Belajar TASAWUF (8): Al-Firar (Berlari Menuju Allah)
Urgensi Waktu: Analogi Penjual Es
Sering kali kesadaran spiritual baru muncul di usia dewasa atau masa tua.
Allah bersumpah demi waktu dalam Surat Al-Ashr untuk mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian.
Analogi yang indah menggambarkan waktu seperti penjual balok es; jika es itu tidak segera dijual atau dimanfaatkan, ia akan mencair dengan sendirinya tanpa menyisakan apa pun.
Waktu yang telah pergi tidak akan kembali, dan waktu yang akan datang belum tentu bisa kita gapai.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk tidak menunda-nunda melalui istilah sari’u (bersegeralah) dan fafirruu (berlarilah).
Kita harus bergerak cepat seolah sedang dikejar oleh sesuatu yang mendesak, tanpa menoleh ke belakang.
Tiga Tingkatan Al-Firar
Berdasarkan kedalaman ruhaninya, Al-Firar terbagi menjadi tiga tingkatan utama:
- Berlari dari Kebodohan menuju Ilmu (Minal Jahli ilal ‘Ilm)
Banyak manusia berada dalam kondisi jahil (bodoh/tidak tahu). Kebodohan ini menyebabkan seseorang melakukan keburukan tanpa sadar bahwa ia tengah menghancurkan hakikat kemanusiaannya sendiri.
Berlari di sini berarti meninggalkan kemalasan untuk menuntut ilmu dan meraih ma’rifat (pengenalan) kepada Allah. Semakin seseorang mengenal Allah, ia akan semakin jatuh cinta kepada-Nya, karena “tak kenal maka tak sayang”. - Berlari dari Berita menuju Penyaksian (Minal Khabari ilal ‘Iyan)
Pada tingkat ini, seseorang tidak lagi hanya puas dengan membaca teks atau mendengar berita tentang Tuhan (kesadaran ilmiah-aqliyah), tetapi berusaha mencapai penyaksian batin (kesadaran qolbiyah).
Ia berlari dari realitas fisik-material menuju penyingkapan rahasia-rahasia Ilahi di balik alam semesta ini. - Berlari dari Selain Allah menuju Allah (Min Ma Siwallah ilallah)
Inilah tingkatan tertinggi, yaitu tingkatan para pecinta. Mereka tidak lagi menyaksikan apa pun kecuali Allah.
Di titik ini, seluruh gerak dan kesadaran ruhani hanya tertuju pada Sang Kebenaran Mutlak (Al-Haq), melepaskan keterikatan pada segala sesuatu yang bersifat sementara.
Tanda-Tanda Seseorang yang Telah “Berlari”
Seseorang yang benar-benar menempuh perjalanan ini akan menunjukkan perubahan perilaku:
- Bertambahnya ketundukan dan rendah hati (tawadhu).
- Munculnya penyesalan mendalam atas dosa masa lalu.
- Merasakan kelezatan dalam ibadah dan kecintaan pada ilmu.
- Tidak lagi sibuk menyalahkan orang lain, melainkan fokus memperbaiki cacat diri sendiri.
Kesimpulan
Perjalanan menuju Allah memerlukan kesungguhan (mujahadah) dan bimbingan dari mereka yang memiliki bashirah (pandangan batin). Di bulan-bulan mulia seperti Rajab, yang disebut sebagai bulan Allah dan bulan pertobatan, kita diajak untuk menjadikan setiap aktivitas duniawi—termasuk mencari nafkah—sebagai bagian dari perniagaan yang tidak merugi dalam rangka berlari menuju-Nya.

LIVE Belajar TASAWUF bersama Ustadz Dr Khalid al-Walid, setiap Ahad Jam 19.45 – 21.00
Silahkan membagikan/share video. Semoga jari-jemari Anda akan menjadi saksi mencintai Allah Swt, Rasul dan Ahlulbaitnya.
Bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad.
Pusat Kajian Tasawuf Misykat:
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : www.misykat.net
Donasi Dakwah Digital:
Bank BRI 1141 01 000 401 56 2 an Yayasan Bahtera Cinta Almustofa
Cp WA 0812 239 14000
https://saweria.co/misykattv
#DiskusiDigital #MisykatTV
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






