Belajar TASAWUF (10): Al-Huzn dalam Perjalanan Ruhani
Pendahuluan dan Kisah Teladan Rasulullah
Setiap manusia pasti pernah merasakan duka dan kesedihan dalam hidupnya.
Namun, dalam tasawuf, kesedihan atau al-huzn memiliki dimensi yang dalam.
Rasulullah SAW sendiri pernah menangis terisak hingga air matanya membasahi janggutnya.
Dalam sebuah penglihatan ruhani, beliau menyaksikan dua orang umatnya: yang satu adalah orang saleh yang hendak masuk surga, namun dihentikan oleh saudaranya yang menuntut hak karena pernah dizalimi.
Allah memindahkan kebaikan orang saleh itu kepada si penuntut hingga tidak tersisa sedikit pun kebaikan padanya. Rasulullah menangis melihat ketakutan umatnya itu.
Namun, beliau kemudian tersenyum saat Allah menawarkan istana indah bagi si penuntut jika ia mau memaafkan saudaranya.
Akhirnya, keduanya masuk surga bersama-sama.
Dalam kisah lain, Rasulullah menangis saat melihat jenazah seorang Yahudi lewat.
Beliau bersedih bukan hanya sebagai penghormatan kepada sesama makhluk Allah, tetapi karena merasa malu di hadapan Allah tidak mampu membawa hamba tersebut menuju jalan keselamatan.
Dua Jenis Kesedihan
Kesedihan dapat menjadi racun bagi hati sebagaimana penyakit bagi tubuh, namun ia juga bisa menjadi tanda kekasih Allah. Secara garis besar, kesedihan dibagi menjadi dua:
- Kesedihan yang Buruk:
Kesedihan yang timbul karena keterikatan hati pada dunia, mengharapkan sesuatu dari tangan manusia, atau bisikan setan yang ingin melenyapkan ketenangan jiwa.
Keterikatan pada dunia (al-la’uq bil dunya) menyebabkan hati terasa sempit dan dipenuhi was-was. - Kesedihan yang Baik (Mamduh):
Kesedihan karena keterpisahan dari orang-orang yang dicintai Allah (seperti Nabi Yaqub yang sedih kehilangan Nabi Yusuf), sedih melihat keburukan yang menimpa orang lain, atau sedih karena merasa kurang dalam beribadah.
Tiga Tingkatan Al-Huzn dalam Tasawuf
- Tingkat Awam (Masyarakat Umum)Kesedihan pada tingkat ini difokuskan pada tiga hal:
- Kurangnya ketaatan:
Merasa sedih karena banyak menghabiskan waktu untuk hal sia-sia dan melalaikan kesempatan berbuat baik. - Tergelincir dalam dosa:
Menyesali catatan keburukan masa lalu yang menghijab doa dan mendatangkan bencana. - Hilangnya hari-hari tanpa manfaat:
Sedih karena kehilangan kesempatan emas untuk menolong sesama, seperti kisah seorang yang baru merasakan naik taksi sekali seumur hidupnya berkat bantuan orang lain.
- Tingkat Khusus (Muqorrobin)Kesedihan bagi mereka yang sedang menempuh jalan spiritual lebih dalam:
- Keterikatan hati selain pada Allah:
Sedih ketika menyadari hati masih terombang-ambing oleh kekhawatiran masa depan atau rezeki, padahal Allah adalah sebaik-baik pengatur. - Rasa Bangga (Ujub):
Sedih jika muncul rasa bangga atas prestasi ibadah atau intelektual yang justru bisa menghancurkan nilai kebaikan tersebut. - Terlepas dari bimbingan ilmu:
Sedih ketika kesibukan duniawi (seperti perniagaan) menjauhkan diri dari majelis ilmu atau waktu-waktu utama bersama Allah, seperti seseorang yang kehilangan waktu subuh karena mengejar keuntungan bisnis.
- Tingkat Khususul KhususTingkatan tertinggi adalah kesedihan ketika keinginan pribadi tidak selaras dengan kehendak Allah.
Seorang pencari Tuhan sejati akan merasa sedih jika ia masih memiliki kehendak sendiri dan tidak ridha terhadap pilihan Allah bagi dirinya.
Inilah mengapa Rasulullah SAW tetap beristighfar 70 kali sehari sebagai bentuk “kesedihan” dan upaya menjaga keselarasan hati dengan jalan yang Allah inginkan.
Kesimpulan
Menghiasi hati dengan kesedihan atas kekurangan diri adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena “Allah mencintai hati yang selalu dalam keadaan sedih” (Innallaha yuhibbu kulla qalbin hazin).
Namun, seorang mukmin sejati ditandai dengan hati yang bersedih (dalam ketaatan) tetapi wajah yang selalu menampilkan kebahagiaan di hadapan saudara-saudaranya.

LIVE Belajar TASAWUF bersama Ustadz Dr Khalid al-Walid, setiap Ahad Jam 19.45 – 21.00
Silahkan membagikan/share video. Semoga jari-jemari Anda akan menjadi saksi mencintai Allah Swt, Rasul dan Ahlulbaitnya.
Bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad.
Pusat Kajian Tasawuf Misykat:
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : www.misykat.net
Donasi Dakwah Digital:
Bank BRI 1141 01 000 401 56 2 an Yayasan Bahtera Cinta Almustofa
Cp WA 0812 239 14000
https://saweria.co/misykattv
#DiskusiDigital #MisykatTV
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






