Ruh manusia pada hakikatnya adalah non-materi dan ia akan kekal atau abadi. Apa dalil atau argumentasinya?
Berikut ini silakan simak argumentasi global atau dalil-dalil filosofis terhadap ke-non-materian ruh atau jiwa manusia, untuk lebih memahami apa sebenarnya pengertian ruh tersebut bersama Hujjatul Islam wal Muslimin, Ustadz Hasan Abu Ammar.
Keabadian Ruh Manusia dan Kedudukannya dalam Iman
Ustadz mengulas kembali pembahasan sebelumnya mengenai struktur manusia serta sifat non-materi (kenonmaterian) ruh.
Ditegaskan bahwa meyakini keabadian, kelanggengan, dan kekekalan ruh manusia bukanlah suatu bentuk kemusyrikan.
Keabadian makhluk (seperti ruh, malaikat, surga, dan neraka) sangat berbeda dengan keabadian Allah.
Keabadian Allah bersifat hakiki dari zat-Nya sendiri (qiyamuhu binafsihi), sedangkan keabadian makhluk merupakan pemberian atau ditopang penuh oleh Allah (qiyamuhu bighairihi).
Meskipun argumentasi filosofis (akliah) mengenai hal ini tidak wajib diketahui secara merata oleh semua muslim, mempelajarinya sangat baik untuk memperteguh hati menghadapi cobaan hidup dan membangun akhlak mulia.
Al-Quran dan berbagai riwayat secara jelas menerangkan bahwa kematian fisik hanyalah perpindahan ruh menuju alam barzah (alam antara dunia dan akhirat), sebelum akhirnya berpindah ke alam akhirat yang abadi, baik itu ke surga maupun ke neraka.
Keyakinan akan kekekalan akhirat ini memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai salah satu dasar keimanan atau Rukun Iman dalam ajaran Islam.
Argumen Filosofis Pertama: Sifat Non-Materi Ruh
Dijelaskan global mengenai dalil filosofis kenonmaterian ruh melalui perbandingan sifat materi fisik dengan kemampuan ruh manusia:
- Keterbatasan Materi Fisik:
Materi fisik memiliki keterbatasan mutlak di mana ia tidak dapat menerima atau menampung banyak bentuk esensi atau spesies (form) secara bersamaan.
Sebagai contoh, spesies ikan tidak dapat menerima esensi batu, dan pohon tidak dapat menerima esensi ikan atau air.
Secara fisik, kambing dan ayam memiliki kesamaan karena sama-sama memiliki dimensi panjang, lebar, dan tebal.
Namun, dari segi esensinya (form), kambing tidak dapat menerima esensi ayam, begitu pula sebaliknya. - Kemampuan Ruh yang Luar Biasa:
Sebaliknya, ruh manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengetahui dan menampung banyak esensi materi secara bersamaan di dalam wilayah pengetahuannya.
Saat manusia memahami esensi ayam atau kambing, struktur jasmani manusia sama sekali tidak berubah menjadi ayam atau kambing. - Kesimpulan Logis:
Karena ruh dapat menampung beragam esensi materi sekaligus tanpa mengubah jasad fisik manusia, hal ini membuktikan bahwa penampungan pengetahuan tersebut berada pada ruh yang bersifat non-materi, bukan pada materi fisik seperti jasad atau otak.
Jika penampungan pengetahuan itu diletakkan pada organ fisik seperti otak, maka ia tidak akan mampu menampung lebih dari satu esensi materi atau bahkan tidak mampu menampung lebih dari dirinya sendiri sebagai manusia.
Sanggahan Terhadap Kelompok Shopist (Skeptisisme)
Esensi objek yang masuk ke dalam ruh manusia adalah hakikat nyata yang ada di luar pikiran, bukan sekadar khayalan.
Pandangan ini menyanggah kelompok Shopist yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan hanyalah khayalan di dalam benak (khayal dalam khayal) dan tidak ada kebenaran objektif, sehingga seluruh pengetahuan dianggap salah.
Sanggahan terhadap kaum Shopist didasarkan pada dua poin utama:
- Pengingkaran terhadap Fitrah Realitas:
Pendapat kaum Shopist mengingkari fitrah dasar manusia yang meyakini keberadaan benda nyata untuk berkomunikasi, mencari nafkah, dan bertahan hidup.
Allamah Tabatabai memberikan contoh praktis: jika penganut paham Shopist diajak menyeberang sungai lalu mereka mengangkat celana agar tidak basah, atau jika mereka berlari saat melihat harimau, hal itu membuktikan bahwa secara fitrah mereka meyakini keberadaan air dan harimau tersebut secara nyata di luar pikiran mereka. - Kontradiksi Logis:
Klaim kaum Shopist bahwa “mereka mengetahui bahwa tidak ada pengetahuan yang benar” adalah pernyataan yang kontradiktif secara logis.
Jika mereka mengeklaim pernyataan tersebut benar, maka hal itu membantah kesimpulan mereka sendiri bahwa semua ilmu adalah salah.
Menolak kebenaran ilmu berarti mengingkari hal mendasar (darurat) yang sangat mudah diketahui manusia.
Konsep Filsafat: Eksistensi, Esensi, dan Efek Nyata
Untuk memperjelas cara ruh memahami materi tanpa berubah bentuk, pembicara menjelaskan dua aspek dalam setiap keberadaan yang terbatas, yaitu eksistensi (keberadaan) dan esensi (batasan/spesies):
- Secara eksistensi, ayam dan kambing memiliki kesamaan karena sama-sama “ada” di dunia nyata.
Namun, secara esensi (batasan karakteristiknya), keduanya sangat berbeda karena ayam bukanlah kambing, dan kambing bukanlah ayam. - Esensi dari objek yang berada di dalam pikiran (akal) manusia adalah sama dengan esensi objek tersebut di luar akal (dunia nyata).
- Perbedaan utama di antara keduanya hanya terletak pada efek atau aksinya (action) yang dipengaruhi oleh cara eksistensinya.
Ayam yang berada di luar akal memiliki eksistensi fisik yang menimbulkan efek nyata seperti memiliki volume, panjang, lebar, bulu berwarna, daging, dan bisa dikonsumsi.
Sementara itu, esensi ayam yang berada di dalam akal manusia sama sekali tidak memiliki efek-efek fisik tersebut. - Hal ini membuktikan bahwa ruh manusia dapat menampung dan memahami seluruh hakikat esensi di alam semesta secara luas tanpa harus terikat oleh keterbatasan fisik ataupun mengalami perubahan jasmani.
Penutup
Kajian moral dan spiritual ini ditutup dengan doa memohon agar Allah senantiasa menganugerahkan petunjuk untuk melihat kebenaran serta kekuatan untuk mengikutinya, sekaligus menunjukkan kebatilan serta kekuatan untuk menjauhinya.

Bersama Ustadz Hasan Abu Ammar
Sumber video: ITRAH INSTITUTE Official

