Seri 14 – Filsafat Islam & Tassawuf | Ini Kekuatan Maknawi Manusia
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Meluruskan Esensi Sholat dan Mengendalikan Daya Jiwa
1. Sabar dan Hakikat Menegakkan Sholat
Kajian diawali dengan penekanan pada pentingnya kesabaran dalam Islam, di mana salah satu makna sabar dalam Al-Qur’an adalah Sholat.
Sholat merupakan perkara besar (lakabiratun) yang wajib ditegakkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Perintah Allah untuk “menegakkan Sholat” (aqimu sholah), bukan sekadar “melakukan Sholat”, menandakan bahwa ibadah ini adalah sesuatu yang berat.
Jika Sholat hanya diartikan sebatas gerakan fisik dari takbir hingga salam, kata “menegakkan” hanya cocok bagi pemula yang baru belajar.
Bagi mereka yang sudah terbiasa, Sholat akan terasa sangat ringan.
Oleh karena itu, esensi dari menegakkan Sholat yang sesungguhnya adalah melaksanakan ritual fisik tersebut sekaligus mengaplikasikan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, ketika mengucapkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar), seseorang harus menyadari bahwa Allah lebih besar dari apa pun, sehingga ia selalu mengikuti arahan Allah dalam berpikir, bekerja, maupun berbisnis.
2. Keuletan dan Tolok Ukur Golongan Manusia
Kesabaran juga berarti keuletan, yaitu sikap lapang dada dalam menghadapi masalah tanpa menyerah, serta berusaha menyelesaikannya secara berkesinambungan.
Keuletan ini sangat berkaitan dengan bagaimana manusia mengendalikan syahwatnya:
- Jika seseorang tidak termasuk dalam golongan yang mampu mengekang syahwat (daya lezat), tingkat kesabaran dan keuletannya akan sangat tipis.
- Jika tolok ukur hidup seseorang adalah kebenaran—bukan sekadar mencari status halal, kekayaan, atau banyaknya pengikut—ia akan membatasi dirinya pada kebutuhan minimal dan memanfaatkan sisanya untuk kepentingan akhirat.
Golongan ini memiliki keuletan yang jauh lebih besar.
Sebagai perbandingan, mubalig golongan kedua (yang mengandalkan asal halal dan disukai orang) cenderung hanya menyampaikan ayat atau riwayat yang membuat pengikutnya senang agar mereka tidak pergi, serta menghindari tema sensitif seperti korupsi atau khumus.
Sebaliknya, mubalig golongan ketiga yang berpatokan pada kebenaran akan menyampaikan apa yang diinginkan Allah secara tepat sesuai ilmu dan situasi masyarakat. Keuletan dan kesabaran inilah modal utama untuk menjadi hamba Allah yang hakiki.
3. Pendalaman Daya Lezat (Daya Pertama)
Setiap manusia dibekali daya lezat yang secara alami cenderung melampiaskan keinginan terkait makanan (perut) dan birahi.
Daya ini diciptakan Allah murni untuk menyalurkan dan mencari kelezatan materi, bukan untuk memilih mana yang halal atau haram.
Penilaian halal dan haram dikontrol oleh dimensi lain, yaitu akal.
Berdasarkan kontrol akal terhadap daya lezat, manusia terbagi menjadi tiga golongan:
- Golongan Pertama (Menghamburkan):
Akalnya tumpul atau tidak digunakan sama sekali, sehingga melampiaskan daya lezat tanpa memedulikan batasan halal atau haram. - Golongan Kedua (Membatasi pada Halal):
Menggunakan akal untuk membatasi penyaluran daya lezat agar hanya berada pada hal-hal yang dihalalkan saja. - Golongan Ketiga (Memaksimalkan Akal):
Menggunakan akal secara maksimal dengan memahami tujuan Allah menciptakan daya lezat tersebut (seperti untuk kesehatan dan kesinambungan keturunan agar dapat beribadah), lalu membatasi penggunaannya hanya pada batas minimal keperluan.
4. Memahami Daya Wahmi (Daya Kedua)
Daya wahmi sering kali disalahartikan sebagai daya khayal yang menipu, padahal daya ini tidak selalu menipu atau berkhayal pada hal yang batil.
Daya wahmi adalah kekuatan dalam ruh manusia yang bertugas untuk memahami hal-hal yang bersifat non-materi (maknawi) seperti cinta, benci, kesantunan, kebahagiaan, dan kemarahan.
Untuk bekerja, daya wahmi membutuhkan perangkat berupa data di dalam akal manusia, baik berupa informasi, konsep (tasawwur), maupun “fotokopi” hasil tangkapan panca indra (warna, suara, rasa, benda, dll.). Data ini terbagi menjadi:
- Data Tunggal:
Contohnya warna merah saja atau rasa manis saja. - Data Rangkap:
Gabungan beberapa data, yang bisa berbentuk rangkaian belum sempurna (seperti “air dingin”) maupun rangkaian sempurna/proposisi (seperti “air itu dingin” atau kalimat tanya/perintah).
Cara kerja daya wahmi adalah merangkai data tunggal menjadi rangkap (misalnya menggabungkan konsep “emas” dan “gunung” menjadi “gunung emas”) atau mengurai data rangkap menjadi tunggal.
Daya wahmi tidak memiliki kemampuan untuk menilai benar-salah atau halal-haram; tugasnya murni hanya merangkai dan mengurai.
Karena bekerja tanpa batas dan tidak memedulikan nilai kebenaran, kecenderungan daya wahmi ini disebut bersifat “syaitoniha”.
Oleh karena itu, akal bertugas mengontrol daya wahmi agar perangkaian atau penguraian yang dilakukannya selalu berlandaskan dalil akal maupun dalil agama.
Memahami dan mengendalikan daya wahmi ini menjadi kunci penting dalam kajian logika untuk menata serta menyempurnakan akhlak manusia.

Bersama Ustadz Hasan Abu Ammar
Judul video: Seri 14 – Filsafat Islam & Tassawuf | Ini Kekuatan Maknawi Manusia – Watch on Youtube
Yuk Subscribe Channel ITRAH Institut Official:

Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






