Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua, serta senantiasa memberikan ampunan atas segala kekurangan, kesalahan, dan dosa-dosa kita.
Dengan begitu, kita tidak akan pernah berputus asa atau berkecil hati, melainkan selalu bersemangat untuk bertobat, menganalisis dan mengoreksi diri, serta meningkatkan ketakwaan setiap hari.
Keabadian dan Sifat Non-Material Ruh
Pada kesempatan sebelumnya, telah dibahas berbagai dalil mengenai sifat non-material dari ruh manusia.
Ketika kita memahami bahwa ruh manusia bersifat non-material (bukan materi), secara tidak langsung kita juga akan memahami bahwa ruh tersebut abadi karena tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Keabadian ruh manusia merupakan konsekuensi logis dari sifatnya yang non-material.
Bukti bahwa ruh manusia bersifat non-material dapat ditemui baik melalui dalil syariat maupun argumen filosofis.
Dengan memahami argumen-argumen tersebut, keraguan di dalam jiwa kita akan sirna bahwa ruh manusia adalah esensi non-material yang tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu.
Memercayai keabadian ruh pun menjadi hal yang mudah dipahami. Kemiripan sifat abadi ruh (atau surga) dengan sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah dijelaskan secara terperinci.
Meyakini keabadian selain Allah bukanlah kesyirikan atau pelanggaran akidah, sebab segala sesuatunya diberikan dan dipelihara atas kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Definisi Ruh dan Proses Gerak Substansial
Kini, setelah memahami sifat non-material ruh, kita dapat masuk ke topik berikutnya, yaitu definisi ruh (jiwa) manusia.
Ruh manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, namun dapat memiliki sifat baik maupun sifat buruk.
Sebagaimana firman Allah bahwa Dia mengilhamkan kepada jiwa tersebut apa yang baik dan apa yang buruk baginya.
Memahami ruh lebih dalam akan memudahkan kita untuk melakukan perbaikan diri serta menyadari bahaya dari sifat-sifat buruk jika terus dibiarkan.
Pada mulanya, sifat-sifat buruk tersebut masih berada dalam tahap gerakan aksidental (accidental movement), yaitu gerakan sifat yang masih bisa berubah.
Sebagai analogi, warna putih pada kapas dapat diubah dengan memberikan warna lain, meskipun warna putih tampak seperti sifat aslinya.
Pada materi fisik, gerakan aksidental biasanya tidak menyatu dengan zatnya.
Namun, gerakan sifat pada manusia sangat berbahaya jika kita tidak memahami seluk-beluk ruh ini.
Sifat buruk yang awalnya bisa dipisahkan, lama-kelamaan dapat menyatu dan menjadi bagian dari ruh manusia itu sendiri melalui proses yang disebut gerakan substansial (substantial process/motion).
Ketika gerakan aksidental itu berubah menjadi substansi jiwa itu sendiri, maka meskipun pintu pertobatan tetap terbuka, seseorang akan sangat sulit untuk bertobat karena dirinya telah menyatu dengan sifat buruk tersebut.
Hal yang sama juga berlaku pada sifat-sifat baik yang menyatu dengan ruh.
Hukum Penyesatan dan Batasan Penilaian Manusia
Di dalam Al-Qur’an, Allah memberikan isyarat mengenai masalah penyatuan sifat ini, seperti dalam ayat: “Summum bukmun umyun fahum laa yarji’uun” (Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka kembali).
Hal ini bukan berarti Allah berlaku zalim atau sengaja menutup jalan mereka untuk kembali, melainkan merupakan hukum alam (sunnatullah) yang dibuat oleh Allah.
Ketika seseorang berpaling dari hidayah (petunjuk), maka ia akan berada dalam kegelapan.
Dalam hal ini hanya ada dua pilihan: hidayah (kebenaran) atau kesesatan (kebatilan); tidak ada jalan tengah.
Ketika manusia enggan menerima hidayah, maka pastilah ia berada dalam kebatilan, dan itulah yang dimaksud dengan Allah menyesatkan hamba-Nya yang enggan menerima petunjuk.
Allah telah membuat sistem aturan yang disertai ikhtiar (usaha) manusia.
Jika manusia memilih hidayah, dipersilakan; namun jika berpaling, maka ia akan tersesat di bawah kekuasaan Allah.
Ketika keburukan seperti kekufuran dilakukan berulang-ulang atas kehendak manusia itu sendiri, sifat kufur tersebut akan diproses hingga menjadi substansi yang tidak terpisahkan dari dirinya.
Jika sudah menjadi substansi jiwa, maka sifat itu tidak akan terlepas lagi, bahkan sekalipun malaikat (apalagi ustadz atau manusia biasa) turun untuk memberikan nasihat.
Meskipun demikian, kita tidak boleh dengan mudah menuduh atau menghakimi bahwa diri kita atau orang lain telah sampai pada tahap “proses substansial” yang membuatnya tidak bisa berubah.
Kita tidak pernah tahu kapan persisnya proses transisi dari gerakan aksidental ke substansi itu terjadi pertama kali.
Manusia mungkin terlihat sangat keras kepala atau berhati keras seperti batu (atau bahkan lebih keras), tetapi kita tidak berhak menentukan status substansi ruh mereka.
Kita harus menyerahkan urusan tersebut kepada Allah, sementara tugas kita hanyalah terus mendorong diri sendiri dan lingkungan untuk bertobat kapan saja hingga akhir hayat.
Menghakimi tanpa ilmu hanya akan menimbulkan keputusasaan dan kerugian bagi diri kita dan lingkungan.
Perbedaan Ruh Manusia dengan Malaikat dan Makhluk Lain
Kembali ke definisi ruh manusia: ruh bersifat non-material. Apakah ini berarti ruh manusia sama seperti malaikat yang juga non-material?. Jawabannya adalah tidak.
Ruh manusia bersifat non-material hanya dari dimensi zatnya (substansinya), bukan dari dimensi kerjanya.
Sebaliknya, dari dimensi tindakan atau kerjanya, ruh manusia membutuhkan materi (fisik/jasad).
Oleh karena itu, para filosof dan ulama mendefinisikan ruh manusia sebagai: zat yang non-material dalam substansinya, namun material dalam tindakannya.
Sebagai contoh, jika ruh ingin melihat ia butuh mata, ingin mendengar butuh telinga, ingin berpikir/menghafal butuh otak, ingin pergi ke pasar butuh kaki, dan ingin makan butuh mulut serta tangan.
Di sini terdapat pesan tersirat bahwa segala aktivitas seperti berbicara, makan, minum, tidur, melihat, mendengar, dan berjalan sebenarnya adalah pekerjaan jiwa (ruh), sedangkan tubuh hanyalah alat.
Bahkan dalam filsafat, hal-hal seperti detak jantung hingga perputaran triliunan atom, neutron, elektron, dan proton di dalam tubuh kita sepenuhnya diatur oleh ruh manusia.
Karena itu, ketika manusia meninggal dunia, ruh tidak sepenuhnya terpisah dari jasad materiilnya.
Ruh masih memiliki aktivitas yang mengelola proses pembusukan jasad di dalam kubur.
Dalam syariat Islam, ketika kita berziarah kubur, kita mengucapkan salam kepada ahli kubur.
Jika mereka tidak bisa mendengar, ucapan salam tersebut tentu akan sia-sia. Kenyataannya, mereka mendengar salam kita dan menjawabnya dengan bahasa mereka yang mayoritas sudah bersifat non-material.
Masih ada sisa kekuatan ruh yang belum terlepas sepenuhnya sembari menunggu hari kiamat.
Dengan pemahaman ini, kita bisa membedakan ruh manusia dengan malaikat. Malaikat bersifat non-material baik secara zat maupun tindakan.
Malaikat yang mencatat amal kita tidak memerlukan buku atau pena dalam bentuk materi fisik, sedangkan manusia memerlukan tangan dan buku untuk menulis.
Jadi, definisi ruh manusia sebagai “substansi non-material yang tindakannya bersifat material” berhasil mengecualikan malaikat.
Namun, definisi tersebut belum mengecualikan makhluk lain seperti hewan, tumbuhan, dan mineral (batu-batuan).
Ruh hewan, tumbuhan, dan batu juga bersifat non-material dalam zatnya tetapi memerlukan jasad materi dalam tindakannya.
Untuk mengeluarkan makhluk-makhluk tersebut dari definisi ruh manusia, kita membutuhkan pembeda (differentia atau fashl).
Pembeda yang memisahkan manusia dari makhluk atau ruh lainnya adalah akal atau kemampuan rasional.
Definisi Sempurna Ruh Manusia dan Hakikat Akal
Maka, definisi sempurna dari ruh manusia adalah: substansi non-material yang rasional (berakal) dan membutuhkan materi (tubuh) dalam tindakannya.
Keberadaan sifat “rasional” ini berhasil mengecualikan ruh hewan, tumbuhan, maupun batu.
Secara filosofis, kemampuan rasional atau akal ini adalah kemampuan untuk menarik kesimpulan universal.
Sebagai contoh, jika seekor hewan melihat api yang panas, ia akan menjauh. Namun, jika ia melihat api lagi di kemudian hari, ia tidak secara otomatis menyimpulkan sifat api tersebut secara universal sebelum mendekatinya kembali dan merasakan panasnya.
Sebaliknya, manusia cukup mendekati atau merasakan panasnya api sekali, dua kali, atau tiga kali, lalu akalnya mampu menarik kesimpulan universal di dalam pikirannya bahwa “semua api itu panas”.
Kemampuan mendeduksi kesimpulan universal inilah yang disebut sebagai kekuatan akal atau rasional yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.
Penafsiran Surah Al-Isra Ayat 85
Membahas tentang ruh manusia mungkin akan mengingatkan kita pada Surah Al-Isra ayat 85: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberikan pengetahuan kecuali sedikit'”.
Sebagian mufasir (ahli tafsir) mengartikan ayat ini sebagai jawaban negatif dari Allah, yang berarti manusia sama sekali tidak boleh atau tidak bisa mengetahui tentang ruh.
Namun, sebenarnya jawaban ini adalah jawaban positif. Pernyataan bahwa ruh adalah “urusan Tuhan” (amruhu) dijelaskan dalam ayat lain, yaitu bahwa urusan Tuhan adalah ketika Dia menghendaki sesuatu,
Dia cukup berfirman “Kun Fayakun” (Jadilah, maka jadilah ia). Istilah Amr ini merujuk pada bentuk non-material.
Berbeda dengan materi fisik yang penciptaan atau perubahannya selalu melalui proses bertahap dan lambat, hal-hal non-material tercipta seketika (Kun Fayakun) tanpa melalui proses waktu.
Adapun bagian ayat yang menyatakan bahwa pengetahuan kita tentang ruh “hanya sedikit”, bukan berarti kita dilarang untuk mengetahuinya sama sekali.

Penutup
Semoga Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki kesalahan kita, serta melimpahkan petunjuk kebenaran dan taufik-Nya agar kita senantiasa bersegera dalam bertobat, melakukan perbaikan diri, dan istiqomah hingga akhir hayat.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Judul video: Seri 9 – Filsafat Islam & Tassawuf | Karena Perbuatan Ini, Allah Menyesatkan Manusia – Watch on Youtube
Yuk Subscribe Channel ITRAH Institut Official:


