SYARAH DOA KUMAIL
Bagian 2 dari 100
Pada Bagian 1, kita memasuki Doa Kumail melalui rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu. Kini doa membawa kita kepada kenyataan berikutnya: rahmat itu bukan kelembutan yang lemah. Ia berasal dari Tuhan yang kekuatan-Nya menundukkan seluruh keberadaan.
وَبِقُوَّتِكَ الَّتِي قَهَرْتَ بِهَا كُلَّ شَيْءٍ
وَخَضَعَ لَهَا كُلُّ شَيْءٍ
وَذَلَّ لَهَا كُلُّ شَيْءٍ
Wa biquwwatika allatī qaharta bihā kulla syay’, wa khadha‘a lahā kullu syay’, wa dzalla lahā kullu syay’.
“Dan dengan kekuatan-Mu yang dengannya Engkau menundukkan segala sesuatu; kepada kekuatan itu segala sesuatu tunduk, dan di hadapannya segala sesuatu merendah.”
Tema utama
Seluruh kekuatan makhluk adalah pinjaman dari Allah. Namun kekuasaan Allah tidak menghapus kebebasan dan tanggung jawab manusia.
Kata qahara tidak harus dipahami sebagai penindasan sebagaimana kekuasaan manusia yang zalim. Qahr Ilahi menunjukkan kemahakuasaan yang tidak dapat dilampaui oleh apa pun.
Kata qahara tidak harus dipahami sebagai penindasan sebagaimana kekuasaan manusia yang zalim. Qahr Ilahi menunjukkan kemahakuasaan yang tidak dapat dilampaui oleh apa pun.
Tidak ada makhluk yang hidup dengan kekuatannya sendiri, bertahan atas kehendaknya sendiri, atau dapat keluar dari hukum keberadaan yang ditetapkan Allah.
Bahkan ketika manusia mempergunakan kebebasannya untuk bermaksiat, ia melakukannya dengan kehidupan, tubuh, waktu, dan tenaga yang dipinjamkan Allah kepadanya.
1. QS Ali ‘Imran 3:83
وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
“Kepada-Nya berserah diri siapa saja yang berada di langit dan di bumi, dengan sukarela ataupun terpaksa, dan kepada-Nya mereka dikembalikan.”
Ayat ini sangat dekat dengan kalimat “kepada kekuatan-Nya segala sesuatu tunduk.” Seluruh makhluk telah tunduk secara keberadaan: lahir tanpa menentukan kelahirannya, hidup dengan hukum-Nya, dan kembali kepada-Nya.
Tetapi manusia diberi kesempatan mengubah ketundukan yang tidak terelakkan itu menjadi penyerahan yang sadar dan penuh cinta. QS Ali ‘Imran 3:83
Tetapi manusia diberi kesempatan mengubah ketundukan yang tidak terelakkan itu menjadi penyerahan yang sadar dan penuh cinta. QS Ali ‘Imran 3:83
2. QS Al-Mulk 67:1
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Mahasuci Dia yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Apa yang kita sebut milik, kedudukan, kekuasaan, bahkan kemampuan diri, sesungguhnya berada dalam kerajaan-Nya. Manusia bukan pemilik mutlak; ia hanya penerima amanah. QS Al-Mulk 67:1
3. QS Fathir 35:15
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
Kefakiran kepada Allah bukan sekadar kekurangan harta. Ia adalah ketergantungan mutlak seluruh keberadaan kita kepada-Nya.
Kita bukan hanya membutuhkan pertolongan Allah ketika lemah; bahkan ketika merasa kuat, kekuatan itu berasal dari-Nya. QS Fathir 35:15
Kita bukan hanya membutuhkan pertolongan Allah ketika lemah; bahkan ketika merasa kuat, kekuatan itu berasal dari-Nya. QS Fathir 35:15
Riwayat Ahlul Bait
Syekh ash-Shaduq meriwayatkan dari Imam Ali ar-Ridha as bahwa beliau menjelaskan persoalan kehendak dan kemampuan manusia dengan sebuah sabda Ilahi:
يَا ابْنَ آدَمَ بِمَشِيَّتِي كُنْتَ أَنْتَ الَّذِي تَشَاءُ لِنَفْسِكَ مَا تَشَاءُ، وَبِقُوَّتِي أَدَّيْتَ إِلَيَّ فَرَائِضِي، وَبِنِعْمَتِي قَوِيتَ عَلَى مَعْصِيَتِي
“Wahai anak Adam, dengan kehendak-Ku engkau dapat menghendaki apa yang engkau kehendaki bagi dirimu. Dengan kekuatan-Ku engkau menunaikan kewajiban-kewajiban kepada-Ku, dan dengan nikmat-Ku pula engkau memperoleh kemampuan untuk bermaksiat kepada-Ku.”
Riwayat itu kemudian menegaskan bahwa kebaikan berasal dari karunia Allah, sedangkan manusia tetap bertanggung jawab atas keburukan yang dipilihnya. Al-Tawḥīd, Bab Kehendak dan Maksud, hadis 6
Catatan transmisi: Ini bukan ayat Al-Qur’an, melainkan riwayat bercorak hadis qudsi yang disampaikan Imam ar-Ridha as dan dicatat Syekh ash-Shaduq dengan sanadnya.
Terdapat redaksi paralel dengan beberapa perbedaan kata dalam bab yang sama. Karena penilaian rijalnya tidak dibahas secara khusus di sini, lebih hati-hati mengatakan, “diriwayatkan dari Imam ar-Ridha as,” bukan langsung menyatakannya sebagai firman Allah yang pasti seperti Al-Qur’an.
Terdapat redaksi paralel dengan beberapa perbedaan kata dalam bab yang sama. Karena penilaian rijalnya tidak dibahas secara khusus di sini, lebih hati-hati mengatakan, “diriwayatkan dari Imam ar-Ridha as,” bukan langsung menyatakannya sebagai firman Allah yang pasti seperti Al-Qur’an.
Kerangka pembahasan
1. Rahmat Allah bukan kelemahan; ia bekerja bersama kemahakuasaan-Nya.
2. Qahr Ilahi berarti tidak ada makhluk yang mandiri atau dapat keluar dari kerajaan Allah.
3. Seluruh kekuatan manusia—untuk taat maupun bermaksiat—merupakan kekuatan yang dipinjamkan.
4. Kekuasaan Allah tidak berarti jabr atau keterpaksaan: manusia tetap memilih dan mempertanggungjawabkan pilihannya.
5. Ibadah adalah mengembalikan kekuatan pinjaman itu kepada tujuan pemberiannya.
6. Kematangan ruhani ialah tunduk dengan cinta sebelum kehidupan membuat kita tunduk tanpa pilihan.
Ada saat ketika manusia merasa dirinya kuat. Ia dapat menentukan langkahnya, mempertahankan kehendaknya, menolak nasihat, bahkan berkata tidak kepada Tuhannya.
Ia mengira kebebasan itu membuktikan bahwa dirinya berkuasa atas hidupnya sendiri.
Ia mengira kebebasan itu membuktikan bahwa dirinya berkuasa atas hidupnya sendiri.
Doa Kumail meruntuhkan anggapan tersebut dengan lembut, tetapi sangat mendasar:
“Dengan kekuatan-Mu yang dengannya Engkau menundukkan segala sesuatu.”
Ternyata kekuatan yang kita banggakan bukanlah milik kita. Tangan yang digunakan untuk memberi ataupun merampas adalah tangan yang dihidupkan Allah.
Lidah yang dipakai untuk berzikir ataupun berdusta hanya dapat bergerak karena kekuatan yang dipinjamkan-Nya.
Bahkan langkah yang membawa seseorang menjauh dari Allah digerakkan oleh tenaga yang berasal dari Allah.
Lidah yang dipakai untuk berzikir ataupun berdusta hanya dapat bergerak karena kekuatan yang dipinjamkan-Nya.
Bahkan langkah yang membawa seseorang menjauh dari Allah digerakkan oleh tenaga yang berasal dari Allah.
Di sinilah letak ironi terbesar kemaksiatan: manusia mempergunakan nikmat Allah untuk menentang-Nya.
Namun Allah tidak serta-merta mencabut kekuatan itu. Dia masih memberi kesempatan kepada lidah yang berdusta untuk mengucapkan istigfar.
Dia masih membiarkan kaki yang berjalan menuju dosa berbalik menuju tempat sujud. Dia masih mempertahankan denyut jantung seorang pendosa agar ia memiliki waktu untuk pulang.
Dia masih membiarkan kaki yang berjalan menuju dosa berbalik menuju tempat sujud. Dia masih mempertahankan denyut jantung seorang pendosa agar ia memiliki waktu untuk pulang.
Maka kekuatan Allah yang menundukkan segala sesuatu tidak boleh dipahami sebagai kekuasaan seorang penguasa yang gemar memaksa.
Allah Mahakuasa, tetapi tidak memaksa manusia menjadi beriman. Dia memberi kemampuan, menunjukkan jalan, mengutus para nabi, menghadirkan para Imam, lalu memberikan ruang bagi manusia untuk memilih.
Allah Mahakuasa, tetapi tidak memaksa manusia menjadi beriman. Dia memberi kemampuan, menunjukkan jalan, mengutus para nabi, menghadirkan para Imam, lalu memberikan ruang bagi manusia untuk memilih.
Manusia memang tidak bebas dari Allah, tetapi ia diberi kebebasan di dalam kerajaan Allah.
Ia tidak dapat memilih untuk tidak membutuhkan-Nya, tetapi ia dapat memilih apakah ketergantungan itu akan diakui dengan syukur atau disembunyikan dengan kesombongan.
Ia tidak dapat menolak kematian dan kepulangan kepada Allah, tetapi ia dapat memilih apakah akan kembali sebagai hamba yang menyerahkan diri atau sebagai pembangkang yang akhirnya ditundukkan.
Ia tidak dapat memilih untuk tidak membutuhkan-Nya, tetapi ia dapat memilih apakah ketergantungan itu akan diakui dengan syukur atau disembunyikan dengan kesombongan.
Ia tidak dapat menolak kematian dan kepulangan kepada Allah, tetapi ia dapat memilih apakah akan kembali sebagai hamba yang menyerahkan diri atau sebagai pembangkang yang akhirnya ditundukkan.
Doa Kumail mengajak kita menyadari bahwa seluruh kekuatan adalah amanah. Kekuatan berpikir diberikan agar kita menemukan kebenaran. Kekuatan berbicara diberikan agar kita membela yang benar.
Kekuatan mencintai diberikan agar hati mengenali siapa yang layak dicintai. Kekuatan jasmani, harta, kedudukan, dan pengaruh diberikan bukan untuk membesarkan diri, melainkan untuk memperbesar kebaikan.
Kekuatan mencintai diberikan agar hati mengenali siapa yang layak dicintai. Kekuatan jasmani, harta, kedudukan, dan pengaruh diberikan bukan untuk membesarkan diri, melainkan untuk memperbesar kebaikan.
Suatu hari seluruh kekuatan pinjaman itu akan dikembalikan. Tangan melemah, suara menghilang, nama perlahan dilupakan, dan tubuh yang pernah begitu dibanggakan menjadi tidak berdaya.
Ketika itulah manusia menyaksikan dengan sempurna bahwa hanya satu kekuatan yang tidak pernah berkurang: kekuatan Allah.
Ketika itulah manusia menyaksikan dengan sempurna bahwa hanya satu kekuatan yang tidak pernah berkurang: kekuatan Allah.
Karena itu, seorang pembaca Doa Kumail tidak menunggu kematian untuk mengakui ketundukannya. Ia memilih tunduk sekarang—bukan karena dipaksa, melainkan karena telah memahami.
Ia bersujud bukan karena tidak memiliki kekuatan, tetapi karena akhirnya mengetahui dari mana seluruh kekuatannya berasal.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1FD57H7yea/

