SYARAH DOA KUMAIL
Bagian 4 dari 100
Setelah mengajarkan rahmat, kekuatan, dan kemuliaan Allah, Doa Kumail membawa kita kepada persoalan tauhid yang sangat halus: bagaimana keagungan Allah memenuhi segala sesuatu, sedangkan Dia tidak bertempat, tidak bersemayam di dalam makhluk, dan tidak menyerupai apa pun.
Teks Doa Kumail
> وَبِعَظَمَتِكَ الَّتِي مَلَأَتْ كُلَّ شَيْءٍ
وَبِسُلْطَانِكَ الَّذِي عَلَا كُلَّ شَيْءٍ
Wa bi‘aẓamatika allatī mala’at kulla syay’, wa bisulṭānika alladzī ‘alā kulla syay’.
“Dan dengan keagungan-Mu yang memenuhi segala sesuatu; dan dengan kekuasaan-Mu yang mengatasi segala sesuatu.”
Tema utama
Keagungan Allah memenuhi segala sesuatu tanpa Allah menjadi bagian dari sesuatu. Dia dekat tanpa menempati ruang dan Mahatinggi tanpa berada pada suatu arah.
Kalimat “keagungan-Mu memenuhi segala sesuatu” tidak boleh dibayangkan sebagaimana air memenuhi gelas atau udara memenuhi ruangan.
Allah adalah pencipta ruang; mustahil Dia membutuhkan ruang yang diciptakan-Nya.
Allah adalah pencipta ruang; mustahil Dia membutuhkan ruang yang diciptakan-Nya.
Yang memenuhi segala sesuatu adalah tanda keagungan, ilmu, kekuasaan, pengaturan, dan pemeliharaan-Nya.
Tidak ada satu bagian pun dari keberadaan yang terlepas dari pengetahuan dan kekuasaan Allah. Namun Allah tetap berbeda dari seluruh ciptaan-Nya.
Tidak ada satu bagian pun dari keberadaan yang terlepas dari pengetahuan dan kekuasaan Allah. Namun Allah tetap berbeda dari seluruh ciptaan-Nya.
Inilah keseimbangan tauhid Ahlul Bait: Allah tidak jauh sehingga manusia kehilangan kedekatan dengan-Nya, tetapi juga tidak ditempatkan di dalam benda, arah, atau ruang sehingga diserupakan dengan makhluk.
Al-Qur’an
1. QS Al-Hadid 57:4
> وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dia bersama kamu di mana pun kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Kebersamaan Allah bukan kebersamaan dua tubuh dalam satu tempat. Ayat ini sendiri menghubungkannya dengan pengetahuan Allah: “Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Tidak ada tempat yang berada di luar ilmu, kekuasaan, dan pemeliharaan-Nya. QS Al-Hadid 57:4
Tidak ada tempat yang berada di luar ilmu, kekuasaan, dan pemeliharaan-Nya. QS Al-Hadid 57:4
2. QS Asy-Syura 42:11
> لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Ayat ini menutup pintu penyerupaan. Ketika Al-Qur’an menyebut wajah, tangan, kedekatan, ketinggian, atau kebersamaan Allah, semuanya harus dipahami dalam kesucian-Nya dari bentuk dan sifat makhluk. QS Asy-Syura 42:11
3. QS Al-An‘am 6:103
> لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Penglihatan tidak dapat menjangkau-Nya, sedangkan Dia menjangkau seluruh penglihatan. Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui.”
Allah meliputi penglihatan, tetapi penglihatan tidak dapat meliputi-Nya. Dia hadir tanpa menjadi objek yang dapat dibatasi oleh mata, bentuk, ukuran, dan arah. QS Al-An‘am 6:103
Riwayat Ahlul Bait
Al-Kulaini meriwayatkan dari Abu Bashir bahwa Imam Ja‘far ash-Shadiq as bersabda:
> مَنْ زَعَمَ أَنَّ اللَّهَ مِنْ شَيْءٍ أَوْ فِي شَيْءٍ أَوْ عَلَى شَيْءٍ فَقَدْ كَفَرَ
“Barang siapa menganggap Allah berasal dari sesuatu, berada di dalam sesuatu, atau ditopang oleh sesuatu, sungguh ia telah mengingkari hakikat tauhid.”
Ketika diminta menjelaskan, Imam menerangkan bahwa jika Allah berasal dari sesuatu, berarti ada sesuatu yang mendahului-Nya; jika berada di dalam sesuatu, berarti Dia dibatasi; dan jika berada di atas sesuatu dalam pengertian fisik, berarti Dia membutuhkan sesuatu yang menopang-Nya. Al-Kafi, Kitab Tauhid, Bab Gerak dan Perpindahan, hadis 9
Catatan transmisi:
Riwayat ini dicantumkan dengan sanad dalam Al-Kafi. Syekh Muhammad Asif Muhsini memasukkannya ke dalam Mu‘jam al-Ahadits al-Mu‘tabarah dan menilainya mu‘tabar.
Istilah “kufur” dalam konteks ini menjelaskan rusaknya konsepsi ketuhanan karena menjadikan Allah terbatas seperti makhluk; ia tidak boleh sembarangan dijadikan dasar menuduh individu tertentu kafir tanpa pembahasan akidah yang memadai.
Penilaian riwayat
Istilah “kufur” dalam konteks ini menjelaskan rusaknya konsepsi ketuhanan karena menjadikan Allah terbatas seperti makhluk; ia tidak boleh sembarangan dijadikan dasar menuduh individu tertentu kafir tanpa pembahasan akidah yang memadai.
Penilaian riwayat
Dalam khotbah yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as terdapat rumusan yang sangat indah:
> مَعَ كُلِّ شَيْءٍ لَا بِمُقَارَنَةٍ، وَغَيْرُ كُلِّ شَيْءٍ لَا بِمُزَايَلَةٍ
“Dia bersama segala sesuatu, tetapi bukan melalui persandingan; dan Dia berbeda dari segala sesuatu, tetapi bukan melalui keterpisahan.”
Nahj al-Balaghah, Khotbah 1
Catatan atribusi:
Nahj al-Balaghah tidak menampilkan sanad lengkap bagi setiap khotbah. Karena itu, rumusan ini secara akademis lebih hati-hati disebut “dinisbatkan kepada Imam Ali as,” meskipun kandungannya sangat masyhur dalam teologi Ahlul Bait dan selaras dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an.
Kerangka pembahasan
1. Makna keagungan Allah yang “memenuhi segala sesuatu.”
2. Allah menciptakan ruang sehingga tidak mungkin dibatasi oleh ruang.
3. Kedekatan Allah adalah kedekatan ilmu, kuasa, dan pemeliharaan—bukan jarak fisik.
4. Perbedaan antara tanzih—menyucikan Allah—dan tasybih—menyerupakan-Nya dengan makhluk.
5. Allah melampaui seluruh ciptaan, tetapi tidak pernah absen dari kehidupan manusia.
6. Kesadaran akan kehadiran Allah melahirkan ketenangan sekaligus rasa malu untuk bermaksiat.
Pembuka yang dapat dikembangkan
Kalimat ini mudah diucapkan, tetapi tidak boleh dibayangkan secara sembarangan:
> “Dengan keagungan-Mu yang memenuhi segala sesuatu.”
Ketika mendengar kata “memenuhi”, pikiran manusia segera membayangkan air yang memenuhi bejana, udara yang memenuhi ruangan, atau cahaya yang memasuki rumah melalui jendela.
Namun Allah bukan benda. Dia tidak mempunyai ukuran, tidak bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak membutuhkan ruang untuk berada.
Namun Allah bukan benda. Dia tidak mempunyai ukuran, tidak bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak membutuhkan ruang untuk berada.
Ruang justru ada karena diciptakan-Nya.
Karena itu, ketika Doa Kumail menyatakan bahwa keagungan Allah memenuhi segala sesuatu, bukan berarti Zat Allah menyatu dengan alam. Langit bukan Allah. Bumi bukan Allah.
Manusia bukan serpihan dari Zat Allah. Pencipta tetaplah Pencipta dan ciptaan tetaplah ciptaan.
Manusia bukan serpihan dari Zat Allah. Pencipta tetaplah Pencipta dan ciptaan tetaplah ciptaan.
Namun tidak ada satu pun ciptaan yang dapat berdiri tanpa-Nya.
Setiap daun yang jatuh berada dalam pengetahuan-Nya. Setiap jantung yang berdenyut berlangsung dengan izin-Nya.
Setiap tangisan yang disembunyikan dari manusia telah lebih dahulu diketahui-Nya. Bahkan kegelisahan yang belum sanggup diterjemahkan menjadi kata telah hadir sepenuhnya di hadapan-Nya.
Setiap tangisan yang disembunyikan dari manusia telah lebih dahulu diketahui-Nya. Bahkan kegelisahan yang belum sanggup diterjemahkan menjadi kata telah hadir sepenuhnya di hadapan-Nya.
Allah tidak menempati ruang, tetapi tidak ada ruang yang berada di luar kekuasaan-Nya.
Allah tidak berada di dalam hati sebagai sesuatu yang bertempat, tetapi tidak ada rahasia hati yang tersembunyi dari-Nya.
Allah tidak berdiri di samping kita seperti seorang manusia menemani manusia lain, tetapi tidak ada seorang pun yang lebih dekat, lebih mengetahui, dan lebih memahami keadaan kita daripada Dia.
Inilah kedekatan yang tidak dapat diukur dengan jarak.
Amirul Mukminin Ali as merumuskannya dengan sangat indah: Dia bersama segala sesuatu, tetapi bukan melalui persandingan; berbeda dari segala sesuatu, tetapi bukan melalui keterpisahan. Allah begitu dekat tanpa menyatu dan begitu tinggi tanpa menjauh.
Jika kita hanya menekankan ketinggian-Nya, Allah dapat terasa seperti gagasan yang jauh—disebut oleh lidah, tetapi tidak dirasakan oleh hati. Sebaliknya, jika kedekatan-Nya dibayangkan secara fisik, kita telah menurunkan Tuhan menjadi sesuatu yang memiliki tempat dan batas.
Ahlul Bait menjaga kita dari kedua kesalahan itu.
Mereka mengajarkan Allah yang Mahasuci dari segala penyerupaan, tetapi juga lebih dekat daripada seluruh yang kita anggap dekat. Allah tidak dapat dipeluk oleh tangan, tetapi kepada-Nya hati dapat bersandar. Dia tidak terlihat oleh mata, tetapi jejak pemeliharaan-Nya hadir pada setiap detik kehidupan.
Kesadaran ini melahirkan dua keadaan sekaligus.
Pertama, ketenangan. Tidak ada tempat di mana seorang hamba benar-benar sendirian. Ketika semua manusia pergi, Allah tidak datang dari kejauhan untuk menemaninya; sejak awal Dia tidak pernah meninggalkannya.
Kedua, rasa malu. Kita mungkin dapat menutup pintu dari pandangan manusia, menghapus jejak, menyembunyikan kesalahan, dan menyusun alasan. Namun kita tidak pernah dapat keluar dari pengetahuan Allah.
Doa Kumail kemudian mengubah pembahasan tauhid menjadi pengalaman batin. Ia tidak sekadar mengajarkan di mana Allah tidak berada.
Ia menyadarkan bahwa tidak ada satu saat pun dalam hidup kita yang berlangsung tanpa kehadiran ilmu, kuasa, rahmat, dan pemeliharaan-Nya.
Ia menyadarkan bahwa tidak ada satu saat pun dalam hidup kita yang berlangsung tanpa kehadiran ilmu, kuasa, rahmat, dan pemeliharaan-Nya.
Kita sering merasa Allah jauh bukan karena Dia meninggalkan kita.
Kitalah yang hadir di hadapan-Nya tanpa menghadirkan hati.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1FJiAJvN87/

