Teks Doa Kumail
> اللَّهُمَّ فَاقْبَلْ عُذْرِي
Allāhumma faqbal ‘udzrī.
“Ya Allah, maka terimalah permohonan maafku.”
Penggalan ini tepat mengikuti permohonan agar dimasukkan ke dalam keluasan rahmat Allah. Sesudahnya, doa berlanjut dengan “warḥam syiddata ḍurrī”—“dan kasihanilah beratnya penderitaanku.” Dengan demikian, tidak ada penggalan yang dilompati.
Tema utama
Taubat yang tulus tidak menganggap dirinya pasti layak diterima.
Ia mempersembahkan penyesalan, pengakuan, dan perbaikan kepada Allah, lalu dengan penuh harap memohon penerimaan-Nya.
Kata ‘udzrī dapat diterjemahkan sebagai alasan, permohonan maaf, atau pengakuan atas kelemahan diri. Namun yang dimohonkan di sini bukan agar Allah membenarkan dosa.
Seorang hamba tidak sedang berkata, “Aku mempunyai alasan, maka aku tidak bersalah.”
Ia justru mengakui kesalahan, lalu berkata:
> “Ya Allah, aku tidak dapat menghapus apa yang telah terjadi. Aku hanya dapat datang dengan penyesalan dan kesediaan memperbaikinya. Maka terimalah kepulanganku.”
Kata faqbal—“maka terimalah”—menghimpun seluruh keadaan yang telah disebutkan sebelumnya: menyesal, remuk, memohon pembatalan hukuman, beristigfar, kembali, tunduk, dan mengakui kesalahan.
Semua itu akhirnya diletakkan di hadapan Allah untuk diterima.
Ayat Al-Qur’an
- QS At-Tawbah 9:104
> أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima sedekah, dan bahwa Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang?”
Harapan seorang pendosa tidak dibangun di atas angan-angan. Allah sendiri menyatakan bahwa Dia menerima tobat hamba-hamba-Nya. Karena itu, kerendahan hati tidak berarti meragukan kemurahan Allah.
Kerendahan hati berarti mempercayai janji-Nya tanpa merasa bahwa kita memiliki hak untuk menuntut-Nya.
- QS Al-Baqarah 2:127
> وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, keduanya berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as sedang membangun Ka‘bah—sebuah amal yang sangat agung—tetapi mereka tidak berkata, “Kami telah melakukannya, maka amal ini pasti diterima.” Mereka tetap memohon, “Tuhan kami, terimalah dari kami.”
Jika dua nabi Allah memohon penerimaan setelah melaksanakan amal sebesar itu, betapa pantasnya seorang pendosa memohon agar penyesalan dan kepulangannya diterima.
- QS Ibrahim 14:40
> رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Wahai Tuhan kami, terimalah doaku.”
Nabi Ibrahim as tidak hanya meminta kemampuan beribadah. Beliau juga meminta agar doanya diterima.
Sebab kemampuan melakukan suatu amal adalah satu karunia, sedangkan diterimanya amal itu merupakan karunia yang lain.
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa Pertobatan Imam Ali Zainal Abidin as di Ash-Shahifah as-Sajjadiyyah terdapat permohonan yang sangat dekat dengan penggalan Doa Kumail ini:
> إِنَّكَ تَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِكَ
وَتَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ
وَتُحِبُّ التَّوَّابِينَ
فَاقْبَلْ تَوْبَتِي كَمَا وَعَدْتَ
“Sesungguhnya Engkau menerima tobat dari hamba-hamba-Mu, memaafkan keburukan-keburukan, dan mencintai orang-orang yang bertobat. Maka terimalah tobatku sebagaimana yang telah Engkau janjikan.”
Imam Sajjad as mengajarkan keseimbangan yang indah: seorang hamba berpegang pada janji Allah, tetapi tetap mengucapkan permohonan. Ia yakin Allah menerima tobat, namun keyakinan itu tidak membuatnya kehilangan adab dan kerendahan hati.
Kerangka pembahasan
- Faqbal merupakan puncak dari rangkaian pengakuan dan penyesalan sebelumnya.
- Memohon diterima berbeda dari merasa berhak memperoleh penerimaan.
- Permohonan maaf tidak dimaksudkan untuk membenarkan dosa.
- Para nabi pun meminta agar amal dan doa mereka diterima.
- Keyakinan kepada janji Allah harus berjalan bersama pemeriksaan atas ketulusan diri.
- Bukti permohonan maaf yang jujur adalah meninggalkan dosa dan memperbaiki kerusakan.
- Menerima rahmat Allah juga berarti berhenti menghukum diri setelah bertobat dengan sungguh-sungguh.
Pembuka syarah
Permintaan maaf kehilangan kesuciannya ketika berubah menjadi tuntutan.
Seseorang berkata, “Aku sudah meminta maaf,” lalu merasa orang yang dilukainya wajib segera memaafkan, melupakan seluruh luka, dan mengembalikan hubungan seperti sebelumnya.
Permintaan maaf itu akhirnya bukan lagi pengakuan atas kesalahan, melainkan cara baru untuk mengendalikan pihak yang telah disakiti.
Doa Kumail mengajarkan adab yang berbeda.
Setelah mengakui dosa, menyesali kelalaian, merendahkan diri, dan menyatakan tidak mempunyai tempat berlindung selain rahmat Allah, seorang hamba tidak mengumumkan bahwa dirinya telah diampuni. Ia memohon:
> “Ya Allah, maka terimalah permohonan maafku.”
Ia tidak datang sebagai orang yang merasa mempunyai hak atas pengampunan. Ia datang sebagai orang yang mengetahui bahwa tanpa penerimaan Allah, kata-kata penyesalannya tidak akan mampu menyelamatkan dirinya.
Namun hubungan manusia dengan Allah tidak sepenuhnya sama dengan hubungan dua manusia yang saling melukai. Dosa kita tidak mengurangi kemuliaan Allah sedikit pun.
Allah tidak terluka, tidak dirugikan, dan tidak kehilangan sesuatu karena pembangkangan kita.
Kitalah yang menzalimi diri sendiri.
Kitalah yang mengotori hati, merusak hubungan, menyia-nyiakan umur, atau mengambil hak manusia lain. Karena itu, permohonan agar alasan kita diterima bukan permintaan supaya keburukan disebut baik.
Ia merupakan pengakuan bahwa kita telah gagal menggunakan nikmat dan kebebasan sebagaimana seharusnya.
Allah mengetahui alasan yang jujur dan alasan yang dibuat-buat. Dia mengetahui perbedaan antara orang yang sungguh menyesal dan orang yang hanya takut kepada akibat dosa.
Dia mengetahui apakah air mata berasal dari kerinduan untuk kembali atau hanya dari keinginan agar hukuman segera disingkirkan.
Maka, “terimalah permohonan maafku” juga merupakan doa agar permohonan maaf kita dijadikan layak untuk diterima.
Ya Allah, jadikan penyesalanku benar. Jadikan pengakuanku jujur. Jadikan tekadku kuat. Jangan biarkan lidahku meminta maaf sementara tanganku masih mempertahankan hasil dosa.
Jangan biarkan aku memohon pengampunan atas kezaliman yang belum bersedia kuhentikan.
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as memberikan teladan yang sangat lembut. Ketika membangun Ka‘bah, mereka tetap berdoa, “Tuhan kami, terimalah dari kami.”
Mereka tidak menjadikan kemuliaan amal sebagai alasan untuk merasa aman dari penolakan.
Inilah adab para kekasih Allah: semakin besar amalnya, semakin kecil perasaan dirinya di hadapan Allah.
Sebaliknya, kita terkadang baru melakukan sedikit kebaikan, lalu merasa telah memiliki jasa. Kita bersedekah dan menunggu pujian. Kita meminta maaf dan menuntut untuk segera dipercaya kembali.
Kita bertobat, tetapi masih menyimpan jalan rahasia menuju dosa yang sama.
Doa Kumail mematahkan rasa berhak itu.
Kita membawa taubat, tetapi Allah yang menerima. Kita membawa penyesalan, tetapi Allah yang membersihkan. Kita mengetuk, tetapi Allah yang membuka. Bahkan kekuatan untuk mengetuk pintu-Nya berasal dari rahmat-Nya.
Meski demikian, kerendahan hati tidak boleh berubah menjadi keputusasaan. Allah telah menyatakan bahwa Dia menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.
Setelah bertobat dengan sungguh-sungguh, memperbaiki kewajiban, dan mengembalikan hak manusia, seorang hamba tidak seharusnya terus-menerus menyiksa dirinya seolah-olah kemurahan Allah terlalu kecil untuk menerima kepulangannya.
Ada orang yang mengira bahwa terus membenci diri merupakan tanda penyesalan yang mendalam. Padahal jika Allah telah membuka pintu, menolak memasuki pintu itu bukanlah kerendahan hati.
Jika Allah menjanjikan penerimaan, mempercayai janji-Nya juga merupakan bagian dari iman.
Kita tidak merasa diterima karena permohonan maaf kita begitu indah.
Kita berharap diterima karena Allah adalah At-Tawwāb—Dia yang berkali-kali menerima kepulangan hamba-Nya.
Karena itu, penggalan pendek ini mengandung dua gerakan hati sekaligus: hati merendah karena tidak merasa pantas, tetapi juga bangkit karena tidak meragukan kemurahan Allah.
Dengan suara yang tidak menuntut, tetapi penuh keyakinan, ia berkata:
> “Ya Allah, aku telah datang membawa apa yang mampu kubawa: penyesalan, pengakuan, dan tekad untuk berubah. Maka terimalah permohonan maafku.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CRLicSsQY/

