Tadabbur Al Qur’an (Ayat 13-27 Surah Yasin) Tanggung Jawab Dakwah (Bag. 1)
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Tadabbur Surah Yasin (Ayat 13-31)
Dalam majelis ini berfokus pada tanggung jawab dakwah dan kisah kaum terdahulu.
Surah Yasin dipandang sebagai jantung Al-Qur’an (qolbun Quran) dengan kandungan inti menjelaskan tentang kenabian dan kebenaran Al-Qur’an.
Kisah-kisah penentangan kaum kafir terdahulu di dalam surah ini diturunkan sebagai penghibur hati (tasliyah) bagi Rasulullah dan kaum mukminin, sekaligus menjadi peringatan keras bagi para penentang dakwah.
Konsep dan Identitas Ashab al-Qaryah
Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan kisah penduduk suatu negeri (Ashab al-Qaryah) sebagai pelajaran bagi kaum kafir Quraisy agar mereka tidak mengalami kebinasaan yang sama.
Kata qaryah di sini merujuk pada wilayah pemukiman berpenghuni yang relatif luas atau sebuah kota, bukan sekadar desa sempit, karena pada ayat berikutnya wilayah ini disebut juga sebagai al-madinah (kota).
Sebagian riwayat menyebutkan kota tersebut adalah Antokiah (Antioch) yang kini berada di wilayah Turki.
Namun, para ulama menegaskan bahwa detail geografis serta nama para utusan tidak disebutkan secara eksplisit oleh Allah karena yang paling penting untuk difokuskan adalah pelajaran (ibrah) dari peristiwa tersebut.
Kedatangan Tiga Utusan Allah
Kisah ini menceritakan tentang datangnya dua utusan Allah yang langsung didustakan dan ditolak oleh penduduk kota tersebut.
Allah kemudian memperkuat dakwah mereka dengan mengirimkan utusan ketiga.
Sebagian pendapat menyatakan bahwa ketiga utusan ini adalah murid-murid Nabi Isa (seperti Paulus, Barnabas, dan Simon), tetapi pendapat lain yang lebih kuat menegaskan bahwa mereka adalah rasul-rasul yang langsung diutus oleh Allah.
Hal ini didukung oleh redaksi ayat di mana para utusan menegaskan status mereka sebagai utusan Allah kepada kaum musyrik tersebut.
Argumen Penolakan Kaum Kafir
Penduduk kota menolak dakwah para utusan dengan dua alasan utama:
- Keberatan atas Sifat Manusiawi Utusan:
Mereka menyatakan bahwa utusan Allah tidak mungkin merupakan manusia biasa seperti mereka (“Ma antum illa basyarun misluna”).
Penentangan semacam ini selalu berulang dalam sejarah nabi-nabi, di mana kaum kafir menuntut agar utusan tersebut berasal dari kalangan malaikat.
(Al-Qur’an di ayat lain menjelaskan bahwa pembimbing manusia haruslah manusia agar bisa dicontoh, sebab manusia tidak akan sanggup meniru malaikat yang tidak memiliki kapasitas maksiat). - Penolakan terhadap Konsep Wahyu:
Mereka mengklaim bahwa Allah yang Maha Pengasih (Ar-Rahman) tidak pernah menurunkan wahyu apa pun kepada manusia. Penggunaan nama Ar-Rahman digunakan oleh mereka untuk berdalil secara keliru bahwa Tuhan yang Maha Baik tidak mungkin membebani (taklif) manusia dengan perintah ibadah yang menyulitkan kebebasan hidup mereka.
Mereka pun menuduh para utusan tersebut sedang berbohong.
Sikap dan Tanggapan para Utusan
Menghadapi penolakan tersebut, para utusan tidak memilih untuk berdebat kusir mencari pembenaran atau dukungan, melainkan menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui kebenaran tugas mereka.
Hal ini memberikan pelajaran hidup bahwa tugas setiap manusia adalah menjalankan tanggung jawab kewajibannya, tanpa harus terbebani oleh apakah orang lain mau menerima kehadirannya atau tidak.
Kewajiban para utusan hanyalah menyampaikan dakwah dengan jelas (Al-balagul mubin) yang disertai bukti-bukti nyata (mukjizat).
Eskalasi Ancaman dan Logika Kekerasan
Karena kalah dalam kekuatan logika dan hujah kokoh yang dibawa para utusan, penduduk kota mulai beralih menggunakan logika kekerasan dan ancaman.
Mereka menuduh kehadiran para utusan membawa kesialan atau petaka bagi kota mereka (“Inna tathayyarnā bikum”).
Mereka mengancam akan merajam (melempar batu sampai mati) dan menyiksa para utusan dengan pedih jika dakwah tersebut tidak segera dihentikan.
Para utusan membalas bahwa kesialan yang sesungguhnya ada pada diri penduduk itu sendiri akibat kemusyrikan dan penolakan mereka saat diberi peringatan.
Akar Utama Pembangkangan
Bagian pertama kisah ini diakhiri dengan penegasan bahwa sikap kasar dan penolakan penduduk kota tersebut disebabkan oleh pola hidup mereka yang melampaui batas (“Bal antum qawmum musrifun”).
Kehidupan yang terlalu tenggelam dalam kenikmatan dunia, kekuasaan, dan tindakan menindas telah menjadi titik hitam yang menutup pikiran serta hati mereka dari kebenaran.
Kisah bagian pertama ini ditutup dengan situasi di mana dakwah tiga utusan tersebut dihadapi dengan penentangan keras serta ancaman pembinasaan.

Judul video: Tadabbur Al Qur’an (Ayat 13-27 Surah Yasin) Tanggung Jawab Dakwah (Bag. 1) – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:

Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






