3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Saat manusia meninggal, pada dasarnya ruh manusia meninggalkan tubuh jasmaninya menuju ke alam berikutnya melanjutkan perjalanannya menuju alam barzah, alam akhirat, syurga atau neraka.

Jasad manusia karena terikat dengan ruang dan waktu, ia akan hancur. Namun tidak demikian halnya dengan ruh. Ruh manusia, karena tidak terikat dengan ruang dan waktu, ia tidak akan sirna, tidak akan hancur, dan ia abadi atau kekal selamanya. Begitulah hakikat manusia.

Jadi, apa itu ruh? Apa yang dimaksud dengan non-materi? Apa bedanya materi dengan non-materi?

Ikuti ceramah kajian akhlak dan irfan berikut ini yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin, Ustadz Hasan Abu Ammar.

 

Struktur Manusia: Fisik dan Spiritual

Manusia tersusun atas dua elemen utama, yaitu fisik (jasmani) dan spiritual (ruhani). Elemen fisik rentan terhadap kondisi sehat dan sakit, yang penjelasannya dipelajari dalam ilmu medis.
Di sisi lain, spiritual juga memiliki kecenderungan sehat dan sakit yang dibahas secara mendalam dalam ilmu akhlak.
Jasad fisik manusia bersifat material dan fana (tidak kekal), sedangkan ruh bersifat non-material dan abadi.

Hakikat Kematian

Bagi umat Islam, kematian bukan berarti kehancuran atau hilangnya ruh, melainkan terpisahnya ruh dari jasad.
Kerusakan organ tubuh, seperti berhentinya detak jantung, bukanlah hakikat dari kematian itu sendiri, melainkan hanya penyebab fisik yang membuat ruh meninggalkan jasad.
Setelah berpisah dari tubuh, ruh yang tetap utuh akan berpindah dari alam dunia menuju alam Barzakh (alam perantara sebelum hari kebangkitan).
Setelah kiamat besar, ruh akan dibangkitkan di Padang Mahsyar dan akhirnya memasuki surga atau neraka secara kekal.

Keabadian Ruh dan Keesaan Allah

Meskipun ruh manusia bersifat abadi (tidak berakhir), keabadian ini tidak menandingi keabadian Allah dan tidak tergolong sebagai perbuatan syirik.
Perbedaannya terletak pada konsep azali (tidak berawal) dan abadi (tidak berakhir).
Ruh manusia tidak bersifat azali karena ruh diciptakan oleh Allah dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Selain itu, keabadian ruh, surga, dan neraka terjadi karena dianugerahkan serta dijaga oleh Allah.
Sebaliknya, Allah Maha Abadi dengan zat-Nya sendiri yang mandiri, tidak diciptakan, serta tidak berawal maupun berakhir.

Mengapa Materi Hancur sedangkan Ruh Kekal? (Konsep Ruang dan Waktu)

Secara filosofis, perbedaan sifat kekal antara materi dan non-materi dapat dijelaskan melalui keterikatan mereka terhadap ruang dan waktu:

  • Materi (Fisik):
    Terikat oleh ruang (memiliki dimensi panjang, lebar, tinggi, atau volume) dan waktu.
    Waktu bagi materi diukur dari adanya gerakan (motion), yaitu proses perubahan yang terjadi secara bertahap atau perlahan.
    Karena terikat oleh ruang dan waktu, setiap materi pasti akan mengalami kemusnahan atau kehancuran.
  • Non-Materi (Ruh):
    Tidak terikat oleh ruang maupun waktu. Ruh tidak mengalami perubahan secara bertahap seperti materi, melainkan perubahannya terjadi secara seketika (dalam istilah Arab disebut kun fayakun).
    Karena tidak memiliki keterikatan terhadap ruang dan waktu inilah ruh tidak akan pernah hancur atau sirna.

Seri 04 Hakikat Dualitas Jasad dan Ruh

Bersama Ustadz Hasan Abu Ammar

Sumber video: ITRAH INSTITUTE Official

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us