27 Oktober 2026

Teks Doa Kumail

> لَا أَجِدُ مَفَرًّا مِمَّا كَانَ مِنِّي

Lā ajidu mafarran mimmā kāna minnī.

“Aku tidak menemukan jalan untuk melarikan diri dari apa yang telah kulakukan.”

Penggalan ini berada tepat sesudah “muqirran mudz‘inan mu‘tarifan”—mengakui, tunduk, dan berterus terang—serta sebelum penggalan “wa lā mafza‘an atawajjahu ilayhi fī amrī.” Dengan demikian, tidak ada teks yang dilompati.

Tema utama

Manusia dapat melarikan diri dari tempat perbuatannya, tetapi tidak dapat melarikan diri dari tanggung jawab dan akibat ruhani perbuatannya.

Kalimat “mimmā kāna minnī” sangat penting: “dari apa yang telah berasal dariku.”

Seorang hamba tidak lagi memindahkan kesalahannya kepada orang lain. Ia tidak berkata, “Inilah yang terjadi kepadaku,” tetapi mengakui, “Inilah yang telah keluar dari diriku.”

Dosa dapat dipengaruhi oleh godaan, lingkungan, tekanan, kelemahan, dan keadaan. Namun semua itu tidak selalu menghapus peran kehendak manusia.
Kedewasaan ruhani dimulai ketika seseorang mampu membedakan antara luka yang diterimanya dan luka yang ditimbulkannya kepada orang lain.

Tidak menemukan jalan lari bukan berarti tidak tersedia jalan pengampunan. Justru ketika seluruh pelarian palsu berakhir, jalan taubat yang sesungguhnya mulai terlihat.

Ayat Al-Qur’an

  1. QS Al-Qiyamah 75:10–12

> يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ ۝ كَلَّا لَا وَزَرَ ۝ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ

“Pada hari itu manusia berkata, ‘Ke manakah tempat melarikan diri?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Pada hari itu hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali.”

Al-Qur’an menggunakan kata yang sama dengan Doa Kumail: al-mafarr—tempat atau jalan untuk melarikan diri.

Selama hidup, manusia dapat meninggalkan kota, mengganti lingkungan, menghapus percakapan, menyembunyikan bukti, atau membangun citra baru. Namun Hari Kebangkitan menyingkap bahwa tidak ada jarak yang dapat memisahkan seseorang dari perbuatannya sendiri.

  1. QS Al-Isra 17:13–14

> وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Setiap manusia telah Kami kalungkan amal perbuatannya pada lehernya. Pada Hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab yang akan dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu; cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”

Perbuatan digambarkan seolah-olah terikat pada pelakunya. Manusia tidak hanya meninggalkan jejak di dunia; jejak itu ikut membentuk dirinya.

Pada akhirnya, ia tidak membaca catatan milik orang lain. Ia membaca kitabnya sendiri. Tidak ada kebisingan massa, kedudukan sosial, atau banyaknya pendukung yang dapat mengubah isi kitab tersebut.

  1. QS Az-Zalzalah 99:7–8

> فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, ia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarah, ia akan melihatnya.”

Ayat ini tidak hanya mengatakan bahwa manusia akan melihat balasan perbuatannya. Redaksinya menyatakan bahwa ia akan melihat perbuatan itu sendiri.

Kebaikan yang pernah dianggap kecil akan hadir. Begitu pula keburukan yang dahulu diremehkan. Tidak ada yang benar-benar hilang hanya karena manusia telah melupakannya.

Doa Ahlul Bait sebagai jangkar

Dalam doa yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as ketika beliau ditimpa kesedihan, disebutkan:

> وَإِلَيْكَ الْمَفَرُّ وَالْمَهْرَبُ

“Hanya kepada-Mu tempat berlari dan melarikan diri.”

Pada bagian berikutnya, beliau berdoa:

> وَلَا قُوَّةَ لِي عَلَى الْخُرُوجِ مِنْ سُلْطَانِكَ

وَلَا أَسْتَطِيعُ مُجَاوَزَةَ قُدْرَتِكَ

“Aku tidak mempunyai kekuatan untuk keluar dari kekuasaan-Mu dan tidak mampu melampaui kuasa-Mu.”

Inilah paradoks penghambaan: seorang hamba tidak dapat melarikan diri dari Allah, tetapi ia dapat melarikan diri menuju Allah. Ia tidak dapat menghapus dosanya dengan menjauh dari Tuhan.
Ia hanya dapat membawa dosa itu kepada Tuhan Yang mampu mengampuninya.

Tidak Melarikan Diri Bukan Berarti Terpenjara Selamanya

Mengakui bahwa kita tidak dapat lari dari perbuatan sendiri bukan berarti harus menjalani seluruh kehidupan dengan membenci diri.

Taubat bukan penjara yang mengikat manusia selamanya kepada masa lalu. Taubat justru mempertemukan masa lalu dengan rahmat Allah sehingga masa lalu itu tidak lagi menguasai masa depan.

Ada perbedaan antara melarikan diri dari tanggung jawab dan meninggalkan dosa setelah memperbaikinya.

Melarikan diri berarti menyangkal, menyembunyikan, atau membiarkan kerusakan tetap berada pada orang lain.

Meninggalkan dosa berarti mengakuinya, memohon ampun, memperbaiki akibatnya sejauh mungkin, lalu tidak membiarkannya menjadi identitas permanen.

Allah tidak memerintahkan pendosa yang telah bertobat untuk terus menyebut dirinya kotor. Allah memerintahkannya agar membersihkan diri, belajar, dan kembali berjalan.

Kerangka pembahasan

  1. Hubungan penggalan ini dengan pengakuan pada Bagian 78.
  2. Makna mafarr sebagai jalan atau tempat pelarian.
  3. Mimmā kāna minnī: keberanian mengakui bahwa perbuatan itu berasal dari diri sendiri.
  4. Manusia dapat menyembunyikan jejak sosial, tetapi tidak dapat menghapus kenyataan moral.
  5. Setiap amal ikut membentuk jiwa pelakunya.
  6. Taubat bukan pelarian dari tanggung jawab, melainkan keberanian menghadapinya.
  7. Tidak ada jalan lari dari Allah; jalan keselamatan justru berada dalam kepulangan kepada-Nya.

Pembuka syarah

Ada banyak hal yang dapat kita tinggalkan dengan berpindah tempat.

Seseorang dapat meninggalkan rumah, pekerjaan, pergaulan, bahkan kota tempat kesalahannya dilakukan.
Ia dapat mengganti nomor telepon, menutup akun lama, dan membangun kehidupan baru di hadapan orang-orang yang tidak mengenal masa lalunya.

Namun ada sesuatu yang tidak ikut tertinggal ketika ia pergi: perbuatannya.

Doa Kumail mengajarkan seorang hamba berkata:

> “Aku tidak menemukan jalan untuk melarikan diri dari apa yang telah kulakukan.”

Kalimat ini tidak hanya berbicara tentang Hari Kiamat. Bahkan di dunia, manusia sering menemukan bahwa perbuatan mempunyai cara sendiri untuk mengikutinya.

Kebohongan yang dahulu dianggap selesai dapat hidup dalam hilangnya kepercayaan. Kata-kata kasar yang telah dilupakan pelakunya mungkin masih tinggal di dalam ingatan orang yang terluka.
Hak yang dirampas dapat berubah menjadi kegelisahan yang tidak mampu diterangkan. Dosa yang terus disembunyikan dapat membentuk kebiasaan, lalu kebiasaan itu perlahan membentuk watak.

Perbuatan tidak selalu berhenti ketika tangan selesai melakukannya.

Sebagiannya masuk ke dalam jiwa dan tinggal di sana.

Karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Ya Allah, aku tidak menemukan jalan lari dari apa yang dilakukan orang lain kepadaku.” Ia berkata:

> Mimmā kāna minnī—“dari apa yang telah berasal dariku.”

Ada kejujuran yang menyakitkan dalam kalimat tersebut.

Kita memang pernah dipengaruhi lingkungan. Kita mungkin pernah dibesarkan dalam keadaan yang sulit.
Ada luka, tekanan, kemiskinan, ketakutan, dan godaan yang ikut membentuk pilihan. Allah mengetahui semuanya dengan keadilan yang sempurna.

Namun luka yang pernah kita terima tidak dengan sendirinya membenarkan luka yang kita berikan kepada orang lain.

Memahami sebab sebuah dosa tidak sama dengan membenarkan dosa itu.

Seseorang mungkin mengetahui mengapa dirinya mudah marah, tetapi pengetahuan itu belum membebaskannya dari kewajiban meminta maaf kepada orang yang telah dilukai.
Ia mungkin memahami mengapa dirinya takut kehilangan harta, tetapi ketakutan itu tidak mengubah hak orang lain menjadi miliknya.

Doa Kumail membawa manusia keluar dari seluruh tempat persembunyian batin.

Tidak ada gunanya menyalahkan keadaan apabila hati mengetahui bahwa kita pernah mempunyai kesempatan untuk memilih secara berbeda. Tidak ada gunanya mengubah cerita apabila Allah menyaksikan kejadian yang sebenarnya.
Tidak ada gunanya memenangkan penilaian manusia apabila kita kalah di hadapan kebenaran.

Namun kalimat ini bukan kalimat keputusasaan.

Seorang hamba memang tidak dapat berlari dari perbuatannya, tetapi ia masih dapat membawa perbuatannya kepada Allah.
Ia tidak mampu membuat masa lalu seolah-olah tidak pernah terjadi, tetapi Allah mampu mengampuni, menyucikan, dan—dengan taubat serta perbaikan yang tulus—mengubah arah hidupnya.

Jika dosa menyangkut hak manusia, langkah pertama bukan mencari tempat persembunyian, melainkan mencari jalan pemulihan.
Harta dikembalikan. Utang dibayar. Fitnah diluruskan. Kehormatan dipulihkan. Permintaan maaf disampaikan dengan tulus.

Jika dosa berada antara dirinya dan Allah, ia tidak perlu mengumumkannya kepada dunia. Ia membawanya ke tempat sujud, mengetuk pintu ampunan, dan membuktikan kepulangannya melalui perubahan.

Sebab taubat bukan kemampuan melarikan diri dari masa lalu.

Taubat adalah keberanian berdiri di hadapan masa lalu, mengakuinya, memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki, lalu menyerahkan apa yang tidak lagi sanggup dijangkau kepada rahmat Allah.

Pada akhirnya, kita tidak diselamatkan dengan menemukan tempat yang tidak diketahui Allah.

Kita diselamatkan ketika berhenti berlari—lalu kembali menghadap kepada-Nya.

Doa kumail

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JLS4TqynG/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us