Jauh sebelum Karbala dipenuhi darah, namanya telah lebih dahulu melewati air mata Rasulullah ﷺ.
Jauh sebelum tubuh-tubuh suci terbaring di atas pasir, sebelum kemah-kemah terbakar, sebelum anak-anak menangis kehausan sementara Eufrat mengalir di dekat mereka—sebuah kabar telah turun dari langit.
Dan kabar itu tersimpan di dalam dada seorang ayah.
—
Pasukan bergerak menuju Shiffin.
Debu mengepul di bawah kaki-kaki kuda. Matahari membakar dataran Irak, sementara angin dari arah Eufrat sesekali melintasi rombongan, membawa hawa lembap yang tipis.
Di antara rombongan itu berjalan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.
Bersamanya terdapat Nujayy al-Hadhrami, seorang yang membantu membawa wadah air untuk bersuci. Perjalanan masih panjang. Di hadapan mereka menanti pertikaian besar—umat yang terbelah dan pedang-pedang yang sebentar lagi akan saling berhadapan.
Namun pada hari itu, sesuatu yang lebih jauh daripada Shiffin seakan tersingkap di hadapan Ali.
Ketika rombongan tiba di sebuah tempat bernama Nainawa, langkah beliau melambat.
Pandangan Ali jatuh pada dataran yang terbentang di dekat Eufrat.
Tak ada pasukan yang mengepungnya.
Tak terdengar jeritan anak-anak.
Tak ada kemah terbakar ataupun tubuh bergelimpangan.
Yang ada hanyalah tanah sunyi, angin gurun, dan aliran sungai yang terus bergerak seperti tidak mengetahui rahasia apa yang sedang menunggunya.
Tiba-tiba Ali berseru,
«“Bersabarlah, wahai Abu Abdillah.
Bersabarlah, wahai Abu Abdillah, di tepi Eufrat.”»
Abu Abdillah adalah panggilan bagi putranya, Husain.
Kalimat itu terdengar seperti nasihat seorang ayah. Namun di dalamnya tersimpan beban sebuah masa depan yang belum terlihat oleh manusia.
Nujayy memandang Ali dengan keheranan.
Ia tidak melihat bahaya di sana. Tidak ada musuh yang sedang menyerang Husain. Tidak ada perkara yang tampaknya menuntut kesabaran sebesar itu.
“Apa maksud perkataanmu, wahai Amirul Mukminin?” tanyanya.
Ali tidak segera menjawab dengan uraian panjang. Beliau justru membawa ingatan mereka kembali kepada sebuah hari di Madinah—kepada sebuah ruangan sederhana dan seorang Nabi yang sedang menangis.
—
Pada suatu hari, Ali datang menemui Rasulullah ﷺ.
Ketika memasuki tempat beliau, Ali mendapati kedua mata Rasulullah dipenuhi air mata. Air mata itu mengalir, bukan karena luka pada tubuh beliau, bukan pula karena penghinaan yang baru diterimanya.
Ali bertanya dengan kegelisahan seorang kerabat yang sangat mencintainya,
“Wahai Rasulullah, apakah seseorang telah membuatmu bersedih? Mengapa kedua matamu berlinang?”
Rasulullah menjawab bahwa Jibril baru saja meninggalkannya.
Malaikat itu telah membawa sebuah kabar tentang Husain—cucu kecil yang biasa dipeluk dan dicium Nabi; anak yang menaiki punggung beliau ketika beliau bersujud; salah satu dari dua pemuda yang kelak menjadi penghulu para pemuda surga.
Jibril mengabarkan bahwa Husain akan dibunuh di tepi Sungai Eufrat.
Kemudian Jibril bertanya apakah Rasulullah ingin mencium tanah tempat darah Husain akan ditumpahkan.
Rasulullah menjawab bahwa beliau menginginkannya.
Lalu dibawakanlah segenggam tanah dari tempat itu.
Tanah biasa bagi mata manusia.
Namun ketika tanah tersebut berada di tangan Rasulullah, beliau tidak sanggup menahan air matanya.
Beliau mengetahui bahwa pada suatu hari nanti, cucu yang dicintainya akan berdiri sendirian untuk menjaga kehormatan agama. Beliau mengetahui bahwa bibir yang sering beliau cium akan mengering karena dahaga. Beliau mengetahui bahwa umat yang mengucapkan syahadat akan diuji oleh sikap mereka terhadap darah keluarga Nabi mereka sendiri.
Kabar langit itu tidak menghapus kasih seorang kakek.
Pengetahuan tentang kemuliaan Husain tidak meringankan rasa sakit karena kehilangan dirinya.
Maka Rasulullah menangis.
Dan Ali menyimpan pemandangan itu di dalam dadanya.
—
Kini, bertahun-tahun kemudian, Ali berdiri di Nainawa.
Tanah yang dahulu berada dalam genggaman Rasulullah terbentang di hadapannya.
Eufrat mengalir tidak jauh dari sana.
Barangkali orang lain hanya melihat hamparan pasir. Akan tetapi, Ali melihat suatu hari yang masih tersembunyi di balik tirai waktu.
Beliau melihat putranya berdiri menghadapi kezaliman.
Beliau melihat sedikit orang mempertahankan kebenaran di hadapan ribuan pedang.
Beliau melihat seorang ayah menggendong bayinya.
Beliau melihat seorang saudara menjaga kemah-kemah.
Beliau melihat para perempuan dari keluarga Rasulullah mempertahankan martabat mereka di tengah bencana.
Beliau melihat Husain harus memilih antara hidup dengan kehinaan atau mati dengan kehormatan.
Karena itulah dari bibir sang ayah terucap kalimat yang akan melampaui zaman:
«“Bersabarlah, wahai Abu Abdillah.”»
Itu bukan seruan agar Husain menerima kezaliman dengan pasrah.
Kesabaran yang dimaksud Ali bukanlah diam di hadapan kebatilan. Bukan pula menyerahkan agama demi menyelamatkan tubuh.
Kesabaran Husain adalah tetap berdiri ketika seluruh jalan keselamatan duniawi menuntutnya berlutut.
Kesabarannya adalah menolak memberikan legitimasi kepada kezaliman, walaupun penolakannya harus dibayar dengan darah.
Kesabarannya adalah menjaga agar manusia mengetahui bahwa tidak semua kehidupan pantas dipertahankan, jika harga untuk mempertahankannya adalah menjual kebenaran.
—
Seorang ayah biasanya berusaha melindungi anaknya dari luka.
Ali pun mencintai Husain dengan segenap hatinya. Namun beliau mengetahui bahwa kasih tidak selalu berarti menjauhkan seseorang dari pengorbanan. Ada kalanya kasih berarti mempersiapkan orang yang kita cintai agar tidak meninggalkan kebenaran ketika ujian datang.
Ali tidak membesarkan Husain untuk sekadar bertahan hidup.
Beliau membesarkannya agar tetap menjadi hamba Allah—bahkan ketika dunia menuntutnya menjadi hamba penguasa zalim.
Kabar tentang Karbala bukanlah paksaan bagi Husain ataupun pembebasan bagi para pembunuhnya. Pengetahuan Allah tentang suatu peristiwa tidak memaksa manusia melakukan kejahatan. Mereka yang kelak mengepung Husain tetap memilih mengangkat pedang. Mereka tetap bertanggung jawab atas setiap tetes darah yang mereka tumpahkan.
Sebaliknya, Husain juga memilih.
Ia memilih tidak menukar nuraninya dengan keselamatan.
Ia memilih agar tubuhnya jatuh, tetapi batas antara kebenaran dan kebatilan tetap berdiri.
—
Rombongan menuju Shiffin akhirnya melanjutkan perjalanan.
Nainawa kembali sunyi.
Namun sejak hari itu, tanah tersebut bukan lagi tempat tanpa nama bagi orang-orang yang mendengar perkataan Ali. Di sana telah terdengar sebuah salam dari masa lalu kepada seorang syahid dari masa depan.
Kelak orang-orang akan mengenalnya sebagai kawasan Karbala.
Kelak Eufrat akan tetap mengalir, tetapi airnya dijauhkan dari keluarga Rasulullah.
Kelak Husain akan berdiri di sana dengan sahabat-sahabatnya yang sedikit, lalu membuktikan bahwa jumlah bukanlah ukuran kebenaran.
Dan ketika semua pintu dunia tertutup, seolah-olah suara ayahnya kembali melintasi gurun:
«“Bersabarlah, wahai Abu Abdillah.
Bersabarlah di tepi Eufrat.”»
Karbala ketika itu belum terjadi.
Pedang-pedang belum terhunus. Kemah-kemah belum didirikan. Darah belum membasahi pasir.
Namun air mata Rasulullah telah sampai ke sana lebih dahulu.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan riwayat:
Inti kisah ini diriwayatkan dari Nujayy al-Hadhrami dalam “Musnad Ahmad no. 648”. Riwayat tersebut memuat seruan Ali di Nainawa, perjalanan menuju Shiffin, kabar Jibril mengenai terbunuhnya Husain di tepi Eufrat, serta segenggam tanah yang membuat Rasulullah ﷺ menangis. Riwayat paralelnya juga disebutkan melalui Abu Ya‘la dan al-Thabarani.
Penilaian sanadnya diperselisihkan. Edisi yang mencantumkan penilaian Darussalam dan penilaian Syu‘aib al-Arna’uth menyebut jalurnya lemah, sementara sebagian ulama lain menilai para perawinya dapat dipercaya atau melihat adanya jalur-jalur pendukung. Karena itu, kisah ini sebaiknya disampaikan sebagai riwayat tentang kabar kesyahidan Husain, bukan sebagai riwayat yang disepakati kesahihannya.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1K8eYqHvxy/

