SYARAH DOA KUMAIL (15) – BALA YANG LAHIR KETIKA KEPEDULIAN MATI
Bagian 15 dari 100
Teks Doa Kumail
> اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيَ الذُّنُوبَ الَّتِي تُنْزِلُ الْبَلَاءَ
Allāhumma-ghfir lī adz-dzunūba allatī tunzilu al-balā’.
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bala.”
Tema utama
Bala dapat tumbuh secara sosial ketika penderitaan dibiarkan, orang tertindas kehilangan pembela, dan masyarakat berhenti saling mengingatkan kepada kebaikan.
Balā’ tidak selalu bermakna hukuman. Al-Qur’an juga menggunakan ujian untuk mendidik, menyucikan, dan meninggikan derajat manusia. Karena itu, kita tidak boleh menyebut setiap penyakit, bencana, atau penderitaan sebagai hukuman atas dosa seseorang.
Namun Doa Kumail mengingatkan bahwa terdapat perbuatan yang melahirkan kerusakan. Ketidakpedulian kepada orang lemah, pembiaran terhadap kezaliman, dan hilangnya keberanian moral dapat membuka jalan bagi bala yang akhirnya dirasakan bersama.
Ayat Al-Qur’an
- QS Ar-Rum 30:41
> ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, agar Allah membuat mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
Sebagian bala bukan peristiwa yang terpisah dari pilihan manusia. Kerusakan lingkungan, kekerasan, kelaparan, dan runtuhnya kepercayaan dapat tumbuh dari perbuatan yang terus dibiarkan. QS Ar-Rum 30:41
- QS Al-Ma‘un 107:1–3
> أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah engkau orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin.”
Al-Qur’an menghubungkan pendustaan agama dengan hilangnya kepedulian sosial. Iman yang tidak melindungi manusia lemah sedang kehilangan salah satu bukti terpentingnya. QS Al-Ma‘un 107:1–3
- QS Al-Ma’idah 5:78–79
> كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sungguh buruk apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Kerusakan menjadi semakin kuat ketika kemungkaran kehilangan perlawanan moral dan masyarakat berhenti saling mengingatkan. QS Al-Ma’idah 5:78–79
Riwayat Ahlul Bait
Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as disebutkan:
> وَالذُّنُوبُ الَّتِي تُنْزِلُ الْبَلَاءَ: تَرْكُ إِغَاثَةِ الْمَلْهُوفِ، وَتَرْكُ مُعَاوَنَةِ الْمَظْلُومِ، وَتَضْيِيعُ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dosa-dosa yang menurunkan bala adalah meninggalkan pertolongan kepada orang yang sedang kesusahan, tidak membantu orang yang dizalimi, serta menyia-nyiakan amar makruf dan nahi mungkar.”
Ma‘ānī al-Akhbār, Bab 310, hadis 2
Catatan verifikasi:
Riwayat tersebut dicantumkan oleh Syekh ash-Shaduq dengan sanad, tetapi sumber daringnya tidak memberikan penilaian derajat hadis.
Kajian rijal tidak dilakukan di sini. Karena itu, redaksi tersebut harus disebut “diriwayatkan” atau “dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as”.
Terjemahannya bersifat maknawi dan masih perlu dibandingkan dengan edisi kritis.
Kerangka pembahasan
- Perbedaan antara bala sebagai ujian dan bala sebagai akibat dosa.
- Tidak setiap penderitaan merupakan hukuman kepada penderitanya.
- Ketidakpedulian dapat mengubah penderitaan pribadi menjadi kerusakan sosial.
- Menolong orang tertindas merupakan bagian dari tanggung jawab iman.
- Amar makruf memerlukan ilmu, kelembutan, keadilan, dan kemampuan.
- Taubat sosial berarti memulihkan kepedulian dan keberanian membela hak.
Pembuka syarah
Bala kadang-kadang berawal ketika jeritan orang lemah tidak lagi mengganggu tidur orang-orang yang mampu menolongnya.
Seseorang dianiaya, tetapi para saksi memilih diam. Sebuah keluarga kelaparan, tetapi tetangganya menganggap itu bukan urusannya. Kezaliman dilakukan di depan banyak mata, lalu semua orang menunggu orang lain menjadi yang pertama bersuara.
Tidak terjadi petir. Tidak ada langit yang seketika berubah warna. Namun sesuatu yang sangat penting telah mati di tengah masyarakat itu: kepedulian.
Doa Kumail membuat kita memohon:
> “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bala.”
Penggalan ini tidak memberi kita hak untuk menunjuk korban bencana dan menuduhnya sebagai pendosa. Para nabi mengalami ujian, para wali Allah mengalami penindasan, dan manusia-manusia suci sering memikul penderitaan yang paling berat. Bala dapat menjadi ujian, penyucian, atau jalan menuju ketinggian ruhani.
Akan tetapi, ada pula penderitaan yang tumbuh dari pembiaran manusia.
Ketika tangisan orang tertindas tidak memperoleh pembelaan, penindas belajar bahwa ia dapat bertindak tanpa akibat.
Ketika kemungkaran tidak lagi membuat hati gelisah, kemungkaran memperoleh tempat untuk menjadi kebiasaan.
Ketika orang-orang yang mampu menolong terus mencari alasan, kezaliman perlahan berubah menjadi sistem.
Pada akhirnya, bala tidak hanya menimpa korban pertama. Ketakutan menyebar. Kepercayaan hilang. Anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa kekuatan lebih penting daripada kebenaran.
Orang jujur belajar untuk diam, sedangkan orang zalim semakin berani.
Riwayat yang dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as menempatkan keengganan menolong orang kesusahan dan orang tertindas di antara dosa-dosa yang mendatangkan bala. Ini menunjukkan bahwa dosa bukan hanya perkara pribadi antara seorang hamba dan Allah.
Ada dosa yang membiarkan dunia menjadi lebih kejam bagi manusia lain.
Taubat dari dosa semacam ini tidak cukup dilakukan dengan menyesal dalam kesendirian.
Ia menuntut tangan yang mulai terulur, suara yang mulai membela, harta yang mulai dibagikan, dan keberanian yang kembali digunakan untuk melindungi orang lemah.
Sebab terkadang bala tidak dimulai oleh banyaknya tangan yang melakukan kezaliman.
Ia dimulai oleh terlalu sedikitnya tangan yang bersedia menghentikannya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19G8Ar8xyN/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


