyi-sembunyi (israar), secara individu dari rumah ke rumah, maupun secara terbuka di tengah kerumunan massa di lorong-lorong kota dan pasar.
  • Masa Dakwah dan Kultur Pengingkaran: Nabi Nuh AS berdakwah selama 950 tahun (9,5 abad). Namun, pembangkangan kaumnya begitu mengakar hingga menjadi budaya (kultur) yang diwariskan dari generasi ke generasi. Para orang tua membawa anaknya kepada Nabi Nuh AS sambil mewanti-wanti agar tidak mengikutinya, dan menganggap peringatan tersebut sebagai wasiat kebaikan keluarga.
  • Penyebab Utama Pembangkangan: Alasan kaum Nuh menolak kebenaran bukanlah karena tidak tahu, melainkan karena kesombongan dan keangkuhan mereka.
  • Respons Fisik Kaum Nuh: Ketika Nabi Nuh AS berdakwah, kaumnya menutup telinga dengan jari-jari mereka (ja’aluu ashaabi’ahum fii aadzaanihim) dan menyelimuti kepala/muka mereka dengan kain (wastagssyaw tsiyaabahum) agar tidak mendengar kebenaran sedikit pun.
  • Hasil Dakwah & Kesabaran: Meskipun diolok-olok, dihina, hingga diperlakukan kasar (dipukul dan didorong), Nabi Nuh AS tetap berdakwah dengan penuh kesabaran, istiqamah, dan kasih sayang. Selama 950 tahun, beliau hanya memperoleh sekitar 80 orang pengikut (rata-rata 1 orang pengikut setiap 12 tahun).

2. Strategi Ahlul Batil dalam Menghalangi Kebenaran (Kontekstualisasi Zaman)

  • Strategi Kegaduhan & Kebisingan: Sejak zaman dahulu, Ahlul Batil (pelaku kebatilan) selalu membuat strategi untuk mengalihkan perhatian manusia agar tidak mendengar kebenaran.
    • Pada zaman Rasulullah SAW, orang kafir membuat kegaduhan saat Al-Qur’an dibacakan agar pesannya tidak terdengar.
    • Pada peristiwa Karbala, tentara Umayyah membuat kericuhan agar nasihat Imam Husein AS tidak didengar.
    • Pada zaman modern, Ahlul Batil menciptakan “kebisingan” melalui hiburan malam, musik, hiburan yang melalaikan, serta tren joget di media sosial yang mengikis kesucian dan harga diri wanita.
  • Menghilangkan Akal Sehat & Pembungkusan Dosa:
    • Minuman keras dan narkotika digunakan untuk merusak fungsi akal sehat. Dalam kultur media Barat, minuman keras sering dikonstruksikan sebagai sarana merayakan prestasi sekaligus pelarian saat tertimpa masalah.
    • Kebatilan dibungkus dengan istilah indah, seperti perbuatan melawan kodrat (seperti LGBT) yang dibingkai atas nama kebebasan dan Hak Asasi Manusia (HAM).
    • Kebiasaan berbuat batil yang dilakukan terus-menerus akan mengakar kuat dalam jiwa hingga kebatilan dianggap sebagai kebutuhan, menciptakan benteng tebal yang menghalangi seseorang dari petunjuk.

3. Tafsir Surat Nuh Ayat 10 – 12 (Anjuran Istighfar & Keutamaannya)

  • Ayat 10:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا “Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanku, sungguh Dia Maha Pengampun.'”

    • Penjelasan: Sebesar apa pun dosa seseorang dan selamanya ia berada di jalan maksiat, pintu ampunan Allah selalu terbuka luas jika ia mau kembali dan bertobat.
  • Ayat 11 – 12:

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”

    • Konteks Sejarah Kaum Nuh: Sebelum ayat ini turun, kaum Nuh sempat diazab dengan kemarau panjang/paceklik, tanah yang tandus, ternak yang mati, serta kelangkaan keturunan akibat kekurangan gizi. Nabi Nuh AS menjelaskan bahwa bertobat dan beristighfar akan mengangkat azab tersebut.
    • Dua Manfaat Utama Istighfar:
      1. Manfaat Rohani/Spiritual: Pembersihan dosa dan pemulihan kesucian fitrah manusia.
      2. Manfaat Materi/Jasmani: Kesejahteraan hidup, kelimpahan rezeki, kesuburan tanah melalui turunnya hujan, keturunan yang banyak, dan kemakmuran ekonomi.
    • Riwayat tentang Istighfar:
      • Imam Ali bin Abi Thalib AS menyatakan: “Perbanyaklah istighfar, niscaya kalian akan menarik rezeki dari Allah.”
      • Riwayat Nabi SAW: Barangsiapa yang hatinya dilanda kesedihan atau kesempitan hidup, hendaknya ia menjadikannya istighfar sebagai sebab turunnya rezeki dan rahmat. Sering kali kesempitan rezeki terjadi akibat dosa, dan istighfar menghapuskan penghalang tersebut.

4. Tafsir Surat Nuh Ayat 13 – 14 (Keagungan Allah & Tahapan Penciptaan Manusia)

  • Ayat 13:

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا “Mengapa kamu tidak takut akan keagungan Allah?”

    • Penjelasan: Nabi Nuh menegur kaumnya yang tidak menghargai keagungan Allah, padahal manusia sama sekali tidak ikut serta dalam menciptakan alam semesta maupun diri mereka sendiri.
  • Ayat 14:

وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا “Padahal Dia sungguh telah menciptakan kamu dalam beberapa tahapan kejadian.”

    • Proses Penciptaan Manusia (Athwaar): Manusia diciptakan berproses dari tetesan cairan (sperma) di dalam rahim, menjadi gumpalan darah (‘alaqah), lalu gumpalan daging (mudghah), dibentuk menjadi tulang dan daging, ditiupkan ruh, serta dilengkapi panca indra.
    • Keunikan Setiap Individu: Meskipun berasal dari orang tua yang sama, Allah menciptakan setiap manusia secara khusus/spesial dengan raut raga dan potensi kemampuan yang berbeda-beda agar mereka dapat saling melengkapi dalam kehidupan.
    • Masyarakat Hawa Nafsu: Kaum Nuh mengabaikan proses penciptaan ini karena mereka diperbudak oleh hawa nafsu dan keserakahan. Masyarakat yang dikuasai hawa nafsu akan berujung pada perebutan kekuasaan, pertikaian, dan kehancuran diri sendiri.

5. Tafsir Surat Nuh Ayat 15 – 20 (Tanda-Tanda Kekuasaan di Alam & Bukti Hari Kebangkitan)

  • Ayat 15 – 16:

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا . وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan di sana Dia menjadikan bulan sebagai cahaya dan matahari sebagai pelita?”

  • Ayat 17 – 18:

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا . ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا “Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya dan mengeluarkan kamu (pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.”

    • Persamaan Manusia dengan Tumbuhan:
      1. Manusia pertama (Nabi Adam AS) diciptakan langsung dari tanah.
      2. Segala nutrisi yang dimakan manusia (buah, gandum, sayur, hingga daging hewan yang memakan tumbuhan) berasal dari tanah.
      3. Kebutuhan biologis manusia (air, sinar matahari) sama seperti kebutuhan tumbuh-tumbuhan.
    • Argumen Hari Kebangkitan (Ma’ad): Penciptaan tanaman yang tumbuh subur dari tanah mati merupakan bukti nyata kekuasaan Allah. Allah yang kuasa menumbuhkan kehidupan dari tanah setiap hari, tentu Mahakuasa pula membangkitkan kembali manusia yang telah mati dan dikubur di dalam tanah.
  • Ayat 19 – 20:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا . لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.”

    • Keseimbangan Kondisi Bumi: Allah merancang bumi dengan tekstur yang tidak terlalu keras (seperti cadas) dan tidak terlalu lembek (seperti rawa/lumpur), serta dengan suhu yang tidak terlalu panas membakar maupun tidak terlalu dingin membeku. Hal ini memungkinkan manusia untuk hidup nyaman, bercocok tanam, dan melakukan penjelajahan di muka bumi.

6. Tafsir Surat Nuh Ayat 21 – 24 (Keluhan Nabi Nuh & Asal-usul Berhala Pertama dalam Sejarah)

  • Ayat 21 – 22:

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا . وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا “Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendahilakuku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya. Dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.'”

    • Pelajaran: Seseorang tidak boleh silau dan menjadikan pimpinan/tokoh panutan hanya karena banyaknya harta atau pengikutnya jika orang tersebut tidak berada di jalan Allah.
  • Ayat 23:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.'”

    • Sejarah Munculnya Penyembahan Berhala Pertama:
      • Penyembahan berhala belum pernah ada di zaman Nabi Adam AS hingga menjelang era Nabi Nuh AS.
      • Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr awalnya adalah nama-nama orang saleh yang sangat dicintai masyarakat pada masa itu.
      • Setelah orang-orang saleh tersebut meninggal, setan membisikkan makar (tipu daya) agar masyarakat membuat patung/penanda sosok mereka sebagai bentuk penghormatan dan pengingat kebaikan.
      • Seiring berjalannya waktu dan bergantinya generasi, fungsi patung-patung tersebut bergeser dari sekadar simbol penghormatan menjadi sesembahan/berhala.
  • Ayat 24:

وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا “Dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak orang; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.”

    • Penjelasan Doa: Permohonan Nabi Nuh agar Allah menambahkan “kesesatan” bagi orang zalim bermakna agar Allah membalas dan menghukum mereka atas kekufuran serta kezaliman yang telah mereka perbuat.

7. Tafsir Surat Nuh Ayat 25 – 27 (Penenggelaman, Azab Barzah, & Doa Nabi Nuh)

  • Ayat 25:

مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke dalam neraka, maka mereka tidak memperoleh penolong-penolong bagi mereka selain Allah.”

    • Penjelasan Azab: Kaum Nuh ditenggelamkan oleh banjir bah lalu langsung dimasukkan ke dalam neraka. Sebagian mufasir menjelaskan ini merujuk pada siksa di alam Barzah (kubur) sebelum kelak dimasukkan ke neraka Jahanam di akhirat.
  • Ayat 26 – 27:

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا . إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا “Dan Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.'”

    • Bukan Doa Frustrasi: Doa Nabi Nuh untuk memusnahkan seluruh orang kafir di muka bumi bukanlah tindakan emosional atau putus asa, melainkan doa yang sangat realistis.
    • Alasan Permohonan Nabi Nuh:
      1. Nabi Nuh telah mengamati pergantian puluhan generasi selama 950 tahun dan mendapati bahwa generasi anak, cucu, hingga cicit tetap mewarisi kekufuran yang sama.
      2. Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah yang menegaskan bahwa tidak ada lagi dari kaumnya yang akan beriman selain mereka yang telah beriman sebelumnya.
      3. Orang-orang kafir tersebut hanya akan melahirkan keturunan yang fajir (buruk perbuatannya) dan kaffar (sesat secara ideologi) serta menyesatkan hamba Allah lainnya.
  • Penutup Kajian: Pertemuan kedua kajian Tafsir Surat Nuh dicukupkan sampai Ayat 27 dan akan dilanjutkan pada pertemuan ketiga.

 

 

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us