Narasumber :
Prof Dr. Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta)
Prof Dr. Din Syamsuddin, MA. (Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia)
Prof Dr. Imam Suprayogo (Guru Besar UIN Malang )
Prof Dr. Hakimelahi ( Direktur ICC Jakarta)
Pendahuluan dan Makna Taqrib
Webinar ini diselenggarakan untuk mengenang wafatnya Ayatullah Ali Taskhiri, seorang tokoh besar dalam upaya persatuan umat Islam.
Inti dari diskusi ini adalah pemahaman bahwa pendekatan antar mazhab (taqrib) bukanlah upaya untuk menghilangkan perbedaan atau meleburkan satu mazhab ke mazhab lainnya.
Sebaliknya, taqrib adalah upaya membangun kesepahaman (mutual understanding), mengikis kecurigaan, memperkecil potensi konflik, dan membangun kerjasama produktif demi peradaban Islam yang lebih maju.
Ayatullah Ali Taskhiri: Sang Jembatan Persatuan
Para narasumber mengenang almarhum sebagai sosok “jembatan sejati” antara Sunni dan Syiah.
- Prof. Din Syamsuddin
menekankan bahwa kepergian Ayatullah Taskhiri adalah kehilangan besar bagi dunia Islam.
Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat alim, menguasai berbagai disiplin ilmu seperti Fiqih, Kalam, hingga Filsafat Barat, namun tetap memiliki kepribadian yang sangat lembut dan menyentuh hati. - Prof. Hakim Ilahi
menambahkan sisi kemanusiaan beliau yang sangat sederhanaโtidak memiliki rumah atau kendaraan pribadi hingga akhir hayatnyaโdan dedikasi kerjanya yang luar biasa meskipun dalam kondisi fisik yang lemah.
Perspektif Indonesia: Tenda Besar Umat
Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk mengarusutamakan Wasathiyah Islam (Islam moderat).
- Prof. Nasaruddin Umar
berbagi pengalaman tentang betapa terbukanya ulama Indonesia (khususnya di kalangan NU).
Beliau menyebutkan bahwa Tafsir Al-Mizan (karya ulama Syiah, Thabathaba’i) sangat digemari dan dipelajari di pondok-pondok pesantren karena kedalaman ilmunya.
Beliau juga menekankan prinsip “femininity superpower”, yaitu kekuatan kelembutan yang jauh lebih efektif dalam menyelesaikan masalah dibandingkan kekerasan. - Prof. Din Syamsuddin
berharap Majelis Ulama Indonesia (MUI) dapat menjadi “tenda besar” yang mengayomi seluruh mazhab tanpa terjebak dalam sentimen “menang-kalah” atau terpengaruh oleh proxy war global yang ingin mengadu domba umat.
Kunci Persatuan: Dari Hati ke Aksi
- Prof. Imam Suprayogo
berpendapat bahwa sumber perpecahan seringkali bukan pada teks agama, melainkan pada hati manusia yang dipenuhi penyakit seperti kesombongan atau ketidakmauan untuk mengalah.
Beliau menyarankan agar umat Islam fokus memperbaiki diri sendiri dan membersihkan hati melalui shalat yang khusyuk.
Persatuan hanya bisa terjalin jika ada rasa kasih sayang (rahmah) antar sesama.
Cinta untuk Indonesia
Ayatullah Ali Taskhiri semasa hidupnya sangat mencintai Indonesia dan menganggapnya sebagai kebanggaan umat Islam dunia karena populasi dan kemajuannya.
Beliau selalu menaruh hormat tinggi kepada ulama-ulama Indonesia seperti Prof. Quraish Shihab dan tokoh lainnya.

Yuk Subscribe Channel ICC Jakarta TV:

