22 October 2026

1. Pendahuluan & Konteks Pembahasan

Pembahasan ini merupakan kelanjutan dari kajian sebelumnya (ayat 84–90).
Pada ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa orang-orang musyrik sebenarnya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta bumi dan langit, namun mereka tetap menolak beriman kepada Rasulullah SAW serta tidak memercayai kehidupan setelah kematian.

2. Ayat 91–92: Ketauhidan dan Pembuktian Rasional Ketiadaan Tuhan Lain

  • Tafsir Ayat 91–92:
    Allah tidak mengambil anak dan tidak ada tuhan lain bersama-Nya (Mātakhadzallāhu min walad wa mā kāna ma’ahū min ilāh).
  • Argumen Rasional Ketiadaan Banyak Tuhan:
    • Jika ada lebih dari satu tuhan, setiap tuhan akan membawa dan membanggakan ciptaannya masing-masing (idzan ladzahaba kullu ilāhim bimā khalaq).
    • Akan terjadi persaingan di mana satu tuhan berusaha mengungguli tuhan yang lain (wa la’alā ba’dhuhum ‘alā ba’dh).
    • Analogi Pengaturan:
      1. Kapal yang dikendalikan dua nahkoda tidak akan berjalan jika satu ingin berbelok ke kanan dan satu lagi ke kiri.
      2. Jika Tuhan A ingin matahari terbit dari barat sedangkan Tuhan B ingin terbit dari timur pada saat yang sama, timbul kontradiksi yang tidak mungkin terjadi.
      3. Jika Tuhan A ingin seseorang wafat di usia 70 tahun sedangkan Tuhan B ingin memanjangkan umurnya, atau Tuhan A ingin mematikan dan Tuhan B ingin menghidupkan pada saat bersamaan, tatanan kehidupan akan hancur.
    • Teraturnya alam semesta tanpa keterbelahan membuktikan bahwa Pengaturnya hanyalah Satu Tuhan.
    • Ayat ini ditutup dengan penegasan: Subḥānallāhi ‘ammā yaṣifūn (Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan) dan ‘Ālimil-ghaibi wasy-syahādati fa-ta’ālā ‘ammā yusyrikūn (Maha Mengetahui yang gaib dan yang tampak).

3. Ayat 93–95: Doa Rasulullah dan 5 Alasan Penundaan Azab

  • Tafsir Ayat 93–95:
    Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk berdoa: Rabbi immā turiyannī mā yū’adūn, Rabbi falā taj’alnī fil-qaumiẓ-ẓālimīn.
    Jika azab diturunkan kepada orang zalim, beliau memohon agar tidak dijadikan bagian dari orang-orang zalim tersebut hingga dibinasakan.
  • 5 Alasan Mengapa Allah Menunda Azab di Dunia:
    1. Sifat Rahman dan Rahim Allah:
      Memberi kesempatan waktu kepada pelaku kejahatan agar dapat menyesal dan bertobat.
    2. Sempurnanya Hujah (Idmāmul-Ḥujjah):
      Menunggu sampai kebenaran terpapar secara gamblang sehingga penolakan mereka menjadi bukti utuh pengingkaran.
    3. Lahirnya Keturunan Saleh:
      Dari para penentang tersebut, kelak akan lahir anak keturunan yang beriman dan saleh.
    4. Keberadaan Fisik Rasulullah SAW:
      Keberadaan Rasulullah di tengah umat menjadi penghalang diturunkannya azab pembinasa secara langsung sebagai bentuk penghormatan Allah kepada beliau.
    5. Menyempurnakan Kejahatan/Dosa (Liyaizdādū Itsmā):
      Membiarkan pelaku kezaliman menyempurnakan dosanya hingga titik puncak agar mendapat azab yang menghinakan.
      Hal ini merujuk pada ucapan Sayyidah Zainab AS kepada Ibnu Ziyad dengan mengutip QS. Ali Imran: 178.

4. Ayat 96–98: Akhlak Membalas Keburukan & Doa Perlindungan

  • Tafsir Ayat 96:
    Idfa’ billatī hiya aḥsanu as-sayyi’ah. Rasulullah SAW diperintahkan untuk menanggapi keburukan, ejekan, dan tuduhan penentang dengan cara yang paling baik.

    • Pelajaran Akhlak:
      Orang beriman tidak boleh menjadikan pelaku amoral sebagai gurunya (membalas hinaan dengan hinaan), melainkan harus membalas keburukan dengan kebaikan.
  • Tafsir Ayat 97–98:
    Ajaran doa perlindungan: Rabbi a’ūdtu bika min hamazātisy-syayāṭīn wa a’ūdtu bika Rabbi ay yaḥḍurūn.
    Doa ini berisi permohonan perlindungan dari bisikan/rayuan setan sekaligus dari kehadiran fisik para perayu atau pembisik kejahatan di dekat kita.

5. Ayat 99–100: Kematian dan Alam Barzakh

  • Tafsir Ayat 99–100:
    Saat kematian tiba (ḥattā idzā jā’a aḥadahumul-maut), para penentang tersadar dari kelalaian dan berteriak memohon: Rabbir-ji’ūn, la’allī a’malu ṣāliḥan fīmā taraktu
    (“Ya Tuhan, kembalikan aku ke dunia agar aku dapat berbuat amal saleh yang dulu aku tinggalkan”).
  • Penolakan Allah:
    Kallā innahā kalimatun huwa qā’iluhā wa miw warā’ihim barzakhun ilā yaumi yub’atsūn. Permohonan tersebut ditolak.
    Setelah kematian, manusia memasuki Alam Barzakh sampai hari kebangkitan tanpa ada kesempatan kedua untuk kembali ke dunia.

6. Ayat 101–103: Sangkakala, Putusnya Nasab, dan Timbangan Amal (Mawāzīn)

  • Tafsir Ayat 101:
    Fa-idżā nufikha fis-ṣūri falā ansāba bainahum yauma’idzin wa lā yatasā’alūn.
  • Dua Tiupan Sangkakala:
    1. Tiupan Pertama: Mengakhiri periode dunia dan mematikan seluruh makhluk.
    2. Tiupan Kedua: Membangkitkan seluruh manusia dari kubur untuk menghadapi penghitungan amal.
  • Putusnya Hubungan Nasab:
    • Di hari kiamat, hubungan nasab, kekeluargaan, maupun kesukuan tidak lagi berlaku untuk menyelamatkan seseorang dari hukuman.
    • Kutipan Riwayat: Imam Ali Zainal Abidin menyatakan Allah menciptakan surga bagi orang yang taat walaupun budak Habasyah, dan neraka bagi yang bermaksiat walaupun sayyid Quraisy.
    • Kutipan Riwayat Imam Ja’far As-Sadiq: Keterikatan wilayah (ketaatan ajaran) lebih substansial daripada sekadar hubungan nasab tanpa wilayah.
    • Meskipun nasab tidak berlaku sebagai ukuran keselamatan di kiamat, menghormati żurriyah (keturunan) Nabi di dunia tetap dituntut sebagai bentuk etika dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.
  • Makna Wa Lā Yatasā’alūn (Tidak Saling Sapa):
    • Pada awal kebangkitan, manusia diliputi rasa takut yang luar biasa sehingga tidak sempat memikirkan atau menyapa orang lain. Kondisi ini digambarkan seperti ibu menyusui yang melupakan anaknya dan wanita hamil yang gugur kandungannya.
    • Tegur sapa yang disebutkan pada ayat lain terjadi setelah nasib akhir mereka jelas (apakah berada di surga atau neraka).
  • Tafsir Ayat 102–103 (Timbangan Amal / Mawāzīn):
    • Famān tsaqulat mawāzīnuhū fa-ulā’ika humul-mufliḥūn: Barang siapa yang berat timbangan amal baiknya, mereka itulah orang yang beruntung.
    • Wa man khaffat mawāzīnuhū…: Barang siapa yang ringan timbangan amalnya, mereka merugi dan kekal di neraka Jahannam.
    • Rasulullah SAW dan para Imam Suci menjadi tolak ukur (mawāzīn) keridaan dan keimanan.

7. Ayat 104–111: Keadaan Ahli Neraka, Dialog Penyesalan, dan Penolakan

  • Tafsir Ayat 104–105:
    • Wajah ahli neraka terbakar hingga buruk rupa (kālihūn – bibir terbalik dan gigi menonjol).
    • Alasan azab ditegaskan: Alam takun āyātī tutlā ‘alaikum… (karena di dunia ayat-ayat Allah dibacakan berulang-ulang namun mereka abaikan dan mendustakannya).
  • Tafsir Ayat 106–108:
    • Ahli neraka mengakui kesalahan mereka: Rabbanā ghalabat ‘alainā syiqwatunā wa kunnā qauman ḍāllīn.
    • Mereka memohon agar dikeluarkan dari neraka: Rabbanā akhrijnā minhā fa-in ‘udnā fa-innā ẓālimūn.
    • Allah menolak permohonan tersebut dengan firman yang keras: Qāla ikhsa’ū fīhā wa lā tukallimūn (“Menjauhlah/terusirlah kamu di dalam neraka dan jangan berbicara lagi dengan-Ku”).
  • Tafsir Ayat 109–111:
    • Kontras dengan hamba-hamba mukmin yang sewaktu di dunia selalu berdoa memohon ampunan: Rabbanā āmannā faghfirlanā warḥamnā wa anta khairur-rāḥimīn.
    • Orang-orang kafir sewaktu di dunia sibuk mengolok-olok (sikhriyyan) dan menertawakan orang beriman.
    • Pada hari kiamat, kesabaran orang-orang beriman dibalas dengan kemenangan dan surga (Inni jazaituhumul-yauma bimā ṣabarū annahum humul-fā’izūn).

8. Ayat 112–115: Kesadaran Singkatnya Dunia & Tujuan Penciptaan

  • Tafsir Ayat 112–114:
    Allah menanyakan berapa lama mereka tinggal di bumi (Kam labitstum fil-arḍi ‘adada sinīn?).
    Penghuni neraka menyadari bahwa hidup di dunia sangat singkat, hanya terasa seperti sehari atau setengah hari (Labiṡnā yauman au ba’ḍa yaum).
  • Tafsir Ayat 115:
    A-fa-ḥasibtum annamā khalaqnākum ‘abaṡaw wa annakum ilainā lā turja’ūn?
    (Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main/sia-sia dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?).
  • 4 Tujuan Penciptaan Manusia:
    1. Untuk menghamba dan beribadah kepada Allah (Liya’budūn).
    2. Untuk menguji mana di antara manusia yang terbaik amalnya (Liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā).
    3. Untuk mengenal Allah (Liya’rifūhu) sebagaimana dijelaskan oleh Imam Husain AS.
    4. Untuk meraih rahmat dan kebahagiaan abadi di surga.
    • Dunia hanyalah sarana/perantara menuju akhirat dan tidak diciptakan untuk dirinya sendiri.

9. Ayat 116–118: Keagungan Allah, Arasy, dan Penutup Surat

  • Tafsir Ayat 116:
    Fa-ta’ālallāhul-malikul-ḥaqqu lā ilāha illā huwa rabbul-‘arsyil-karīm.
    Allah adalah Raja yang Hakiki, Pemilik ‘Arasy yang mulia (pusat komando dan pengaturan alam semesta).
  • Tafsir Ayat 117:
    Wa may yad’u ma’allāhi ilāhan ākhara… innahū lā yufliḥul-kāfirūn.

    • Surat Al-Mu’minun dibuka dengan keberuntungan orang beriman (Qad aflaha al-mu’minūn) dan ditutup dengan penegasan kerugian orang-orang kafir/zalim (Lā yufliḥul-kāfirūn).
  • Tafsir Ayat 118:
    Wa qur Rabbi ghfir warḥam wa anta khairur-rāḥimīn.

    • Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk memohon ampunan dan rahmat. Jika manusia suci/maksum seperti Nabi diminta memohon ampunan, tentu manusia biasa lebih membutuhkan doa tersebut.
    • Etika berdoa: Diawali dengan memuji dan mengagungkan Allah sebelum menyampaikan permohonan.

AB Ringkasan Tafsir Surat Al Mu minun 91

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us