Teks Doa Kumail
> وَفُكَّنِي مِنْ شَدِّ وَثَاقِي
Wa fukkanī min syaddi watsāqī.
“Dan bebaskanlah aku dari belengguku yang mengikat kuat.”
Kata fukkanī berarti “lepaskanlah” atau “bebaskanlah aku.” Adapun watsāq adalah ikatan, tambatan, atau belenggu yang menahan seseorang sehingga ia tidak dapat bergerak bebas.
Penggalan ini tepat berada setelah “Warḥam syiddata ḍurrī”—“Rahmatilah beratnya penderitaanku”—dan sebelum permohonan belas kasih atas kelemahan tubuh. Urutan teks tetap terjaga tanpa ada penggalan yang dilewati.
Tema utama
Belenggu paling berbahaya bukan selalu rantai yang terlihat. Dosa, hawa nafsu, ketergantungan kepada penilaian manusia, ketakutan, keserakahan, dan kebiasaan buruk dapat mengikat jiwa hingga manusia kehilangan kemampuan untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Pada awalnya, dosa mungkin dilakukan sebagai sebuah pilihan. Namun ketika terus diulang, pilihan itu dapat berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan kemudian berubah menjadi kebutuhan.
Akhirnya, sesuatu yang dahulu dipilih mulai memerintah orang yang memilihnya.
Ia masih menyebut dirinya bebas, padahal sudah tidak sanggup berkata “tidak”.
Doa Kumail tidak hanya meminta agar belenggu itu diringankan. Ia meminta:
> “Lepaskanlah aku.”
Dalam pandangan tauhid, kebebasan bukanlah kemampuan melakukan segala sesuatu yang diinginkan.
Kebebasan ialah ketika tidak ada sesuatu pun—selain Allah—yang menguasai kehendak manusia.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Muddatsir 74:38
> كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
“Setiap jiwa tergadai oleh apa yang telah dikerjakannya.”
Kata rahīnah menggambarkan sesuatu yang tertahan atau tergadai. Manusia dapat menjadi tawanan dari perbuatannya sendiri.
Dosa tidak selalu membelenggu seketika; terkadang ia mengikat sedikit demi sedikit melalui pembenaran, pengulangan, dan hilangnya rasa bersalah.
Seseorang mungkin telah meninggalkan tempat terjadinya dosa, tetapi akibat dosa itu masih menguasai pikiran, hubungan, kebiasaan, dan keputusan hidupnya.
- QS Al-A‘raf 7:157
> وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
“Dan ia membebaskan mereka dari beban-beban dan belenggu-belenggu yang berada atas mereka.”
Al-Qur’an menggambarkan salah satu misi Rasulullah saw sebagai pembebasan manusia dari beban dan belenggu.
Risalah beliau bukan hanya kumpulan perintah, melainkan jalan keluar dari perbudakan kepada kesyirikan, kebodohan, takhayul, penguasa zalim, hawa nafsu, dan aturan-aturan yang membebani manusia tanpa hak.
Ayat itu kemudian menyebut keberuntungan bagi mereka yang beriman kepada Rasul, memuliakan dan menolongnya, serta mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya.
Kebebasan ruhani tidak lahir dengan menolak petunjuk, melainkan dengan mengikuti cahaya petunjuk.
- QS Al-Balad 90:12–13
> وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ فَكُّ رَقَبَةٍ
“Tahukah engkau apakah jalan mendaki yang sukar itu? Yaitu membebaskan seseorang dari perbudakan.”
Al-Qur’an menggunakan akar kata yang sama—fakk—untuk tindakan melepaskan ikatan dan membebaskan manusia dari perbudakan.
Ini memberikan makna sosial yang sangat penting: orang yang memohon agar Allah membebaskannya tidak boleh menjadi orang yang membelenggu manusia lain.
Ia tidak boleh memperbudak pekerja melalui ketidakadilan, mengikat keluarga dengan ancaman, mempermainkan orang yang berutang, atau menjadikan kekuasaan sebagai alat merampas kebebasan sesamanya.
Permohonan pembebasan kepada Allah harus menumbuhkan keberanian untuk membebaskan.
Riwayat Ahlul Bait
Dalam surat yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as kepada putranya disebutkan:
> وَلَا تَكُنْ عَبْدَ غَيْرِكَ وَقَدْ جَعَلَكَ اللَّهُ حُرًّا
“Janganlah engkau menjadi budak orang lain, sedangkan Allah telah menjadikanmu merdeka.”
Kalimat ini terdapat dalam Nahj al-Balaghah, Surat 31 menurut penomoran yang digunakan dalam edisi tersebut.
Kemerdekaan yang dimaksud bukan kesombongan untuk tidak membutuhkan siapa pun. Manusia tetap saling membutuhkan. Yang ditolak adalah menyerahkan kehormatan, prinsip, dan kebenaran kepada makhluk demi harta, kedudukan, rasa aman, atau penerimaan sosial.
Kerangka pembahasan
- Makna watsāq sebagai ikatan atau belenggu yang membatasi gerak.
- Dosa yang berulang dapat berubah dari pilihan menjadi penguasa.
- Kebebasan tidak sama dengan mengikuti setiap keinginan.
- Penghambaan kepada Allah membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk.
- Taubat harus disertai tindakan memutus jalan menuju dosa.
- Hak manusia yang belum diselesaikan dapat menjadi belenggu ruhani.
- Orang yang memohon dibebaskan juga harus berhenti membelenggu sesamanya.
- Kebebasan sejati adalah kemampuan memilih kebenaran meskipun hawa nafsu menolaknya.
Pembuka syarah
Belenggu yang paling kuat bukanlah belenggu yang mengikat pergelangan tangan.
Belenggu paling kuat adalah sesuatu yang berhasil meyakinkan manusia bahwa ia masih bebas, padahal seluruh pilihannya telah dikendalikan.
Seseorang berkata, “Aku dapat berhenti kapan saja,” tetapi hari demi hari ia kembali melakukan perbuatan yang sama. Ia berkata bahwa dirinya tidak membutuhkan pengakuan manusia, tetapi satu komentar buruk membuat hidupnya kehilangan ketenangan.
Ia mengaku tidak mencintai dunia, tetapi bersedia mengorbankan prinsip demi jabatan, keuntungan, dan kedekatan dengan orang berkuasa.
Tubuhnya dapat pergi ke mana saja.
Namun jiwanya tidak lagi mampu meninggalkan apa yang memperbudaknya.
Doa Kumail mengajarkan kita mengakui keadaan itu:
> “Dan bebaskanlah aku dari belengguku yang mengikat kuat.”
Pengakuan tersebut membutuhkan keberanian. Sebab manusia lebih mudah melihat rantai yang dipasang oleh orang lain daripada rantai yang dibuat oleh kebiasaannya sendiri.
Pada mulanya, dosa datang sebagai tawaran.
Ia berkata, “Hanya sekali.”
Ketika dilakukan kembali, ia berubah menjadi kebiasaan. Setelah kebiasaan menguat, ia mulai meminta pembenaran. Akal kemudian diperintah untuk menciptakan alasan, hati diminta berhenti merasa bersalah, dan agama ditafsirkan agar tidak mengganggu kenyamanan.
Pada akhirnya, manusia tidak lagi melakukan dosa karena menginginkannya.
Ia melakukannya karena sudah tidak sanggup meninggalkannya.
Inilah salah satu makna mengerikan dari firman Allah:
> “Setiap jiwa tergadai oleh apa yang telah dikerjakannya.”
Manusia menjadi tawanan dari sesuatu yang diciptakannya sendiri.
Namun Doa Kumail tidak membiarkan manusia menerima perbudakan itu sebagai nasib. Ia mengajarkan sebuah permohonan pembebasan. Tidak ada rantai batin yang terlalu kuat bagi Allah.
Tidak ada kebiasaan yang lebih berkuasa daripada pertolongan-Nya. Tidak ada masa lalu yang mempunyai hak mutlak untuk menentukan seluruh masa depan seorang hamba.
Meski demikian, doa pembebasan bukan pengganti tindakan.
Orang yang memohon dibebaskan dari dosa harus bersedia menutup pintu menuju dosa. Lingkungan yang terus menyeret perlu ditinggalkan. Jalan yang memudahkan kemaksiatan harus diputus. Hak orang lain harus dikembalikan.
Utang moral harus diselesaikan. Bila belenggu itu telah berbentuk ketergantungan yang berat, bantuan keluarga, guru ruhani, dokter, atau tenaga profesional dapat menjadi bagian dari pertolongan Allah.
Kita tidak dapat berdoa agar rantai dilepaskan sambil terus menjaga sesuatu yang menguncinya.
Kadang-kadang belenggu itu bukan kenikmatan, melainkan ketakutan.
Takut kehilangan pekerjaan membuat seseorang diam di hadapan kezaliman. Takut tidak disukai membuatnya mengorbankan kebenaran. Takut ditinggalkan membuatnya bertahan dalam hubungan yang menghancurkan martabat.
Takut kehilangan kedudukan membuatnya menjadi budak orang yang memberikan kedudukan itu.
Amirul Mukminin Ali as mengingatkan:
> “Janganlah engkau menjadi budak orang lain, sedangkan Allah telah menjadikanmu merdeka.”
Penghambaan kepada Allah justru merupakan puncak kemerdekaan. Orang yang hanya bersujud kepada Allah tidak perlu merendahkan jiwanya di hadapan kekayaan, popularitas, kekuasaan, ataupun ancaman manusia.
Ia mungkin bekerja untuk orang lain, tetapi kehormatannya tidak dimiliki atasannya.
Ia mungkin hidup di tengah masyarakat, tetapi kebenaran tidak ditentukan oleh tepuk tangan masyarakat.
Ia mencintai manusia, tetapi cintanya kepada manusia tidak membuatnya mengkhianati Allah.
Doa ini juga membalikkan pandangan kita kepada orang lain. Jika kita memohon dibebaskan, apakah kita masih membelenggu seseorang?
Apakah ada pekerja yang haknya kita tahan? Apakah ada anggota keluarga yang hidup di bawah ancaman kemarahan kita? Apakah ada orang lemah yang kita buat terus bergantung agar mudah dikendalikan?
Apakah kita menggunakan rasa bersalah seseorang untuk menguasai hidupnya?
Al-Qur’an menyebut fakku raqabah—membebaskan manusia—sebagai jalan mendaki yang sukar. Membebaskan memang lebih sulit daripada menguasai.
Mengembalikan kemerdekaan seseorang berarti melepaskan keuntungan yang selama ini kita peroleh dari kelemahannya.
Karena itu, penggalan ini memuat dua doa sekaligus:
> “Ya Allah, lepaskan aku dari segala sesuatu yang memperbudakku.”
Dan secara tersembunyi:
> “Ya Allah, jangan biarkan aku menjadi belenggu bagi kehidupan orang lain.”
Kebebasan sejati bukan ketika manusia dapat melakukan apa pun yang diinginkan hawa nafsunya.
Kebebasan sejati adalah ketika hawa nafsu tidak lagi mampu memaksanya melakukan sesuatu yang dibenci Allah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1C3bc5uW4K/

