Pembukaan & Pengantar
Kajian diawali dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat umur dan taufik untuk mendekatkan diri kepada ayat-ayat Suci Al-Qur’an. Pertemuan ini merupakan sesi kedua dalam serial kajian tafsir sederhana Surat Al-Mulk, melanjutkan pembahasan dari ayat ke-6.
Ayat 6: Hakikat Kufur dan Siksa Jahannam
وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya akan mendapat azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
- Makna Hakiki Kekufuran:
Kata kafir atau kufur dalam ayat ini maknanya luas dan tidak sekadar merujuk pada label non-Muslim secara administratif.
Makna kufur adalah tindakan menolak atau menutup kebenaran setelah seseorang memahami bahwa hal tersebut adalah kebenaran.
Seseorang baru berada pada posisi layak menerima azab Allah apabila ia telah paham akan kebenaran namun sengaja mengingkarinya. - Ujian Kehidupan Dunia:
Manusia diciptakan untuk diuji dalam waktu kehidupan dunia yang relatif singkat. Jika ia mengikat dirinya dengan keimanan, ketulusan, kejujuran, dan kebaikan, ia akan memperoleh kebahagiaan abadi. - Perumpamaan Pasar:
Imam Al-Hadi Alaihissalam mengibaratkan dunia seperti sebuah pasar. Di pasar ada pedagang yang untung dan ada yang rugi.
Namun, kerugian materi di pasar bersifat kecil, sedangkan kerugian pada hari kiamat (al-khusranul mubin) bersifat dahsyat karena manusia kehilangan kesempatan meraih kebahagiaan abadi di akhirat.
Ayat 7–8: Dahsyatnya Gelegar Neraka Jahannam
إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ ﴿٧﴾ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ ﴿٨﴾
“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara gemuruh neraka yang membara, hampir-hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka) bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'”
- Suara Gemuruh Neraka (Ayat 7):
Ketika orang-orang yang ingkar dilemparkan ke Jahannam, mereka mendengar suara gemuruh (syahiqan) yang menakutkan dari api yang membara dan meletup-letup (tafur).
Gambaran kawah gunung berapi di dunia—yang mengeluarkan lahar panas dan suara meletup—hanyalah ikhtibar kecil untuk membayangkan betapa dahsyatnya gejolak api Jahannam. - Kemurkaan Neraka (Ayat 8):
Api Jahannam digambarkan hampir meledak atau terbelah karena geram (tamayyazu minal ghaizh) kepada manusia yang telah diberi banyak nikmat namun menggunakannya untuk berbuat maksiat dan kejahatan. - Pertanyaan Malaikat Penjaga Neraka:
Setiap rombongan dilemparkan, malaikat penjaga neraka (khazanatuha) bertanya: “Apakah tidak ada pemberi peringatan (nadzir) yang datang kepada kalian?”.
Peringatan itu sebenarnya telah hadir melalui para nabi, rasul, kitab suci, pendakwah, maupun kesadaran akan kepastian kematian. Manusia pun telah dianugerahi akal dan hati untuk membedakan yang baik dari yang buruk.
Ayat 9–11: Pengakuan Dosa dan Penyesalan yang Terlambat
قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ ﴿٩﴾
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿١٠﴾
فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿١١﴾
- Sikap Pengingkar (Ayat 9):
Penghuni neraka mengakui bahwa pemberi peringatan telah datang. Namun sewaktu di dunia, mereka mendustakannya dan bahkan menuduh para utusan Allah sebagai orang-orang yang berada dalam kesesatan besar.
Menuduh pembawa kebenaran sebagai pihak yang sesat merupakan watak dasar Ahlul Batil. - Penyesalan atas Pengabaian Akal (Ayat 10):
Mereka berseru: “Seandainya dulu kami mau mendengar (nasma’u) atau menggunakan akal kami (na’qilu), niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.”.
Masalah utama mereka bukanlah karena kurangnya informasi, melainkan ketidakmauan mereka untuk memanfaatkan akal sehat. - Pengakuan Tanpa Guna (Ayat 11):
Mereka akhirnya mengakui dosa-dosa mereka (fa’tarafu bidzanbihim), namun penyesalan di akhirat sudah terlambat. Maka jauhlah (fasuhqan) mereka dari rahmat Allah.
Pendalaman Materi: Hakikat dan Kedudukan Akal
Guna menekankan pesan penting pada ayat ke-10, disampaikan uraian khusus mengenai kedudukan akal dalam ajaran Islam:
- Kisah Pilihan Nabi Adam AS:
- Dalam sebuah riwayat dikisahkan Malaikat Jibril turun membawa 3 pilihan dari Allah kepada Nabi Adam AS: Akal (Al-‘Aql), Rasa Malu (Al-Haya’), dan Agama (Ad-Din).
- Nabi Adam memilih Akal. Ketika Jibril menyuruh Rasa Malu dan Agama untuk pergi, keduanya menyatakan bahwa Allah telah memerintahkan mereka untuk selalu mendampingi akal di mana pun akal berada.
Dengan memilih akal, Nabi Adam secara otomatis memperoleh rasa malu dan agama sekaligus.
- Akal sebagai Pondasi Agama:
- Riwayat menegaskan bahwa barangsiapa yang menggunakan akalnya, maka ia memiliki agama; dan barangsiapa yang beragama, ia akan masuk surga.
- Definisi Akal Sejati menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib AS:
- Kecerdikan yang hanya dipakai untuk meraih prestasi materi duniawi bukanlah akal hakiki, melainkan hanya syabihatul ‘aql (serupa akal / tiruan).
- Akal murni adalah potensi yang diberikan Allah agar manusia mampu menjadikan dirinya hamba yang taat kepada Sang Pencipta serta mengutamakan kebahagiaan abadi akhirat di atas kehidupan dunia yang sementara.
Ayat 12: Keutamaan Rasa Takut Bil-Ghaib
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”
- Logika Keimanan pada Hal Ghaib:
Manusia tidak dapat melihat Zat Allah secara panca indra karena keterbatasan fisik manusia menghadapi Zat Yang Tak Terbatas. Namun, akal mampu menyimpulkan keberadaan-Nya. - Perumpamaan Asap dan Api:
Sebagaimana seseorang meyakini adanya api hanya dengan melihat kepulan asap dari kejauhan tanpa perlu menyentuh apinya, manusia cukup melihat kerumitan anatomi tubuh, panca indra, dan keteraturan alam untuk meyakini adanya Sang Pencipta. - Ganjaran Ketundukan:
Rasa takut (khasyah) yang didasari kesadaran akal akan keagungan Sang Pencipta mendatangkan ampunan (maghfirah) dan pahala yang besar (ajrun kabir) dari Allah.
Ayat 13–14: Ilmu Allah yang Meliputi Segala Sesuatu
وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ﴿١٣﴾
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ﴿١٤﴾
“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu lahirkannya atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”
- Luasnya Pengetahuan Allah (Ayat 13):
Baik ucapan yang dirahasiakan maupun yang dinyatakan secara terbuka, bahkan lintasan pikiran yang masih tersimpan di dalam dada (bidzatis sudur), semuanya berada dalam pengetahuan Allah. - Logika Penciptaan (Ayat 14):
Sangat mustahil jika Pencipta tidak mengetahui detail ciptaan-Nya sendiri (Ala ya’lamu man khalaq).
Manusia sendiri tidak paham sepenuhnya bagaimana matanya bekerja atau bagaimana hakikat ruhnya, sedangkan Allah Maha Halus (Al-Lathif) dan Maha Mengetahui (Al-Khabir).
Ayat 15: Fasilitas Bumi dan Kesadaran Kebangkitan
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
- Bumi yang Ramah Ditempati (Dzalulan):
Allah merancang bumi dengan sangat seimbang—jarak matahari yang tepat, ketersediaan air, oksigen, tekstur tanah yang tidak terlalu keras atau terlalu padat, serta tingkat gravitasi yang pas. - Eksplorasi Rezeki:
Manusia diperintahkan untuk menjelajahi daratan dan lautan (famsyu fi manakibiha) guna memanfaatkan rezeki Allah (kulu mir rizqih), berupa hasil bumi, tumbuh-tumbuhan, maupun kekayaan laut. - Pengingat Akhir (Wa ilaihin nusyur):
Di tengah kenikmatan fasilitas dunia, manusia diingatkan agar tidak lupa diri, karena seluruh kehidupan ini akan berakhir dan manusia pasti dibangkitkan kembali menghadap Allah.
Ayat 16–18: Peringatan Bencana dan Ketidakberdayaan Manusia
أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ﴿١٦﴾ أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ ﴿١٧﴾ وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ ﴿١٨﴾
- Ancaman Bencana Ditelan Bumi (Ayat 16):
Manusia diingatkan agar tidak sombong atau merasa aman dari kekuasaan Allah.
Allah berkuasa melipat atau mengguncangkan bumi (yakhsifa bikumul ardha), sebagaimana peristiwa gempa, tsunami, atau kisah Qorun yang ditelan bumi bersama hartanya. - Ancaman Badai Batu (Ayat 17):
Allah juga berkuasa menurunkan badai batu (hasiba), seperti bencana yang menimpa kaum-kaum masa lalu atau hancurnya pasukan gajah Raja Abrahah.
Hal ini menunjukkan bahwa azab Allah bisa saja diturunkan di dunia sebelum perhitungan kiamat. - Pelajaran Sejarah (Ayat 18): Umat-umat terdahulu yang mendustakan kebenaran telah merasakan betapa dahsyatnya akibat kemurkaan Allah.
Ayat 19: Perenungan Burung yang Terbang
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembang dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.”
- Tadabbur Alam:
Manusia diajak merenungkan fenomena burung yang terbang dengan mengepakkan (yaqbidhn) dan membentangkan (shaffat) sayapnya. - Kekuasaan Ar-Rahman: A
da jenis burung yang sanggup terbang berbulan-bulan menempuh ribuan kilometer tanpa turun. Tidak ada kekuatan yang sanggup menahan posisi mereka di udara melainkan rahmat dan penjagaan Allah Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman). - Tujuan Renungan:
Memperhatikan keindahan ciptaan ini bertujuan agar akal manusia dapat menangkap keagungan dan kebesaran Sang Pencipta.
Penutup Sesi Kajian
Pembahasan dilanjutkan pada ayat ke-20 pada pertemuan kajian berikutnya.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
—
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

