Belajar TASAWUF (4): Ruju’ Ilallah (Kembali Menuju Allah)
Fitrah dan Dampak Dosa
Setiap manusia terlahir dengan fitrah untuk mengenali dan terhubung dengan Allah.
Melakukan keburukan atau dosa akan merusak, menenggelamkan, dan memudarkan cahaya fitrah tersebut.
Hal ini dapat menyebabkan gangguan kejiwaan atau personality complex karena seseorang telah mencederai hakikat dirinya sendiri.
Untuk menghidupkan kembali fitrah ini, manusia harus menempuh jalan Ruju’ yang terbagi dalam dua istilah utama: Taubat dan Inabah.
Taubat: Kembali dari Penentangan
Taubat didefinisikan sebagai upaya kembali dari penentangan terhadap hukum Allah menuju kepatuhan.
- Keadaan Tanpa Taubat:
Orang yang tidak bertaubat disebut sebagai orang yang zalim dan berada dalam kegelapan. Hati mereka bisa menjadi keras seperti batu atau bahkan lebih keras lagi, yang secara hakikat batiniah berarti mereka telah “mati”. - Mengenali Hakikat Dosa:
Sebelum bertaubat, seseorang harus menyadari bahwa dosa itu seperti ular yang terlihat indah namun memiliki bisa mematikan. Dosa adalah kegelapan yang menghancurkan eksistensi manusia dan menjauhkannya dari cahaya Ilahi. - Syarat-Syarat Taubat:
- An-Nadam (Penyesalan):
Menyesali dosa karena hakikatnya yang merusak, bukan sekadar takut ancaman. - Al-Istighfar:
Memohon agar pintu maaf dibuka oleh Allah. - Al-Iqlah:
Berusaha meninggalkan keburukan dan menggantinya dengan kebaikan.
- An-Nadam (Penyesalan):
- Hakikat Batin Taubat:
Meliputi Ta’dzhim al-Jinayah (tidak menyepelekan dosa kecil), Ittiham at-Taubat (khawatir taubatnya belum diterima), dan Thalab al-Ma’dzirah (memohon ampunan dengan sungguh-sungguh).
- Inabah: Menuju Kesempurnaan
Inabah adalah tingkatan ruju’ yang lebih tinggi, yaitu kembali kepada Allah bukan karena melakukan dosa besar, melainkan untuk memperbaiki kekurangan dalam ibadah (minal nuqshan ilal kamal).
Ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang tetap shalat hingga kakinya bengkak sebagai bentuk rasa syukur dan penyempurnaan diri.
Praktik dan Istiqomah dalam Kebaikan
Untuk menjaga konsistensi (istiqomah) dalam kebaikan, disarankan untuk:
- Mengenali nilai dari perbuatan baik itu sendiri sebagai penyempurna diri.
- Berada dalam jamaah atau lingkungan orang-orang saleh agar saling mengingatkan.
- Melakukan tindakan sebaliknya dari penyakit hati yang dimiliki (misal: memaksa diri bersedekah untuk mengobati sifat kikir).
- Memperbanyak Sholawat, karena sholawat adalah dzikir yang paling luar biasa untuk menyambungkan ruhani manusia dengan Rasulullah SAW sebagai pembimbing menuju Allah.
Kerinduan Eksistensial dan Hakikat Manusia
Kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” mencerminkan bahwa seluruh alam semesta sedang bergerak kembali menuju Puncak Kesempurnaan, yaitu Allah.
Manusia memiliki dua sisi: sisi material yang rendah (tanah) dan sisi ruhani yang mulia. Kejatuhan manusia terjadi ketika sisi ruhani yang tinggi tertutupi oleh sisi material yang rendah.
Proses Ruju’ adalah upaya untuk menyingkap tabir tersebut agar manusia kembali pada hakikat kesuciannya.

LIVE Belajar TASAWUF bersama Ustadz Dr Khalid al-Walid, setiap Ahad Jam 19.45 – 21.00
Silahkan membagikan/share video. Semoga jari-jemari Anda akan menjadi saksi mencintai Allah Swt, Rasul dan Ahlulbaitnya. Bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad.
Pusat Kajian Tasawuf Misykat:
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : www.misykat.net
Donasi Dakwah Digital:
Bank BRI 1141 01 000 401 56 2 an Yayasan Bahtera Cinta Almustofa
Cp WA 0812 239 14000
https://saweria.co/misykattv
#DiskusiDigital #MisykatTV
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






