Pada diri manusia ada ruh dan ruh ini bersifat non-materi. Ilmu dan pengetahuan yang kita peroleh atau amal-amal perbuatan yang kita lakukan misalnya, bukanlah tersimpan di otak (jasmani) tapi pada hakikatnya tersimpan di dalam ruh / jiwa manusia.
Kalau begitu, apa buktinya bahwa ruh manusia itu non-materi? Berikut ini beberapa bukti gamblang yang cukup mudah dipahami akal tentang adanya ruh ini pada manusia dan ruh tersebut hakikat keberadaannya adalah non-materi.
Silakan simak uraian kajian dari Hujjatul Islam wal Muslimin, Al Ustadz Hasan Abu Ammar.
Latar Belakang
Kajian ini merupakan kelanjutan dari majelis sebelumnya (ke-5) yang membahas argumentasi filosofis mengenai sifat non-materi (kenonmaterialan) dari ruh manusia.
Setelah sebelumnya memaparkan argumen pertama mengenai kemampuan ruh menerima berbagai macam esensi spesifik (spesies), video ini melanjutkan pembuktian melalui argumen kedua hingga kelima.
Argumen Kedua: Kemampuan Ruh Menerima Berbagai Bentuk Matematis secara Simultan
- Sifat Materi:
Materi fisik memiliki keterbatasan di mana ia tidak dapat menerima lebih dari satu bentuk matematis pada saat yang bersamaan.
Sebagai contoh, adonan tanah lempung atau kayu yang sudah dibentuk menjadi bulat (bola) tidak dapat dibentuk menjadi segitiga atau kerucut pada saat yang bersamaan. - Sifat Ruh:
Sebaliknya, ruh manusia mampu memahami bentuk bulat, kerucut, dan bentuk-bentuk matematis lainnya secara sekaligus tanpa mengubah struktur fisik tubuh maupun otak manusia. - Kesimpulan:
Karena bentuk-bentuk tersebut dapat ditampung dalam jumlah banyak tanpa mengubah kondisi fisik organ tubuh, maka penyimpanan informasi bentuk tersebut tidak berada di otak atau bagian tubuh materi lainnya, melainkan di dalam ruh yang bersifat non-materi.
Argumen Ketiga: Ketidakberwarnaan Ruh Saat Menerima Warna
- Sifat Materi:
Ketika suatu materi fisik menerima warna baru, keadaan fisiknya akan berubah mengikuti warna tersebut.
Contohnya, kapas yang awalnya berwarna putih akan berubah menjadi merah secara fisik ketika kita mewarnainya dengan warna merah. - Sifat Ruh:
Ketika manusia memahami atau menerima esensi warna merah, kuning, biru, dan sebagainya, tubuh maupun otak manusia sama sekali tidak berubah menjadi warna-warna tersebut (otak tetap berwarna putih). - Kesimpulan:
Esensi warna disimpan di dalam ruh. Karena ruh mampu menerima berbagai macam warna tanpa dirinya sendiri ikut terpengaruh atau berubah menjadi berwarna, ini membuktikan bahwa ruh tidak memiliki warna dan bersifat non-materi.
Argumen Keempat: Kelezatan yang Bersifat Maknawi (Spiritual)
- Sifat Materi/Jasmani:
Banyak aktivitas yang dari sudut pandang fisik merupakan sebuah penderitaan.
Misalnya, menuntut ilmu membuat mata rabun karena banyak membaca, puasa menimbulkan rasa haus dan lapar, serta berzikir atau meneliti di tempat terpencil membuat tubuh kedinginan dan digigit nyamuk. Secara jasmani, semua ini adalah siksaan. - Sifat Ruh:
Di balik penderitaan fisik tersebut, manusia justru merasakan kelezatan, kenikmatan, dan kepuasan yang mendalam di dalam batinnya saat melakukan zikir, puasa, salat, maupun mencari ilmu. - Kesimpulan:
Kelezatan yang bertolak belakang dengan kenyamanan fisik ini tidak dapat dikategorikan sebagai kelezatan jasmani. Karena kelezatan ini bersifat maknawi (non-materi), maka tempat bernaungnya pun pastilah berada pada sesuatu yang non-materi, yaitu ruh manusia.
Argumen Kelima: Karakteristik Ilmu yang Non-Materi
Argumen ini menyoroti bahwa ruh adalah tempat ilmu pengetahuan, dan ilmu itu sendiri terbukti merupakan sesuatu yang non-materi melalui dua pembuktian:
- Ilmu Tidak Dapat Dibagi (Indivisibility):
- Objek materi di dunia nyata (seperti telur) dapat dipotong dan dibagi menjadi beberapa bagian fisik.
- Namun, konsep atau bayangan “telur” yang ada di dalam akal manusia tidak akan pernah bisa dibagi.
Jika kita membayangkan telur tersebut terbagi dua, konsep telur yang pertama tetap utuh di dalam akal kita, sementara bagian-bagian lainnya hanyalah bentuk khayalan baru yang diciptakan oleh kemampuan akal untuk mengurai dan menggabungkan. - Karena ilmu (konsep telur) tidak bisa dibagi, ia terbukti non-materi dan harus disimpan di dalam ruh (yang juga non-materi), sebab jika disimpan di otak yang bersifat materi, ilmu tersebut akan ikut terbagi saat otak terbagi.
- Masuknya Objek Besar ke dalam Wadah yang Kecil:
- Di dunia fisik, sangat mustahil memasukkan benda yang besar ke dalam wadah yang lebih kecil (misalnya, kereta api atau gunung tidak bisa dimasukkan ke dalam gelas atau digenggam tangan).
- Namun, manusia yang ukuran fisiknya kecil mampu memahami dan mengetahui objek-objek yang sangat besar (seperti tingginya pohon kelapa, besarnya gunung, bumi, hingga matahari) sesuai dengan dimensi aslinya.
- Pengetahuan ini tidak disimpan dalam bentuk “skala yang diperkecil” di dalam otak. Secara fitrah, ketika melihat pohon, kita langsung memahami ukuran aslinya tanpa sibuk menghitung rumus sudut atau skala matematis di dalam pikiran kita.
- Jika informasi objek raksasa tersebut disimpan di dalam otak fisik, otak manusia tentu akan meledak karena tidak mampu menampung kapasitasnya. Kemampuan menampung hal besar di dalam diri manusia yang kecil ini membuktikan adanya dimensi ruh non-materi yang tidak tunduk pada hukum ruang materi.
Kesimpulan Akhir
Kelima argumentasi filosofis ini secara akumulatif membuktikan secara logis dan akurat bahwa manusia memiliki ruh yang bersifat non-materi.
Pemahaman akan hakikat ruh ini bertujuan untuk memantapkan keyakinan batiniah (seperti keimanan dan keikhlasan) serta melahirkan sifat-sifat baik secara lahiriah (seperti ketakwaan dan ketawaduan).
Salah satu bentuk nyata dari ketawaduan tersebut adalah keterbukaan diri manusia untuk saling berdialog, berkomunikasi, dan berargumentasi secara sehat.



