Seri Tentang Doa (Bagian 2)
Doa yang Menemukan Pemiliknya
Malam turun perlahan di lembah itu. Cahaya bulan menetes di antara ranting pinus seperti tinta perak di atas kertas langit. Kakek Gunung masih duduk di balai bambunya, sementara pemuda yang tadi siang datang kini sudah bersiap pulang. Tapi sebelum ia beranjak, Kakek Gunung berkata pelan:
“Belum semua rahasia doa kau pahami, Nak. Ada satu lagi: doa yang menunggu pemiliknya.”
Pemuda itu berhenti dan kembali duduk.
“Apa maksudnya, Kek?”
Kakek Gunung menatap jauh, ke arah bintang yang berkelip di atas lembah.
“Doa itu bukan sekadar kalimat yang keluar dari bibir. Ia adalah makhluk cahaya. Bila engkau berdoa dengan hati yang jujur dan niat yang bersih, doa itu hidup—ia berjalan di antara waktu, mencari tempat dan saat untuk menunaikan janji Tuhan.”
Pemuda itu tertegun, “Mencari tempat dan saat?”
“Iya,” jawab Kakek Gunung sambil mengangguk. “Ada doa yang kau panjatkan hari ini, tapi baru akan menemukan pemiliknya setelah seratus tahun. Bukan lagi dirimu, melainkan anak cucumu.
Doa seorang ayah bisa menjadi pelindung bagi anak yang belum lahir. Doa seorang ibu bisa menjadi benteng bagi keturunannya hingga tujuh turunan.
Doa itu tidak hilang. Ia hanya menunggu jiwa yang pantas menjemputnya.”
Pemuda itu menunduk, teringat ibunya yang selalu mendoakan dalam diam.
“Berarti, Kek… bisa jadi aku hidup dalam doa yang dulu dipanjatkan oleh seseorang yang bahkan tak kukenal?”
Kakek Gunung tersenyum lembut.
“Itulah misteri cinta Tuhan, Nak. Ia mengikat manusia bukan hanya lewat darah, tapi lewat doa.
Mungkin engkau selamat dari bahaya karena kakekmu dulu berdoa di tengah hujan deras.
Mungkin rezekimu datang karena nenekmu dulu menangis di sepertiga malam.
Mungkin hatimu kuat karena ada seseorang di masa lalu yang berdoa agar keturunan mereka tak mudah menyerah.”
Pemuda itu menatap langit, dan dadanya seperti disiram kesejukan yang tak bisa dijelaskan.
“Kalau begitu, Kek… apa yang harus kulakukan dengan semua doa yang belum terkabul?”
Kakek Gunung menjawab sambil menatap jauh ke arah lembah yang diselimuti kabut tipis:
“Teruslah berdoa, Nak. Jangan pernah hitung berapa banyak yang dijawab. Karena tugasmu bukan memastikan hasil, tapi menjaga nyala harapan.
Doa yang tak kau lihat jawabannya hari ini mungkin sedang meniti waktu, menunggu tubuhmu berhenti tapi ruhmu tetap hidup dalam cahaya.”
Pemuda itu mengusap air matanya. Ia paham sekarang — doa bukan hanya tentang dirinya, tapi tentang garis panjang kasih sayang yang melintasi waktu.
Kakek Gunung lalu menatapnya lembut dan menutup dengan kalimat yang mengguncang:
“Doa sejati tak pernah mati, Nak. Ia hanya berpindah penjaga.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel sumber: https://www.facebook.com/share/p/18pUQzoqBm/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


