SYARAH DOA KUMAIL (27) – JANGAN MENUNGGU BADAI UNTUK MENGENAL PINTU-NYA
Teks Doa Kumail
> وَأَنْزَلَ بِكَ عِنْدَ الشَّدَائِدِ حَاجَتَهُ
Wa anzala bika ‘inda asy-syadā’idi ḥājatahu.
“Dan meletakkan kebutuhannya di hadapan-Mu ketika berbagai kesulitan menimpanya.
Tema utama
Kesulitan meruntuhkan tempat-tempat bersandar yang semu dan mengajarkan manusia membawa kebutuhannya kepada Allah. Namun hubungan dengan-Nya tidak seharusnya hanya hidup pada saat keadaan darurat.
Ungkapan anzala bika ḥājatahu menggambarkan seseorang yang menurunkan dan menempatkan seluruh kebutuhannya di hadapan Allah. Ia tidak lagi menyembunyikan kelemahan, mengandalkan kepura-puraan, atau berpindah dari satu pintu makhluk ke pintu lainnya dengan melupakan Pemilik semua pintu.
Mengadu kepada Allah bukanlah kegagalan iman. Para nabi mengadukan kesulitan mereka kepada-Nya. Yang keliru ialah hanya mengenal Allah ketika seluruh jalan lain telah tertutup, kemudian melupakan-Nya setelah pertolongan datang.
Ayat Al-Qur’an
- QS An-Naml 27:62
> أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
“Siapakah yang menjawab orang yang berada dalam kesulitan ketika ia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan keburukan?”
Keterdesakan dapat membersihkan doa dari kepura-puraan. Ketika seluruh sandaran runtuh, hati memanggil Allah dengan kesadaran yang dahulu tertutup oleh rasa aman. QS An-Naml 27:62
- QS Yunus 10:12
> وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ
“Apabila manusia ditimpa kesulitan, ia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, ataupun berdiri. Namun setelah Kami menghilangkan kesulitannya, ia berlalu seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Kami mengenai kesulitan yang menimpanya.”
Masalah manusia bukan karena ia berdoa ketika sulit. Masalahnya adalah ia kembali lalai setelah kesulitan itu diangkat. QS Yunus 10:12
- QS Al-Anbiya 21:83
> وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Dan ingatlah Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku telah disentuh penderitaan, dan Engkaulah Yang Maha Penyayang di antara seluruh penyayang.’”
Nabi Ayyub as tidak menyangkal rasa sakitnya. Beliau menyampaikan penderitaannya dengan jujur, tetapi tetap menjaga adab serta kepercayaan kepada rahmat Allah. QS Al-Anbiya 21:83
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa ke-7 ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, disebutkan:
> يَا مَنْ تُحَلُّ بِهِ عُقَدُ الْمَكَارِهِ، وَيَا مَنْ يَفْثَأُ بِهِ حَدُّ الشَّدَائِدِ، وَيَا مَنْ يُلْتَمَسُ مِنْهُ الْمَخْرَجُ إِلَىٰ رَوْحِ الْفَرَجِ
“Wahai Dia yang melalui-Nya simpul-simpul kesulitan terurai; wahai Dia yang melalui-Nya ketajaman penderitaan ditumpulkan; wahai Dia yang dari-Nya jalan keluar menuju kelapangan pertolongan dicari.”
Doa itu tidak hanya memohon agar masalah disingkirkan, tetapi juga agar kegelisahan tidak menyibukkan seorang hamba dari kewajiban-kewajibannya kepada Allah.
Catatan: Doa ke-7 termasuk dalam korpus inti ash-Sahifah as-Sajjadiyyah dan secara masyhur dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as.
Kerangka pembahasan
- Kesulitan sebagai penyingkap rapuhnya sandaran manusia.
- Membawa kebutuhan kepada Allah merupakan tindakan tauhid.
- Mengadu kepada Allah berbeda dari berburuk sangka kepada-Nya.
- Doa pada saat sulit harus dilanjutkan dengan syukur setelah kelapangan.
- Memohon pertolongan tidak menggugurkan kewajiban berusaha.
- Hubungan dengan Allah seharusnya hidup sebelum, selama, dan sesudah badai.
Pembuka syarah
Ada pintu yang baru diingat manusia setelah seluruh pintu lainnya tertutup.
Selama kekuatan masih tersedia, ia bersandar kepada kekuatannya. Selama uang masih mencukupi, ia percaya kepada hartanya. Selama manusia masih berada di sekelilingnya, ia menggantungkan harapan kepada mereka.
Kemudian kesulitan datang.
Kekuatan tidak cukup. Harta tidak mampu membeli jalan keluar. Orang-orang yang berjanji akan tinggal mulai menjauh. Manusia akhirnya berdiri di hadapan kenyataan bahwa tidak semua beban dapat dipikul oleh tangan makhluk.
Doa Kumail menggambarkannya:
> “Ia meletakkan kebutuhannya di hadapan-Mu ketika berbagai kesulitan menimpanya.”
Ada keindahan dalam ungkapan meletakkan kebutuhan. Seorang hamba tidak diperintahkan berpura-pura kuat di hadapan Allah. Ia boleh datang membawa ketakutan, kebingungan, dan air matanya. Allah telah mengetahui semuanya sebelum lidah mampu menjelaskannya.
Namun penggalan ini juga mengandung teguran yang halus.
Mengapa kita baru sungguh-sungguh mengenal pintu Allah setelah seluruh pintu dunia mengecewakan?
Mengapa suara doa menjadi jujur hanya ketika bahaya mendekat, lalu kembali menjadi kebiasaan tanpa hati setelah keselamatan datang?
Allah tidak keberatan didatangi ketika kita terluka. Dia justru memanggil orang yang berada dalam kesulitan. Akan tetapi, kedewasaan ruhani dimulai ketika kita tetap mengingat-Nya setelah luka sembuh.
Jangan menunggu badai untuk mengenal pintu-Nya.
Datanglah ketika susah dan senang; ketika meminta maupun berterima kasih; ketika jalan tertutup maupun ketika seluruh jalan sedang terbuka.
Sebab Tuhan yang menolong dalam kesulitan adalah Tuhan yang selama masa tenang tidak pernah meninggalkan kita.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JHZhtvTWh/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


