Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Pembuka dan Tinjauan Seri Sebelumnya
Para pemirsa yang budiman di mana saja Anda berada, semoga Allah senantiasa tidak henti-hentinya memberikan inayah (pertolongan dan bimbingan) kepada Anda sekalian, begitu pula kepada kami.
Semoga kita selalu mendapatkan inayah untuk taat, inayah untuk bertaubat dari kesalahan-kesalahan, inayah untuk menjauhi kesalahan, serta inayah untuk terus meninggikan kebaikan sehingga kita bisa mencapai derajat orang-orang yang didekatkan kepada Allah (Muqarrabin), amin ya rabbal alamin.
Pada pertemuan ke-7 sebelumnya, kita telah membahas mengenai kepemilikan ruh pada semua makhluk materi.
Ruh ternyata tidak hanya dimiliki oleh manusia dan binatang saja, melainkan juga oleh pepohonan, batuan, tanah, air, gunung, bumi, matahari, dan semua makhluk materi lainnya.
Unsur lain di dalam makhluk-makhluk materi tersebut dinamakan ruh, yang pada hakikatnya merupakan keberadaan non-materi.
Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan argumentasi mengenai sifat ke-non-materi-an ruh ini, yang sekaligus menjadi pendekatan atau argumen terakhir dalam pelajaran akhlak kita.
Pembahasan mengenai ruh dari dimensi filsafat yang lebih meluas mungkin akan kita pelajari di kesempatan atau tempat lain.
Dua Pertentangan dalam Diri Manusia: Jasmani vs Rohani
Dalam argumen terakhir ini, terdapat dua hal yang saling bertentangan di dalam diri manusia, baik dari sudut perkembangan (peningkatan) maupun penurunannya.
Pada umumnya, ketika seorang anak kecil tumbuh menjadi besar dan badannya berkembang secara fisik, ruhnya juga ikut berkembang dan menyempurna.
Melalui penyempurnaan ruh ini, sang anak dapat mengenal lingkungannya dengan lebih baik.
Tidak hanya mampu mengenali hal fisik (seperti warna, wajah orang tua, atau perbedaan antara kursi, lemari, rumah, dan mobil), ia juga mulai memahami konsep-konsep abstrak yang tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Pemahaman ini meliputi perasaan cinta, marah, rasa tidak suka, dan sebagainya, yang merupakan hakikat dan pekerjaan non-materi dari ruh manusia.
Namun, dalam perjalanan hidup manusia, ada waktu atau keadaan tertentu di mana perkembangan fisik dan rohani ini berjalan secara berlawanan.
Ada kalanya badan manusia terus berkembang tetapi ruhnya justru menurun, atau sebaliknya, fisik manusia menurun namun ruhnya terus mengembang dan menyempurna.
Contoh Kasus: Perkembangan Fisik yang Mengakibatkan Penurunan Ruh
Mari kita lihat contoh pertama, yaitu ketika seorang anak tumbuh dewasa dari keadaan fitrahnya yang suci.
Secara fisik, badannya tumbuh sempurna menjadi pemuda yang gagah dan kuat.
Ia bahkan bisa menjadi juara dunia dalam bidang olahraga yang mengandalkan kekuatan fisik, misalnya yudo atau tinju.
Namun, kondisi fisiknya yang prima ini bisa berbanding terbalik dengan kondisi ruhnya yang justru mengalami penurunan.
Ketenangannya berkurang, tawakalnya menurun, dan ilmunya pun merosot. Padahal, ilmu merupakan bentuk kesempurnaan dari unsur non-materi.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Dalam olahraga tinju, misalnya, karena kepalanya sering digempur oleh pukulan (bogeman), otak yang berfungsi sebagai alat berpikir bagi ruh akhirnya mengalami gangguan fisik.
Akibatnya, ia menjadi susah menghafal.
Jika dilihat dari dimensi akhlak, takwa, dan psikologi, ia mungkin saja menjadi olahragawan nomor satu di dunia, tetapi kesempurnaan akhlak dan ruhaninya berada jauh di bawah orang yang memiliki keterbatasan fisik (cacat) sekalipun.
Sudut pandang psikologi ini mungkin tidak dapat diterima dalam dunia keilmuan materialis.
Namun kenyataannya, ketika ruhnya menurun dan tidak sehat, akan muncul sifat keserakahan, hasut-menghasut, kebencian, serta kecenderungan untuk saling menjegal pesaingnya.
Secara moralitas materialis pun, ia jatuh ke dalam jurang mental yang lemah dan sakit.
Ia mengalami susah tidur, diliputi kegelisahan, tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, bahkan kerap menggunakan zat seperti morfin demi mencari kepuasan instan.
Di dalam ilmu psikologi saja, orang dengan kondisi demikian sudah digolongkan sebagai orang yang sakit ruhnya, apalagi jika ditinjau dari ilmu akhlak Islami.
Melalui penjelasan ini, kita dapat membantah pandangan kaum materialis yang mengeklaim bahwa manusia seutuhnya hanyalah materi fisik.
Jika manusia murni materi, mengapa bisa terjadi kondisi yang bertolak belakang di mana fisiknya berkembang sempurna namun ruhnya mengalami penurunan drastis?
Ketidakselarasan perkembangan ini membuktikan bahwa ruh manusia bukanlah materi, karena ia tidak selalu tunduk pada hukum perkembangan materi badannya.
Usia 40 Tahun: Momentum Titik Balik Ruhani
Sebaliknya, ada kondisi di mana fisik manusia menurun tetapi ruhaninya justru semakin menguat.
Contoh nyatanya adalah ketika manusia memasuki usia 40 tahun.
Bayangkan seseorang yang di masa mudanya tidak beriman, atau ia beriman tetapi tidak bertakwa.
Begitu memasuki usia 40 tahun, ia melakukan koreksi diri, bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan mulai bertakwa.
Secara fisik, tubuhnya mulai melemah, namun dari sisi rohani, ia mengalami penguatan yang luar biasa.
Hal yang sama terjadi pada orang yang memang sudah menjaga diri sejak muda dengan tidak pernah meninggalkan ketaatan dan menjauhi maksiat.
Latihan diri yang konsisten sejak masa kecil dan muda tersebut membuat kesempurnaan ruhaninya melesat semakin tinggi saat memasuki usia 40 tahun ke atas.
Oleh karena itu, usia 40 tahun dapat diibaratkan sebagai titik lepas landas (take-off) atau titik jatuh bagi manusia.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa jika seorang manusia tidak mampu mengambil manfaat dari ibadah shalatnya hingga mencapai usia 40 tahun, maka setan akan mengusap wajahnya sembari berkata: “Sudahlah, engkau ini sudah menjadi golonganku.”
Begitu krusialnya usia ini, bahkan Rasulullah SAW pun diangkat menjadi utusan Allah pada usia 40 tahun.
Pada usia 40 tahun ke atas, ruh orang-orang mukmin umumnya terus menaik, menyempurna, dan “terbang” melanglang buana dengan sangat ringan.
Mengapa mereka bisa terbang dengan ringan? Karena mereka telah berhasil memutus keterikatan jasmaninya dengan dunia materi.
Pada hakikatnya, ketika kita makan dan minum secara berlebihan, hal itu membuat jasmani kita terasa berat dan “membumi” (terbebani oleh materi).
Oleh karena itu, orang mukmin tidak menjadikan aktivitas makan dan minum sebagai sarana untuk mengejar kelezatan atau berfoya-foya, melainkan sekadar untuk menjaga kesehatan tubuh agar bisa digunakan untuk urusan ukhrawi dan maknawiyah.
Dunia ini dipandang murni sebagai tempat bercocok tanam untuk akhirat.
Dalam urusan duniawi, mereka hidup dengan sangat sederhana.
Jika Imam Ali AS hanya makan dengan satu lauk saja, kita mungkin masih menggunakan dua atau tiga lauk (meskipun ada yang bermewah-mewah hingga sepuluh lauk).
Namun, bagi orang yang ruhaninya menyempurna, segala fasilitas seperti pakaian, kendaraan, dan rumah dirasa cukup dengan kesederhanaan saja.
Karena fokus utama mereka hanyalah akhirat, keterikatan jasmani dengan materi menjadi sangat berkurang.
Ketika tubuh jasmani telah teringankan dengan memutus sentuhan materi ini, manusia akan dengan mudah terbang menuju langit derajat kesempurnaan yang lebih tinggi.
Derajat kedekatan di sisi Allah SWT ini merupakan pencapaian luar biasa yang berada di atas kesempurnaan surgawi.
Jika kita telah membangun pondasi spiritual yang kokoh di masa muda dan istiqamah hingga umur 40 tahun, maka dengan izin Allah, ruh kita akan menyempurna dan terbang dengan ringan.
Penerbangan spiritual ini didukung oleh melemahnya struktur biologis tubuh kita pada usia tersebut; di mana nafsu makan mulai menurun dan kekuatan syahwat juga mulai melemah.
Namun sebaliknya, jika seseorang tidak menata masa mudanya dengan baik, ruhnya yang bersifat non-materi justru akan semakin menancap ke bumi dan “memateri” (terfokus penuh pada hal duniawi).
Akibatnya, pada usia 40 tahun ia akan kesulitan untuk bertaubat meskipun pintu taubat selalu terbuka lebar, bahkan keburukannya bisa semakin menjadi-jadi.
Penegasan Kesimpulan Filosofis Ruh
Kembali ke topik utama mengenai bukti ke-non-materi-an ruh: karena kondisi jasmani dan rohani manusia bisa saling bertolak belakang (jasmani naik ruh turun, atau jasmani turun ruh naik), maka dapat disimpulkan secara pasti bahwa ruh manusia adalah non-materi.
Seandainya ruh itu bersifat materi dan merupakan bagian dari fisik manusia, ia pasti akan selalu tunduk pada hukum perkembangan tubuh jasmaninya.
Ketika fisik menguat, ruh harus ikut menguat; dan ketika fisik melemah, ruh pun harus ikut melemah.
Namun, kenyataan bahwa terdapat gerakan naik-turun yang bertolak belakang membuktikan adanya unsur lain di dalam diri manusia yang jenisnya sama sekali berbeda dengan jasmani.
Unsur non-materi inilah yang kita kenal sebagai ruh atau jiwa manusia.
Menjawab Sanggahan/Syubhat tentang Pikun di Hari Tua
Mungkin para pemirsa akan bertanya atau menyanggah: “Bagaimana dengan fenomena orang yang menua lalu ingatan, penglihatan, dan pendengarannya melemah? Bukankah itu menunjukkan ruh melemah seiring melemahnya fisik (pikun)?”
Ada dua jawaban filosofis untuk menjawab keraguan (syubhat) ini:
- Jawaban Pertama:
Penekanan argumen di atas bukanlah bahwa ruh selalu harus bergerak berlawanan dengan jasmani.
Adakalanya memang kondisi fisik dan ruh menurun bersamaan. Contohnya, seseorang yang tadinya sehat walafiat dan bertakwa, lalu di usia 40 tahun terjerumus menjadi pengguna morfin hingga meninggalkan shalatnya—dalam kasus ini, baik fisik maupun ruhaninya sama-sama mengalami penurunan.
Pikun pada orang tua juga bisa serupa. Namun poin pentingnya adalah, adanya satu saja gerakan berbeda antara perkembangan ruh dan jasmani (baik gerakan naik maupun turun yang tidak searah) sudah menjadi bukti kuat bahwa keduanya adalah zat yang berbeda.
Sebab jika ruh itu materi, gerakannya mutlak harus selalu searah dengan perubahan fisik. - Jawaban Kedua:
Hal yang sesungguhnya melemah pada usia tua bukanlah ruhnya, melainkan alatnya.
Organ fisik seperti mata, telinga, dan otak hanyalah alat materi yang digunakan oleh ruh untuk melihat, mendengar, dan mengingat.
Ketika organ fisik tersebut melemah akibat penuaan, ruh tidak lagi memiliki alat yang memadai untuk mengekspresikan ketajaman penglihatan atau ingatannya.
Jadi, yang menurun fungsinya adalah alat fisik tersebut, bukan esensi ruhnya.
Sebagai buktinya, kita sering melihat para ulama besar yang semakin tua justru tidak mengalami pikun. Mengapa?
Karena pencapaian akhlak dan ilmu yang mereka miliki sudah mensubstansi (menjauhar/menjadi zat diri) mereka, bukan lagi sekadar sifat luaran (aradh atau accident).
Perbedaan antara Sifat Aksidental (Aradh) dengan Zat/Substansi (Jauhar)
Dalam kajian akhlak seri pertama, kita pernah mempelajari konsep malakah, yaitu kepemilikan sifat yang telah menyatu erat dan tidak terpisahkan dari diri manusia.
- Aksiden (Aradh / Sifat):
Sifat yang masih bisa lepas dari diri kita. Misalnya, seseorang yang melatih diri untuk menahan pandangan dari yang bukan muhrim sebanyak sepuluh kali, namun di lain waktu ia masih bisa goyah dan melihatnya kembali.
Ini berarti kepatuhan tersebut masih berupa sifat sementara (aradh). - Substansi (Jauhar / Zat):
Ketika akhlak tersebut sudah menjadi bagian mutlak dari zat dirinya (mensubstansi atau tajahhur), sehingga mustahil baginya untuk melakukan pelanggaran tersebut.
Sebagai contoh, ibadah shalat malam atau puasa yang sudah menjauhar; jika ia tidak melakukannya, ia merasa bagaikan mati.
Bahkan jika ia ditawarkan emas sebanyak satu gunung pun agar meninggalkan puasa wajib meski hanya sehari, ia mutlak akan menolaknya karena hal tersebut sudah menjadi zat dirinya.
Itulah yang disebut sebagai malakah, khuluk, atau karakter akhlak yang sejati.
Kemunduran kemampuan rohani atau kepikunan pada usia tua umumnya dialami oleh orang-orang yang belum mencapai tingkatan malakah atau tajahhur dalam ilmunya.
Namun, bagi mereka yang memiliki perhatian dan kecintaan yang sangat tinggi terhadap ilmu, atas pertolongan Allah, ingatan mereka terhadap ilmu justru akan semakin tajam di hari tua.
Mereka tidak sekadar membayangkan ilmu tersebut, melainkan benar-benar merasakan manis dan indahnya ilmu di dalam jiwa mereka.
Penutup
Terkait amal dan ilmu, Imam Ja’far as-Sadiq pernah berkata:
“Orang yang beramal tanpa ilmu bagaikan seseorang yang berjalan tidak di atas jalannya. Semakin cepat ia berjalan, maka ia akan semakin jauh dari tujuannya.”
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mempelajari ilmu akhlak, ilmu aqidah, serta memahami batasan baik dan buruk menurut pandangan Islam.
Semoga melalui ilmu tersebut, keselamatan kita lebih terjamin, dan semoga Allah senantiasa menolong serta mengaruniakan ilmu kepada kita semua.
Mudah-mudahan Allah menunjukkan kebenaran kepada kita sebagaimana hakikat kebenaran itu sendiri, serta memberikan kita kekuatan untuk mengamalkannya.
Dan mudah-mudahan Allah juga menunjukkan kebatilan kepada kita sebagaimana hakikat kebatilan itu sendiri, serta memberikan kita kekuatan untuk menolaknya dengan argumentasi yang kokoh dan menjauhkan diri darinya.
Amin ya rabbal alamin.
Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Judul video: Seri 8 – Filsafat Islam & Tassawuf | Hati-Hati di Umur Ini … – Watch on Youtube
Yuk Subscribe Channel ITRAH Institut Official:


