Tentang Ridha (Bagian 4) – Pertemuan Cinta yang Tak Berjarak
Ada saat ketika doa berhenti berbunyi, bukan karena telah selesai, tetapi karena telah sampai.
Ada detik di mana hati tidak lagi mengucap “Ya Allah”, sebab seluruh semesta di dalamnya telah berubah menjadi “Allah.”
Di sanalah ridha berakhir, dan liqa’ Allah — perjumpaan cinta tanpa jarak — bermula.
Liqa’ Allah
Allah berfirman:
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam ibadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Kata liqa’ (لقاء) bukan sekadar “melihat”, tetapi “bertemu dengan kesadaran penuh.”
Ia bukan pertemuan dua entitas terpisah, tapi penyatuan kehendak dalam cinta yang saling mengenal.
Itulah sebabnya para arif berkata:
“Liqa’ bukan terjadi dengan mata kepala, tapi dengan mata hati yang telah terbakar oleh kerinduan.”
Dalam liqa’ Allah, yang bertemu bukan jasad dengan Zat, tapi kesadaran dengan Cahaya-Nya.
Dan tak seorang pun sampai ke sana tanpa ridha — karena hanya hati yang telah tenang yang mampu menatap Wajah-Nya.
Jalan Sunyi Para Kekasih
Ridha adalah gerbang, liqa’ adalah taman di baliknya.
Ridha menghapus keluhan; liqa’ menghapus jarak.
Dan di antara keduanya ada tangga rahasia: ma‘rifah — pengenalan yang lahir dari cinta.
Nabi Musa as memohon:
“Ya Rabb, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.”
Namun Allah berfirman:
“Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku.” (QS. Al-A’raf: 143)
Musa belum mencapai maqam ridha total; ia masih “ingin melihat.”
Sementara Rasulullah SAW tidak meminta melihat, karena beliau telah tenggelam dalam ridha.
Maka Allah menampakkan Diri-Nya kepadanya tanpa jarak,
“Qāba qawsaini aw adnā” — sedekat dua busur, bahkan lebih dekat lagi.
Inilah bedanya: yang masih ingin tidak akan melihat, tapi yang ridha akan disingkapkan tabirnya tanpa permintaan.
Liqa’ Menurut Irfan Ahlul Bait
Dalam pandangan irfan Ahlul Bait, liqa’ Allah bukan pertemuan fisik, tapi penyingkapan kebenaran tertinggi (kasyf al-haqiqah).
Allamah Thabathaba’i menulis dalam Tafsir Al-Mizan:
“Liqa’ adalah kesadaran sempurna bahwa tidak ada realitas selain Allah, dan seluruh wujud hanyalah tajalli (penampakan) dari Dzat-Nya.”
Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
“Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak kulihat.”
Melihat di sini bukan dengan mata, tapi dengan nur yang memancar dari batin yang telah suci.
Maka ketika seorang hamba mencapai maqam ridha, Allah menyingkap tabir dari hatinya, dan ia menyaksikan hakikat bahwa semua gerak, diam, dan waktu adalah kehendak Allah semata.
Ia tidak lagi bertanya “di mana Allah,” karena ia telah menjadi bagian dari kehadiran-Nya.
Para sufi menggambarkan liqa’ Allah sebagai syuhud — penyaksian cinta yang tak berjarak.
Rabi’ah al-Adawiyah berkata:
“Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau berharap surga,
tetapi karena Engkau layak untuk disembah.
Engkau adalah kekasihku, dan aku ingin melihat-Mu.”
Bagi Rabi’ah, liqa’ bukan akhir perjalanan, tetapi keadaan di mana cinta manusia telah dihapus oleh cinta Ilahi.
Demikian pula Jalaluddin Rumi berkata:
“Cinta adalah jembatan antara engkau dan segala sesuatu.”
Dalam jembatan itu, semua bentuk hilang — yang tersisa hanya cahaya.
Itulah makna firman Allah:
“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, melihat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Qiyamah: 22–23)
Para arif memahami ayat ini bukan secara fisik, tetapi batiniah:
“Melihat kepada Tuhannya” berarti menyaksikan rahasia keberadaan, bahwa tidak ada sesuatu pun kecuali Dia.
⸻
Cinta sejati selalu menghapus “dua”: yang mencinta dan yang dicinta.
Yang tersisa hanyalah cinta itu sendiri — dan cinta itu adalah Allah.
Ketika seorang hamba telah mencapai liqa’ Allah, ia tidak lagi berkata “Aku mencintai Allah,” karena cinta itu telah menjadi dirinya.
Imam Ali berkata:
“Cinta kepada Allah adalah api yang tidak tinggal kecuali wajah-Nya.”
Maka liqa’ bukan peristiwa, tapi keadaan:
Ketika hamba sudah tidak memiliki kehendak,
tidak punya kepentingan,
tidak butuh pujian,
karena seluruh dirinya telah menjadi pantulan dari Nama-Nya.
Itulah sebabnya dalam doa-doa para Imam, kalimat ini sering muncul:
“Ya Allah, jadikan aku sebagaimana yang Engkau kehendaki. Jika Engkau ridha padaku, maka aku pun ridha pada-Mu.”
Di situlah hamba dan Tuhan bertemu — bukan di langit, bukan di bumi, tetapi di titik ridha yang menyatukan segalanya.
Liqa’ Allah dalam Kehidupan Dunia
Liqa’ tidak menunggu kematian.
Setiap sujud yang tulus adalah pertemuan kecil dengan Allah.
Setiap air mata yang jatuh tanpa keluhan adalah tanda bahwa hati telah mengetuk pintu liqa’.
Dan setiap kali seseorang berkata dengan sungguh-sungguh,
“Hasbiyallāh” — Cukuplah Allah bagiku,
maka pada saat itu, tabir antara dirinya dan Tuhannya menjadi tipis.
Liqa’ tidak butuh tempat dan waktu, karena ia adalah keadaan ketika Allah berkata kepada jiwa:
“Aku bersamamu, lebih dekat dari urat lehermu.”
Ketika ridha mencapai puncaknya, hamba berhenti memohon, dan Allah berhenti menyembunyikan Diri.
Yang tersisa hanyalah tatapan cinta dua arah — tanpa bahasa, tanpa jeda, tanpa ruang.
Maka setiap orang yang berjuang mencintai, bersabar, dan akhirnya ridha, akan merasakan sekelebat pertemuan itu:
sebuah keheningan yang damai, sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa tidak ada yang salah dalam hidup ini, karena semuanya dari Dia dan untuk Dia.
Dan mungkin di saat itulah, Allah berfirman dalam hatinya,
seperti Ia pernah berfirman kepada kekasih-Nya Muhammad SAW:
“Wa lasaufa yu‘ṭīka rabbuka fa tarḍā — Dan sungguh, Tuhanmu akan memberimu hingga engkau ridha.”
Bukan sekadar janji, tapi undangan abadi —
agar setiap jiwa yang mencintai belajar untuk ridha,
dan setiap jiwa yang ridha akhirnya melihat Allah
dalam setiap helaan nafasnya.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel sumber: https://www.facebook.com/share/p/1ByKvX8kin/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


