12 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Kajian mengenai konsep Mahdisme diawali dengan tiga fakta Al-Qur’an sebagai fondasi penting: janji Allah pasti terwujud bahwa agenda para nabi akan menang, adanya penentangan dari kaum zalim yang menolak keadilan, serta realisasi janji kemenangan global tersebut berada di bawah kepemimpinan Imam Al-Mahdi.

Keyakinan akan datangnya sosok pemimpin adil di akhir zaman yang membawa kebahagiaan sempurna bukanlah monopoli kelompok tertentu, melainkan sebuah keyakinan universal yang mendunia.
Bahkan kelompok non-samawi seperti kaum Marxis pun meyakini masa kebahagiaan sempurna dan keadilan yang merata karena keyakinan ini merupakan tuntutan fitrah manusia.

Sebagai dasar pertama, disepakati bahwa umat Islam hanya memiliki satu sosok Al-Mahdi yang dijanjikan dalam hadis Rasulullah dan Al-Qur’an untuk menjayakan risalah Allah, sehingga sosoknya tidak berbilang.
Keyakinan ini sangat kokoh karena didukung oleh riwayat-riwayat yang sangat banyak.
Hadis-hadis mengenai Al-Mahdi telah diriwayatkan oleh puluhan hingga ratusan ulama besar lintas mazhab, termasuk ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang mengumpulkannya dalam bab khusus maupun kitab tersendiri.

Riwayat-riwayat tersebut bersumber dari belasan sahabat Nabi seperti Imam Ali, Fatima Zahra, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, hingga Aisyah. Seorang ulama Salafi, Syekh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr, mencatat ada 26 sahabat dan 38 ulama ahli sunnah yang meriwayatkan hadis ini dalam karya-karya mereka.

Para pakar ahli hadis dengan tegas menyatakan bahwa hadis tentang Al-Mahdi telah mencapai derajat Mutawatir (pasti benar dan tidak menyisakan keraguan).
Ulama-ulama besar seperti Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Mizzi, Al-Qurtubi, Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Ibn Hajar al-Asqalani, Ibn Hajar al-Haitami, Al-Muttaqi al-Hindi, hingga Mufti Zaini Dahlan secara eksplisit menegaskan serta membuktikan kemutawatiran ini.

Berdasarkan hadis mutawatir tersebut, Al-Mahdi ditetapkan sebagai keturunan Ahlul Bait (khususnya dari garis keturunan Fatimah) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan. Saat Al-Mahdi muncul,
Nabi Isa AS akan turun untuk membantunya memerangi Dajjal dan akan salat bermakmum di belakang Al-Mahdi.
Penjelasan ini sekaligus membantah riwayat lemah “tiada Mahdi kecuali Isa” yang disebarkan oleh perawi yang bukan pakar hadis.
Mufasir seperti Muqatil bin Sulaiman bahkan menyatakan bahwa ayat Al-Qur’an tertentu (seperti surah Az-Zukhruf ayat 61) turun mengenai sosok Al-Mahdi.

Mengimani keberadaan Al-Mahdi adalah kewajiban yang telah dicatat dalam akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Penolakan terhadap konsep yang mutawatir ini dinilai sangat serius karena mengingkari ajaran pasti dari Nabi Muhammad SAW.
Kritik dari sejarawan seperti Ibn Khaldun yang menganggap konsep kemahdisan sebagai mitos ditolak oleh para ulama karena ia berbicara di luar kapasitasnya sebagai ahli sejarah, bukan pakar hadis.

Bagi kaum Syi’ah Imamiyyah, seluruh dasar kemutawatiran ini menjadi pijakan awal untuk membuktikan langkah berikutnya: bahwa Al-Mahdi yang dijanjikan tersebut adalah Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari, yaitu Imam ke-12 dari mata rantai kepemimpinan mereka.

Fondasi Qurani Mahdisme dalam Islam

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi

 

Judul video: Konsep Mahdisme dalam Akidah Syi’ah (Bag.2) Dasar Pertama: Kepemimpinan Al Mahdi Ketetapan Tuhan – Watch on Youtube

Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:
Subscribe Channel PANDU AHLULBAYT

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us