25 September 2026

KESUCIAN YANG MENYINGKAP BERHALA BATIN

Bagian 9 dari 100
Doa Kumail—yang dalam tradisi Ahlul Bait dikenal sebagai Doa Khidir as dan diajarkan oleh Imam Ali as kepada Kumail bin Ziyad—kini membawa kita kepada dua nama Ilahi yang berdampingan: cahaya dan kesucian.
Teks Doa Kumail
«يَا نُورُ يَا قُدُّوسُ
Yā Nūru, yā Quddūs.
“Wahai Cahaya, wahai Yang Mahasuci.”»

Tema utama

Menghadap Allah Yang Mahasuci menuntut penyucian cara kita mengenal-Nya sekaligus penyucian hati dari segala sesuatu yang menyaingi-Nya.
Penggalan ini menyeru Allah sebagai An-Nūr, sumber segala cahaya dan petunjuk. Namun doa segera menyandingkannya dengan Al-Quddūs: Allah Yang Mahasuci dari kekurangan, kebutuhan, bentuk, batas, perubahan, dan segala sifat makhluk.
Kesucian Allah bersifat mutlak. Dia tidak menjadi suci karena disucikan oleh makhluk. Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan cahaya dan petunjuk-Nya untuk membersihkan jiwa.
Ayat Al-Qur’an
1. QS Al-Hasyr 59:23
«هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ
“Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Sang Raja, Yang Mahasuci, Sumber keselamatan.”»
Al-Quddūs menunjukkan bahwa Allah terbebas dari setiap kekurangan yang dapat dibayangkan manusia. Kesempurnaan-Nya tidak diperoleh, tidak bertambah, dan tidak bergantung kepada sesuatu di luar diri-Nya. “QS Al-Hasyr 59:23”.
2. QS Al-Jumu‘ah 62:1
«يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
“Apa yang berada di langit dan di bumi senantiasa menyucikan Allah, Sang Raja, Yang Mahasuci, Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”»
Tasbih bukan sekadar mengulang kata subḥānallāh. Tasbih berarti menyucikan Allah dari setiap gambaran yang merendahkan-Nya menjadi serupa dengan ciptaan: tubuh, bentuk, tempat, kebutuhan, perubahan, dan keterbatasan. “QS Al-Jumu‘ah 62:1”.
3. QS Al-A‘la 87:14
«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya.”»
Manusia tidak pernah menjadi suci seperti kesucian Allah. Akan tetapi, kedekatan kepada Yang Mahasuci menuntut proses tazkiyah: membersihkan jiwa dari kesombongan, kebencian, kepalsuan, dan penghambaan kepada hawa nafsu. “QS Al-A‘la 87:14”.
Riwayat Ahlul Bait
Dalam khotbah yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as disebutkan:
«وَكَمَالُ الْإِخْلَاصِ لَهُ نَفْيُ الصِّفَاتِ عَنْهُ
“Kesempurnaan pemurnian bagi-Nya ialah menafikan dari-Nya sifat-sifat.”»
Maksudnya bukan menolak nama-nama dan sifat kesempurnaan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Yang dinafikan adalah sifat yang dibayangkan sebagai sesuatu yang terpisah dari Zat-Nya, tersusun, terbatas, atau serupa dengan sifat makhluk.
Allah mengetahui tanpa alat, mendengar tanpa telinga, melihat tanpa mata, dan berkuasa tanpa anggota tubuh. “Nahj al-Balāghah, Khotbah 1”.
Catatan atribusi:
Nahj al-Balāghah dihimpun oleh asy-Syarif ar-Radhi tanpa mencantumkan sanad lengkap bagi setiap khotbah.
Karena itu, ungkapan ini secara akademis lebih hati-hati disebut “dinisbatkan kepada Imam Ali as”.
Penomoran khotbah juga dapat berbeda menurut edisi.
Kerangka pembahasan
1. An-Nūr menerangi, sedangkan pengenalan kepada Al-Quddūs menyucikan cara kita memahami Allah.
2. Kesucian Allah berarti keterbebasan mutlak dari kekurangan dan sifat-sifat makhluk.
3. Tasbih harus membebaskan akidah dari gambaran jasmani dan batas-batas ciptaan.
4. Beribadah kepada Yang Mahasuci menuntut penyucian niat.
5. Berhala batin dapat berbentuk ego, pujian, kedudukan, dan kepentingan yang ditempatkan di atas kebenaran.
6. Tazkiyah bukan perasaan telah suci, melainkan keberanian untuk terus membersihkan diri.

Pembuka syarah

Cahaya pertama-tama tidak selalu menghibur. Ia menyingkap debu.
Ketika sebuah ruangan masih gelap, kita dapat mengira bahwa semuanya telah bersih. Namun begitu cahaya masuk melalui jendela, partikel-partikel kecil yang sebelumnya tidak terlihat mulai tampak.
Demikian pula cahaya Ilahi. Ia bukan hanya menghadirkan ketenangan, tetapi juga membongkar apa yang selama ini disembunyikan hati.
Karena itu, Doa Kumail tidak berhenti pada seruan:
«“Wahai Cahaya.”»
Ia segera melanjutkan:
«“Wahai Yang Mahasuci.”»
Di hadapan Allah Yang Mahasuci, seluruh kepalsuan kehilangan tempat persembunyian. Niat yang bercampur dengan keinginan untuk dipuji mulai terlihat.
Ibadah yang diam-diam dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain mulai terbongkar. Bahkan perjuangan yang tampak mulia dapat menyimpan keinginan agar nama diri dibesarkan.
Manusia sering membersihkan wajah yang terlihat orang lain, tetapi membiarkan ruang batinnya dipenuhi debu.
Ia menjaga citra kesalehan, tetapi tidak memeriksa kesombongan yang tumbuh dari kesalehan tersebut. Ia berbicara atas nama Allah, tetapi diam-diam ingin orang lain membicarakan dirinya.
Menyebut Yā Quddūs berarti mengakui bahwa hanya Allah yang suci dengan kesucian mutlak.
Kita tidak datang membawa kesucian. Kita datang untuk disucikan.
Kita tidak berdiri sebagai manusia yang telah terbebas dari penyakit jiwa. Kita datang sebagai pasien yang akhirnya bersedia memperlihatkan lukanya kepada Sang Penyembuh.
Semakin seseorang mengenal Allah Yang Mahasuci, semakin ia takut menyucikan dirinya sendiri di hadapan manusia. Ia tidak sibuk membangun citra seolah-olah tidak pernah jatuh. Ia sibuk membersihkan sesuatu yang tidak diketahui siapa pun selain Allah.
Berhala tidak selalu berupa patung yang berdiri di hadapan manusia. Ada berhala yang bersembunyi di dalam dada: ego yang ingin selalu dibenarkan, kedudukan yang tidak rela dilepaskan, pujian yang membuat ketagihan, dan kepentingan diri yang diam-diam ditempatkan di atas kebenaran.
Cahaya Allah menyingkap berhala-berhala itu. Kesucian-Nya memanggil kita untuk menghancurkannya.
Kesucian ruhani bukanlah hidup tanpa noda masa lalu. Kesucian adalah tidak lagi berdamai dengan noda tersebut—dan terus kembali kepada Allah setiap kali hati kembali dikotori dunia.
Sebab orang yang benar-benar sedang menyucikan diri tidak sibuk mengumumkan bahwa dirinya telah suci.
Ia justru semakin mampu melihat betapa banyak bagian dari hatinya yang masih harus dibersihkan.
Doa kumail
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us