22 October 2026

Pendahuluan & Keutamaan (Fadhilah) Surat Al-Mulk

Surat Al-Mulk merupakan surat Makkiyah yang terdiri dari 30 ayat.
Surat ini juga dikenal dengan sebutan Surat Tabarok, serta memiliki nama-nama lain seperti Al-Munjiyat (yang menyelamatkan), Al-Waqiah (yang menjaga), dan Al-Mania’ah (yang mencegah/menahan dari azab Allah dan azab kubur).

Beberapa riwayat mengenai keutamaan Surat Al-Mulk:

  1. Riwayat Rasulullah SAW:
    Barangsiapa membaca Surat Tabarok (Al-Mulk), maka pahalanya seperti orang yang menghidupkan malam Lailatul Qadar.
  2. Riwayat Rasulullah SAW:
    Beliau sangat berharap kandungan dan makna Surat Tabarok ini dapat bersemayam di dalam hati setiap orang mukmin sebagai penyelamat bagi mereka.
  3. Riwayat Imam Muhammad bin Ali Al-Baqir AS:
    Surat Al-Mulk adalah Al-Mania’ah yang mencegah dari azab kubur dan tertulis di dalam Taurat. Barangsiapa membacanya di suatu malam, ia telah melakukan banyak kebaikan dan tidak dicatat sebagai orang yang lalai.

Catatan Penting:

Keutamaan-keutamaan tersebut tidak diraih hanya dengan sekadar membaca tanpa penghayatan, melainkan harus dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam tutur kata serta perilaku kehidupan sehari-hari.

Ayat 1: Kekuasaan Allah yang Mutlak dan Maha Suci

{تَبَٰرَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ}

  • Makna Tabaraka:
    Maha Tinggi, Maha Suci, atau Maha Penuh Berkah. Kata ini juga bermakna sesuatu yang bersifat abadi dan senantiasa ada, menunjukkan bahwa berkah dan kekuasaan Allah tidak akan pernah sirna.
  • Makna Biyadihil-Mulk & Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir:
    Kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Allah. Kekuasaan-Nya bersifat mutlak, sempurna, tak terbatas, dan meliputi segala sesuatu tanpa ada yang keluar dari genggaman-Nya.
  • Karakteristik Kekuasaan Allah:
    • Tanpa Sekutu (Independen):
      Allah berdiri sendiri dan tidak membutuhkan tandingan maupun bantuan dari selain-Nya.
    • Bersifat Al-Malikil Quddus:
      Berbeda dengan kekuasaan manusia yang sering kali berujung pada kezaliman, kesombongan, atau penindasan, kekuasaan Allah senantiasa menyatu dengan kesucian (Quddus).
      Allah Maha Kuasa, namun pantang bagi-Nya untuk berbuat kezaliman kepada hamba-Nya.

Ayat 2: Ujian Kematian, Kehidupan, dan Kualitas Amalan (Ahsanu ‘Amala)

{ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلً۠ا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ}

  1. Hakikat Kematian (Al-Maut) dan Kehidupan (Al-Hayah):
    • Kematian adalah sesuatu yang diciptakan dan bernilai nyata (ada), bukan ketiadaan total.
    • Kematian adalah proses perpindahan jiwa dari alam dunia/jasad ke alam berikutnya yang akan dirasakan oleh setiap manusia.
  2. Tujuan Penciptaan Ujian (Liyabluwakum):
    • Kehidupan dan kematian diciptakan untuk menguji manusia: siapa yang mampu mempersembahkan ** amalan terbaik (Ahsanu ‘amala)**.
    • Setiap manusia dianugerahi potensi yang berbeda-beda. Seseorang dikatakan berhasil ketika ia mampu memaksimalkan potensi yang Allah berikan padanya sesuai kemampuannya.
  3. Makna Asmaul Husna Al-‘Aziz dan Al-Ghafur:
    • Allah Maha Kuat (Al-‘Aziz), namun Dia juga Maha Pengampun (Al-Ghafur). Jika manusia tergelincir atau berbuat dosa dalam perjalanan hidupnya, pintu ampunan selalu terbuka dan tidak boleh membuat seseorang putus asa.
  4. Mengapa Kematian Didahulukan Sebelum Kehidupan?:
    • Agar manusia lebih fokus dan bersiap menghadapi kematian. Kematian adalah titik penentu apakah seseorang mendapat ridha atau murka Allah, serta meraih kebahagiaan atau kesengsaraan abadi.
      Selain itu, asal manusia memang dari ketiadaan (mati) sebelum dihidupkan.
  5. Empat Tujuan Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an:
    1. Ujian Pembuktian Potensi (Liyabluwakum).
    2. Ibadah / Penghambaan (Liyabudun).
    3. Mencapai Rahmat Allah (Lizalika Khalaqahum).
    4. Mencapai Ma’rifah / Pengetahuan akan keagungan Allah (At-Talaq: 12).
      (Empat tujuan ini saling berkesinambungan: Pengetahuan membimbing pada ibadah, ibadah melahirkan amalan terbaik, dan amalan terbaik mendatangkan rahmat Allah).
  1. Mengapa Allah Menguji Manusia padahal Maha Mengetahui?:
    • Ujian diadakan bukan karena Allah tidak tahu nasib hamba-Nya, melainkan agar manusia membuktikan sendiri perbuatannya. Dengan demikian, kelak di akhirat manusia tidak dapat mengelak atau mengeluh atas keadilan hukum Allah.
  1. Makna Kualitas Amal (Ahsanu ‘Amala) vs Kuantitas Amal:
    • Islam menekankan kualitas amal (Ahsan/Husnul ‘amal), bukan sekadar banyaknya jumlah amal (Aktsar/Kasratul ‘amal).
    • Berdasarkan penjelasan riwayat (Imam Ja’far As-Sadiq AS):
      • Ahsanu ‘amala bermakna amalan yang paling benar (aswabakum ‘amala), yang dilandasi ma’rifah dan niat yang tulus (ikhlas).
      • Mempertahankan keikhlasan suatu amal (Al-Iqamatu ‘alal ‘amal) jauh lebih sulit daripada melakukan amal itu sendiri. Amal yang dilakukan dengan ikhlas 10 tahun lalu bisa gugur seketika jika di kemudian hari diungkapkan kembali demi kesombongan atau pujian.
      • Definisi Ikhlas: Beramal tanpa ada keinginan untuk dipuji oleh siapa pun selain Allah SWT.
      • Faktor-faktor Penentu Kualitas Amal: Niat/tujuan perbuatan, ketepatan waktu membantu, tempat, kontinuitas/istiqamah, pergaulan yang baik, kedisiplinan dan kerapian manajemen, wawasan jangka panjang, serta penentuan skala prioritas dan efisiensi.

Ayat 3 & 4: Keteraturan Alam Semesta dan Anjuran Tadabur

{ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِى خَلْقِ ٱلرَّحْمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٍ ۖ فَٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ} – {ثُمَّ ٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ ٱلْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ}

  • Kesempurnaan Ciptaan Allah:
    Allah menciptakan tujuh lapis langit yang bertingkat dan penuh keharmonisan.
    Dalam ciptaan Allah, tidak ada ketidakseimbangan, pertentangan, maupun cacat (min tafawut / min futur).
  • Perintah Pengamatan Berulang (Farji’il Bashar):
    Manusia diminta untuk memandang dan meneliti ciptaan Allah secara berulang kali dengan tadabur.
    Sejauh mana pun manusia meneliti, matanya hanya akan kembali dalam keadaan lelah dan takjub tanpa menemukan kekurangan sedikit pun.
  • Contoh Keagungan Ciptaan:
    • Semut (Pelajaran dari Imam Ali AS):
      Tubuh semut yang sangat kecil memiliki seluruh sistem kesempurnaan—pendengaran, penglihatan, jaringan otot, pencernaan, hingga sistem otak yang mampu berkomunikasi dan mencari rezeki.
    • Janin & Angkasa Raya:
      Luangkan waktu (misalnya 1 jam sehari) untuk mempelajari rahasia pertumbuhan janin atau keagungan alam semesta agar hati sampai pada rasa kagum dan pengagungan kepada Sang Pencipta.
  • Mukjizat Al-Qur’an & Otokritik bagi Saintis:
    • Al-Qur’an sejak ribuan tahun lalu telah mengajak manusia melakukan observasi dan kajian ilmiah.
    • Perkembangan ilmu pengetahuan membuktikan bahwa manusia hanyalah penemu (discoverer) hukum-hukum alam yang sudah diciptakan Allah.
      Manusia tidak memiliki sumbangsih dalam menciptakan satu sel atau satu atom pun.
      Oleh karena itu, semakin banyak menemukan rahasia alam, seseorang seharusnya semakin bertambah rendah hati dan takzim kepada Allah, bukan semakin sombong.

Ayat 5: Hiasan Langit Dunia dan Renung Cakrawala

{وَلَقَدْ زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱลดُّنْيَا بِمَصَٰبِيحَ وَجَعَلْنَٰهَا رُجُومًا لِّلشَّيَٰطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ}

  • Hiasan Langit & Pelempar Setan:
    Allah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang (mashabih) yang indah, menjadikannya sebagai pelempar bagi setan-setan, serta menyediakan azab neraka yang menyala-nyala bagi mereka.
  • Renung Cakrawala:
    Diperlukan waktu untuk duduk atau berbaring sejenak di bawah langit malam yang cerah untuk mengamati bintang-bintang dan keagungan alam ciptaan Allah.
    Dengan merenungi hiasan ciptaan Allah di langit, manusia akan menyadari betapa kecil dirinya di hadapan keagungan Allah SWT.

AB Tafsir Surat Al Mulk Ayat 1–5

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us