SYARAH DOA KUMAIL (33) – YANG MENUNDUKKAN TANPA HARUS BERJUANG
Teks Doa Kumail
> وَغَلَبَ قَهْرُكَ
Wa ghalaba qahruka.
“Dan menanglah kuasa-Mu yang menundukkan.”
Terjemahan penjelasnya: “Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan kemahakuasaan-Mu.”
Tema utama
Qahr Allah bukan kekejaman atau penindasan. Ia adalah kemahakuasaan yang tidak membutuhkan perjuangan, siasat, atau bantuan karena seluruh makhluk sejak awal bergantung kepada-Nya.
Kekuatan manusia bersifat berbalik. Orang yang hari ini menaklukkan dapat besok ditaklukkan. Penguasa dapat digulingkan, pasukan dapat dikalahkan, dan tubuh terkuat sekalipun akhirnya ditundukkan usia.
Tidak demikian dengan Allah. Dia tidak memperoleh kemenangan setelah sebelumnya terancam kalah. Tidak ada kekuatan yang berdiri sejajar dengan-Nya.
Qahr Allah adalah ketakterlawanan kehendak dan keadilan-Nya, bukan tindakan zalim terhadap makhluk.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-An‘am 6:18
> وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
“Dialah Yang Mahamenundukkan di atas hamba-hamba-Nya, dan Dia Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.”
Ayat ini langsung menghubungkan qahr Allah dengan hikmah dan pengetahuan. Kekuasaan-Nya tidak buta, sewenang-wenang, atau lahir dari ketidaktahuan. QS Al-An‘am 6:18
- QS Ar-Ra‘d 13:16
> قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
“Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan.”
Allah menundukkan segala sesuatu karena Dialah Penciptanya. Tidak ada makhluk yang memiliki keberadaan mandiri untuk melawan sumber keberadaannya sendiri. QS Ar-Ra‘d 13:16
- QS Yusuf 12:21
> وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Allah berkuasa memenangkan urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Saudara-saudara Nabi Yusuf as merasa telah mengendalikan masa depannya dengan memasukkannya ke dalam sumur. Namun Allah menjadikan jalan yang mereka pilih sebagai awal terwujudnya rencana yang hendak mereka gagalkan. QS Yusuf 12:21
Riwayat Ahlul Bait
Dalam riwayat teologis yang dinisbatkan kepada Imam Ali ar-Ridha as, beliau menjelaskan:
> وَأَمَّا الْقَاهِرُ فَلَيْسَ عَلَى مَعْنَى عِلَاجٍ وَنَصَبٍ وَاحْتِيَالٍ
“Adapun Al-Qāhir, maknanya bukan menundukkan melalui pergulatan, kelelahan, atau siasat.”
Riwayat itu membedakan penundukan Allah dari kemenangan manusia. Manusia membutuhkan tenaga dan strategi; pemenang manusia dapat kembali dikalahkan.
Adapun kehendak Allah tidak menghadapi kekuatan tandingan yang mandiri. Al-Kāfī, Kitab Tauhid, bab tentang sifat-sifat Allah, hadis 2
Catatan: Riwayat ini disampaikan secara mursal—rantai perawinya tidak lengkap—dari Imam ar-Ridha as. Allamah al-Majlisi juga menandainya mursal.
Kerangka pembahasan
- Makna qahr sebagai kemahakuasaan yang tidak dapat dilawan.
- Perbedaan antara penundukan Ilahi dan penindasan manusia.
- Allah tidak membutuhkan tenaga, siasat, pasukan, atau bantuan.
- Kekuatan makhluk dapat berubah menjadi kelemahan.
- Kematian menyingkap keterbatasan semua kekuasaan dunia.
- Keyakinan kepada qahr Allah menenangkan orang tertindas sekaligus memperingatkan penindas.
- Seorang mukmin tunduk kepada Allah dengan kesadaran sebelum ditundukkan oleh kepastian kematian.
Pembuka syarah
Setiap kemenangan manusia menyimpan kemungkinan kekalahan.
Pasukan yang hari ini menguasai medan dapat besok dipukul mundur. Penguasa yang perintahnya ditakuti dapat kehilangan kursinya. Tubuh yang kuat perlahan menua. Bahkan seseorang yang mampu menentukan hidup dan mati orang lain tidak sanggup memerintahkan jantungnya sendiri agar terus berdenyut.
Kekuasaan makhluk selalu berdiri di tepi kelemahannya.
Doa Kumail membawa kita kepada kekuasaan yang tidak mengenal keadaan demikian:
> “Dan menanglah kuasa-Mu yang menundukkan.”
Allah tidak berjuang untuk menang. Dia tidak menghadapi lawan yang mempunyai kekuasaan mandiri. Tidak ada saat ketika hasil perlawanan antara Allah dan makhluk masih harus ditunggu.
Namun qahr Allah bukanlah kezaliman.
Manusia menindas karena takut kehilangan kekuasaan. Ia menggunakan kekerasan karena merasa terancam. Ia menipu karena tidak mampu mencapai tujuannya dengan cara yang benar.
Semua itu merupakan tanda kelemahan yang mengenakan pakaian kekuatan.
Allah tidak takut kehilangan kerajaan-Nya.
Dia tidak terancam oleh kemaksiatan manusia. Karena itu, penundukan Allah tidak lahir dari kegelisahan, kebencian buta, atau kebutuhan mempertahankan kedudukan. Ia berjalan bersama ilmu dan hikmah-Nya.
Keyakinan ini mengandung penghiburan bagi orang-orang yang dizalimi. Penindas mungkin mempunyai senjata, jaringan, kekayaan, dan kekuasaan hukum.
Namun semua itu berada dalam kerajaan Allah. Kekuatan yang dipakai untuk melakukan kezaliman dapat dicabut sebelum pelakunya menyelesaikan rencananya.
Penggalan ini sekaligus memperingatkan kita agar tidak mengagumi kekuasaan dunia secara berlebihan.
Fir‘aun tampak menguasai negeri, tetapi tidak menguasai air yang akhirnya menenggelamkannya. Saudara-saudara Yusuf dapat melemparkannya ke dalam sumur, tetapi tidak mampu menghalangi Allah mengangkatnya.
Pasukan Yazid dapat menutup jalan menuju air, tetapi tidak dapat mencegah nama Husain as menjadi mata air bagi hati jutaan manusia.
Manusia dapat menunda datangnya keadilan.
Namun ia tidak dapat mengalahkan Pemilik keadilan.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JLaoPCkhF/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


