Teks Doa Kumail
> وَأَنْتَ تَعْلَمُ ضَعْفِي عَنْ قَلِيلٍ مِنْ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعُقُوبَاتِهَا
وَمَا يَجْرِي فِيهَا مِنَ الْمَكَارِهِ عَلَى أَهْلِهَا
عَلَى أَنَّ ذَلِكَ بَلَاءٌ وَمَكْرُوهٌ قَلِيلٌ مَكْثُهُ
يَسِيرٌ بَقَاؤُهُ قَصِيرٌ مُدَّتُهُ
فَكَيْفَ احْتِمَالِي لِبَلَاءِ الْآخِرَةِ وَجَلِيلِ وُقُوعِ الْمَكَارِهِ فِيهَا
وَهُوَ بَلَاءٌ تَطُولُ مُدَّتُهُ
وَيَدُومُ مَقَامُهُ
وَلَا يُخَفَّفُ عَنْ أَهْلِهِ
لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ إِلَّا عَنْ غَضَبِكَ وَانْتِقَامِكَ وَسَخَطِكَ
وَهَذَا مَا لَا تَقُومُ لَهُ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
يَا سَيِّدِي فَكَيْفَ بِي
وَأَنَا عَبْدُكَ الضَّعِيفُ الذَّلِيلُ الْحَقِيرُ الْمِسْكِينُ الْمُسْتَكِينُ
Wa anta ta‘lamu ḍa‘fī ‘an qalīlin min balā’id-dunyā wa ‘uqūbātihā, wa mā yajri fīhā minal-makārihi ‘alā ahlihā. ‘Alā anna dzālika balā’un wa makrūhun qalīlun maktsuhu, yasīrun baqā’uhu, qaṣīrun muddatuhu. Fa kayfa iḥtimālī libalā’il-ākhirati wa jalīli wuqū‘il-makārihi fīhā? Wa huwa balā’un taṭūlu muddatuhu, wa yadūmu maqāmuhu, wa lā yukhaffafu ‘an ahlihi, li’annahu lā yakūnu illā ‘an ghaḍabika wantiqāmika wa sakhaṭika. Wa hādzā mā lā taqūmu lahus-samāwātu wal-arḍu. Yā Sayyidī, fa kayfa bī, wa anā ‘abukad-ḍa‘īfudz-dzalīlul-ḥaqīrul-miskīnul-mustakīn.
“Sedangkan Engkau mengetahui kelemahanku menghadapi sedikit saja penderitaan dan hukuman dunia, serta berbagai kesulitan yang menimpa para penghuninya. Padahal penderitaan dan kesulitan itu hanya sebentar menetap, ringan masa tinggalnya, dan pendek waktunya.
Lalu bagaimana mungkin aku sanggup menanggung penderitaan akhirat dan dahsyatnya kesulitan yang terjadi di sana? Penderitaan yang panjang waktunya, kekal keberadaannya, dan tidak diringankan dari para penghuninya. Sebab ia tidak terjadi kecuali sebagai akibat kemurkaan, pembalasan, dan ketidaksukaan-Mu—sesuatu yang langit dan bumi pun tidak sanggup menanggungnya.
Wahai Junjunganku, lalu bagaimana keadaanku, sedangkan aku hanyalah hamba-Mu yang lemah, rendah, kecil, papa, dan tidak berdaya?”
Catatan makna
Penyebutan “murka”, “pembalasan”, dan “ketidaksukaan” Allah tidak boleh dibayangkan seperti kemarahan manusia yang kehilangan kendali. Allah tidak mengalami perubahan emosi.
Dalam bahasa keagamaan, kemurkaan Allah menunjuk kepada penegakan keadilan-Nya, akibat dari penolakan manusia terhadap kebenaran, serta dijauhkannya seseorang dari rahmat khusus yang terus-menerus ia tolak melalui pilihan-pilihannya sendiri.
Penggalan ini juga tidak sedang memastikan bahwa setiap pendosa akan mengalami azab tanpa akhir.
Keputusan mengenai siapa yang diampuni, disucikan, dihukum, atau diselamatkan sepenuhnya berada dalam ilmu, keadilan, dan rahmat Allah.
Doa ini mengambil posisi seorang hamba yang tidak berani merasa aman dari pertanggungjawaban.
Tema utama
Harapan kepada rahmat Allah tidak boleh mematikan rasa takut terhadap akibat dosa.
Jika penderitaan dunia yang singkat saja telah membuat manusia tidak berdaya, bagaimana mungkin ia memperlakukan pertanggungjawaban akhirat sebagai sesuatu yang remeh?
Bagian 86 mengajarkan prasangka baik kepada kemurahan Allah. Bagian 87 tidak membatalkan harapan itu. Ia menjaganya agar tidak berubah menjadi rasa aman palsu.
Dalam pendidikan ruhani Ahlul Bait, rasa takut dan harapan berjalan bersama:
– harapan mencegah manusia berputus asa;
– rasa takut mencegahnya mempermainkan dosa;
– harapan menariknya kembali kepada Allah;
– rasa takut membuat kepulangannya sungguh-sungguh.
Takut yang benar tidak membuat seseorang melarikan diri dari Allah. Ia justru membuatnya berlari menuju Allah.
Ayat Al-Qur’an
- QS An-Nisa 4:28
> يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
“Allah menghendaki keringanan bagi kalian, dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
Allah mengetahui kelemahan manusia. Karena itu, syariat-Nya tidak dibangun untuk menyiksa, tetapi untuk membimbing dan meringankan.
Namun pengakuan terhadap kelemahan tidak boleh dijadikan pembenaran untuk terus menyerah kepada hawa nafsu. Justru karena manusia lemah, ia membutuhkan batas, ibadah, pertobatan, dan pertolongan Allah.
- QS Al-A‘la 87:16–17
> بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Namun kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
Kesalahan manusia bukan karena dunia sama sekali tidak mempunyai nilai. Dunia adalah tempat menanam, beramal, mencintai, dan mengabdi.
Kesalahannya muncul ketika sesuatu yang sebentar diperlakukan seolah-olah abadi, sedangkan yang abadi diperlakukan seolah-olah tidak akan datang.
Doa Kumail membalik ukuran itu: penderitaan dunia pendek, sedangkan akibat akhirat jauh lebih panjang. Maka keputusan hidup tidak boleh hanya dibuat berdasarkan kesenangan sesaat.
- QS Al-Anbiya 21:1
> اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ
“Telah dekat kepada manusia waktu perhitungan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian dan berpaling.”
Kematian tidak harus diumumkan terlebih dahulu agar dikatakan dekat. Setiap hari yang berlalu telah membawa manusia selangkah lebih dekat kepada perhitungan.
Masalah terbesar bukan jauhnya akhirat, melainkan kelalaian yang membuatnya terasa jauh.
Riwayat Ahlul Bait
Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali as berkata:
> إِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ
“Sesungguhnya hari ini adalah waktu beramal tanpa perhitungan, sedangkan esok adalah waktu perhitungan tanpa kesempatan beramal.”
Sebelumnya, Imam memperingatkan dua perkara: panjangnya angan-angan yang membuat manusia melupakan akhirat dan mengikuti hawa nafsu yang menghalanginya dari kebenaran.
Riwayat tersebut dicantumkan dengan rangkaian sanad dalam Al-Amālī karya Syekh al-Mufid dan juga termuat dalam Nahj al-Balaghah, Khotbah 42 menurut sebagian penomoran.
Kerangka pembahasan
- Manusia sering meremehkan dosa karena akibatnya tidak datang seketika.
- Tubuh manusia sangat lemah menghadapi penderitaan dunia yang singkat.
- Keterbatasan dunia membuat seluruh rasa sakitnya suatu saat berakhir.
- Akhirat menyingkap akibat moral yang tidak lagi dapat ditutupi oleh waktu dan kelalaian.
- Rasa takut terhadap akhirat bukan keputusasaan, melainkan peringatan agar segera berubah.
- “Lemah, rendah, kecil, dan papa” merupakan perendahan ego di hadapan Allah, bukan kebencian terhadap martabat manusia.
- Selama hidup masih berlangsung, masa beramal dan bertobat belum berakhir.
Pembuka syarah
Manusia sering berani melakukan dosa karena akibatnya tidak datang pada saat yang sama.
Kebohongan diucapkan, tetapi lidah tidak langsung terbakar. Hak orang lain diambil, tetapi tangan tetap dapat bergerak.
Seseorang melukai hati manusia, namun matahari masih terbit dan kehidupannya tampak berjalan seperti biasa.
Jarak antara perbuatan dan akibat melahirkan sebuah ilusi: seakan-akan tidak akan terjadi apa-apa.
Penundaan dianggap sebagai pembebasan.
Tertutupnya aib dianggap sebagai persetujuan.
Panjang umur dianggap sebagai jaminan bahwa kesempatan akan selalu tersedia.
Doa Kumail meruntuhkan ilusi itu dengan membawa manusia kembali kepada kenyataan tubuhnya sendiri:
> “Engkau mengetahui kelemahanku menghadapi sedikit saja penderitaan dunia.”
Tidak diperlukan bencana besar untuk membuat manusia menyadari kelemahannya.
Sakit gigi dapat merampas ketenangan satu malam. Demam dapat mengubah seorang yang kuat menjadi tubuh yang hanya ingin berbaring. Sedikit sesak membuat seluruh urusan dunia kehilangan daya tariknya.
Luka yang kecil dapat membuat perhatian kita tidak mampu memikirkan apa pun selain rasa sakit itu.
Ketika sehat, manusia merasa tubuhnya berada dalam kekuasaan dirinya. Ia membuat rencana bertahun-tahun, mengejar kedudukan, mengumpulkan harta, dan menyusun hidup seakan-akan tubuh akan selalu mematuhinya.
Namun satu sel yang berubah, satu pembuluh yang tersumbat, atau satu organ yang melemah dapat menghentikan seluruh kesombongan itu.
Doa ini tidak sedang mengajarkan manusia membenci kehidupan. Ia sedang memulihkan ukuran.
Penderitaan dunia, betapa pun beratnya, tetap berada dalam batas waktu. Malam yang menyakitkan akhirnya bertemu pagi. Penyakit berakhir dengan kesembuhan atau kematian.
Kesedihan berubah, ingatan melemah, dan dunia terus bergerak.
Karena itu doa berkata:
> “Penderitaan itu sedikit masa tinggalnya, ringan keberadaannya, dan pendek waktunya.”
Kata “ringan” di sini bukan berarti penderitaan manusia boleh diremehkan. Doa Kumail sendiri sangat peka terhadap rasa sakit. Perbandingan itu baru terlihat ketika penderitaan dunia diletakkan di hadapan keluasan akhirat.
Sesuatu yang terasa sangat panjang bagi kita ternyata pendek jika dibandingkan dengan keabadian.
Di sinilah pertanyaan yang mengguncang itu muncul:
> “Lalu bagaimana mungkin aku sanggup menanggung penderitaan akhirat?”
Pertanyaan ini bukan sekadar tentang api. Ia adalah pertanyaan mengenai akibat yang tidak lagi dapat disembunyikan.
Di dunia, manusia dapat menutup kesalahan dengan reputasi. Ia dapat menyewa orang untuk membelanya, menyusun alasan, menghapus jejak, atau menggunakan kekuasaan agar keburukannya tampak seperti kebaikan.
Di akhirat, seluruh lapisan itu runtuh.
Kebenaran tidak membutuhkan juru bicara. Anggota tubuh memberikan kesaksian. Niat yang tersembunyi tersingkap. Hak orang kecil yang dahulu tidak mempunyai kekuatan memperoleh pengadilan dari Allah yang tidak dapat dibeli.
Inilah yang membuat akhirat menakutkan bagi kezaliman dan menjadi kabar gembira bagi mereka yang dizalimi.
Seandainya tidak ada akhirat, banyak kejahatan akan berlalu tanpa pengadilan. Berapa banyak pembunuh yang meninggal di atas tempat tidur yang nyaman?
Berapa banyak perampas hak yang dikenang sebagai orang terhormat? Berapa banyak korban yang pergi tanpa sempat melihat keadilan?
Akhirat menegaskan bahwa tidak ada kezaliman yang benar-benar berhasil melarikan diri.
Namun seorang pembaca Doa Kumail tidak memakai keyakinan ini untuk menunjuk orang lain. Ia tidak sibuk membayangkan hukuman bagi musuh-musuhnya. Ia justru memeriksa dirinya:
“Adakah hak yang masih kusimpan?”
“Adakah hati yang kulukai tetapi belum kumintai maaf?”
“Adakah kewajiban yang terus kutunda?”
“Adakah dosa yang kusembunyikan di balik alasan bahwa Allah Maha Pengampun?”
Inilah rasa takut yang sehat. Ia mengubah arah hidup sebelum perhitungan tiba.
Bagian sebelumnya berkata:
> “Bukan demikian sangka kami kepada-Mu.”
Kini doa berkata:
> “Bagaimana mungkin aku sanggup menanggung akibat kemurkaan-Mu?”
Keduanya tidak bertentangan.
Berbaik sangka kepada Allah bukan berarti berbaik sangka kepada dosa sendiri. Kita berharap kepada rahmat Allah, tetapi tetap takut terhadap kerusakan yang kita lakukan.
Kita percaya pintu ampunan terbuka, tetapi tidak mengetahui berapa lama lagi kita mempunyai kesempatan mengetuknya.
Harapan tanpa rasa takut dapat berubah menjadi kelalaian.
Rasa takut tanpa harapan dapat berubah menjadi keputusasaan.
Doa Kumail menjaga keduanya seperti dua sayap. Dengan rasa takut, manusia meninggalkan dosa. Dengan harapan, ia mempunyai keberanian untuk kembali.
Kemudian seorang hamba menatap dirinya dan berkata:
> “Wahai Junjunganku, bagaimana keadaanku, sedangkan aku hanyalah hamba-Mu yang lemah, rendah, kecil, papa, dan tidak berdaya?”
Kalimat ini bukan penghancuran martabat manusia.
Di hadapan sesama manusia, kita tidak boleh membiarkan diri dihina, ditindas, atau diperbudak. Allah telah memuliakan anak Adam. Namun di hadapan Allah, ego harus kehilangan seluruh gelarnya.
Kita dapat dipanggil terhormat oleh manusia, tetapi tetap seorang hamba.
Kita dapat memiliki kekuasaan, tetapi tidak berkuasa atas denyut jantung sendiri.
Kita dapat memiliki kekayaan, tetapi tidak mampu membeli satu hari tambahan ketika ajal tiba.
Kita dapat mempunyai banyak pengikut, tetapi akan memasuki kubur seorang diri.
Karena itu, mengakui kelemahan di hadapan Allah justru membebaskan manusia. Orang yang mengetahui dirinya hamba Allah tidak perlu menjadi budak pujian, kekuasaan, ketakutan, ataupun hawa nafsu.
Ia berkata, “Aku lemah,” bukan untuk menyerah.
Ia berkata demikian agar bersandar kepada Yang Mahakuat.
Ia berkata, “Aku papa,” bukan untuk kehilangan harapan.
Ia berkata demikian karena mengetahui bahwa seluruh kekayaan rahmat berada di tangan Allah.
Dan ia mengingat akhirat bukan agar hidupnya dipenuhi ketakutan yang melumpuhkan, melainkan agar waktu yang masih tersisa tidak terbuang.
Sebab hari ini kita masih dapat menyesal.
Hari ini hak masih dapat dikembalikan.
Hari ini salat yang dilalaikan masih dapat ditegakkan.
Hari ini hati yang disakiti masih dapat dimintai maaf.
Hari ini dosa masih dapat ditinggalkan.
Hari ini adalah waktu beramal—dan pintu itu masih terbuka.
Maka seorang hamba berbisik:
“Ya Allah, aku tidak sanggup menghadapi sedikit saja penderitaan dunia. Aku jauh lebih lemah daripada yang kubayangkan. Jangan biarkan aku baru menyadari akibat perbuatanku ketika kesempatan memperbaikinya telah berakhir.
Bangunkanlah aku sekarang—selagi penyesalan masih dapat berubah menjadi pertobatan, dan ketakutanku masih dapat membawaku pulang.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1GthKDfvr2/

