KETIKA ALI MEMOHON HUJAN UNTUK YANG TAK BISA BERBICARA
Seekor kambing menundukkan kepalanya. Moncongnya menyentuh tanah, mencari sisa tumbuhan di antara debu dan batang-batang kering. Ia maju beberapa langkah, berhenti, lalu mencari lagi.
Di belakangnya, hewan-hewan lain bergerak lamban. Padang yang mereka datangi tidak lagi memberi cukup makanan. Jalan menuju tempat minum masih mereka kenali, tetapi perjalanan ke sana berkali-kali berakhir dengan dahaga yang tidak terobati.
Seorang penggembala mengawasi mereka. Ia membungkuk, meraih sejumput rumput kering, lalu meremasnya. Serpihannya jatuh dari sela-sela jari. Angin lewat membawa debu.
Kemarau telah mengubah banyak hal. Tanah mengeras. Tumbuhan kehilangan kesegarannya. Hewan-hewan gelisah di tempat berbaring, bangkit untuk mencari sesuatu, lalu kembali dengan tubuh yang semakin lemah. Sebagian ternak telah mati. Setiap hari yang berlalu membuat orang semakin cemas memikirkan hari berikutnya.
Mereka berkali-kali memandang langit. Ada harapan yang tumbuh setiap kali melihat tanda-tanda awan, lalu surut ketika hujan yang ditunggu tidak datang.
Dalam keadaan itulah mereka keluar memohon pertolongan Allah. Ali berada di antara mereka.
Di tanah lapang, kain-kain bergerak diterpa angin. Orang-orang mendekat, membawa dahaga dan kecemasan dari rumah masing-masing. Di hadapan mereka, Ali mengangkat kedua tangannya.
Ketika doanya terdengar, yang disebutnya ialah gunung-gunung yang dilanda kekeringan, bumi yang berdebu, dan ternak yang kehausan. Ia menyampaikan kebingungan hewan-hewan itu di tempat berbaringnya, keletihan mereka mendatangi padang penggembalaan, serta kerinduan mereka kepada tempat-tempat air.
Suara ternak itu pun masuk ke dalam doanya. Ali menggambarkan lenguh dan rintihan mereka seperti ratapan ibu yang kehilangan anak.
Perumpamaan itu terasa menyayat. Suara yang biasa terdengar dari kandang kini memperoleh arti yang lain. Orang dapat mendengarnya setiap hari, lalu meneruskan pekerjaannya. Ali mengajak mereka merasakan penderitaan yang berada di balik suara tersebut.
โYa Allah, kasihanilah rintihan mereka.โ
Di sekelilingnya, orang-orang mendengarkan. Ternak-ternak itu tidak dapat mengutarakan keluhannya dengan kata-kata. Mereka hanya mengeluarkan suara, berjalan mencari air, atau kembali berbaring ketika tubuhnya lelah. Dahaga mereka harus dikenali oleh siapa pun yang melihatnya.
Ali membawa kegelisahan mereka ke hadapan Allah, menyebutnya satu per satu dalam permohonan. Bahkan kebingungan seekor hewan yang tidak tahu lagi harus berjalan ke mana mendapat tempat dalam doanya.
Tangan-tangan masih terangkat. Angin mengusik ujung pakaian, sementara Ali melanjutkan permohonannya.
โKami keluar menuju-Mu.โ
Dalam kata kami itu ada manusia yang mulai kehilangan harapan. Ada kehidupan yang terhimpit kemarau. Mereka datang dengan kebutuhan yang tidak lagi dapat disembunyikan di balik kedudukan, harta, atau kebanggaan.
Air telah menjadi kebutuhan yang begitu mendesak. Tanpanya, padang kehilangan rumput, ternak kehilangan makanan, dan rumah-rumah kehilangan sumber penghidupan. Kecemasan seorang penggembala dapat menjadi kecemasan seluruh keluarganya. Dahaga seekor hewan pun berhubungan dengan kehidupan orang yang memeliharanya.
Ali memohon agar mereka tidak dihukum karena perbuatan dan dosa-dosa mereka. Ia meminta rahmat Allah, memohon kehidupan bagi yang telah mengering dan pemulihan bagi yang telah hilang.
Di tengah kesulitan itu, doa menjadi tempat manusia merendahkan diri. Mereka mengakui kebutuhannya, meminta ampun, dan kembali berharap. Lalu permohonan Ali mengalir lebih jauh.
โTurunkanlah kepada kami hujan yang menghidupkan dan menghilangkan dahaga.โ
Yang ia mohon ialah air yang cukup untuk memulihkan kehidupan: tanah kembali subur, daun menghijau, tanaman berbuah, dan makhluk yang lemah memperoleh kekuatan. Doanya menjangkau dataran tinggi, lembah, serta wilayah-wilayah yang jauh.
Orang-orang yang mendengarnya dapat membayangkan tempat-tempat yang mereka kenal. Padang tempat ternak dilepas. Aliran air yang ditunggu. Tanaman yang dirawat dengan harapan akan memberi hasil. Semua itu masih mereka perlukan untuk meneruskan hidup.
Ali memohon bagi ternak peliharaan. Kemudian doanya juga menjangkau hewan-hewan liar yang tidak dipelihara manusia.
Di tempat-tempat jauh, hewan-hewan itu pun mencari air. Tidak ada pemilik yang menghitung kerugiannya ketika mereka mati. Tidak ada seorang penggembala yang mesti membawa mereka pulang. Kehidupan mereka dapat lenyap tanpa diketahui orang-orang yang sibuk menyelamatkan miliknya sendiri.
Namun mereka disebut dalam doa Ali.
Ada kasih sayang yang terasa luas di sana. Seekor hewan tidak harus menjadi milik seseorang agar penderitaannya layak diperhatikan. Kehidupannya sendiri sudah cukup untuk membuatnya mendapat tempat dalam permohonan rahmat.
Ali terus berdoa. Ia memohon hujan yang sungguh membasahi bumi, yang datang berlimpah dan membawa kesuburan. Setelah begitu banyak penantian, manusia memerlukan air yang sampai ke tanah dan memberi kehidupan.
Kedua tangannya tetap terangkat.
Dalam doanya, ada rumput yang diharapkan tumbuh untuk dimakan ternak. Ada air yang dimohonkan untuk mengalir ke tempat-tempat yang kering. Ada manusia yang lemah dan hewan yang tidak sanggup menyampaikan kebutuhannya lewat bahasa manusia.
Semuanya dibawa ke hadapan Allah.
Ali menyebut Allah sebagai Dia yang menurunkan hujan setelah manusia kehilangan harapan dan meluaskan rahmat-Nya. Kemudian ia menutup permohonannya:
โEngkaulah Pelindung, Yang Maha Terpuji.โ
Doa itu memperlihatkan betapa banyak kehidupan yang bergantung pada setetes air. Manusia berdiri dengan tangan menadah, tetapi kebutuhan yang disampaikannya melampaui tubuhnya sendiri.
Dari kandang, padang penggembalaan, hingga tempat-tempat jauh yang tidak dijaga siapa pun, ada makhluk-makhluk yang sama-sama menanggung dahaga.
Mereka tidak hadir dengan kata-kata. Mereka hadir melalui kepedulian Ali.
Di bibirnya, rintihan mereka telah menjadi doa.

CATATAN KHUSUS โ DOA IMAM ALI KETIKA MEMOHON HUJAN
Doa ini tercantum dalam Nahj al-Balaghah, Khutbah 115, tentang permohonan hujan (istisqaโ). Berikut teks lengkapnya beserta terjemahan makna. Pembagian menjadi lima bagian dibuat untuk memudahkan pembacaan.
- Memohon kasih sayang bagi makhluk yang kehausan
ุงููููููู ูู ููุฏู ุงููุตูุงุญูุชู ุฌูุจูุงููููุงุ ููุงุบูุจูุฑููุชู ุฃูุฑูุถูููุงุ ููููุงู ูุชู ุฏูููุงุจููููุงุ ููุชูุญููููุฑูุชู ููู ู ูุฑูุงุจูุถูููุงุ ููุนูุฌููุชู ุนูุฌููุฌู ุงูุซููููุงููู ุนูููู ุฃูููููุงุฏูููุงุ ููู ููููุชู ุงูุชููุฑูุฏููุฏู ููู ู ูุฑูุงุชูุนูููุงุ ููุงููุญูููููู ุฅูููู ู ูููุงุฑูุฏูููุง. ุงููููููู ูู ููุงุฑูุญูู ู ุฃูููููู ุงููุขูููุฉู ููุญูููููู ุงููุญูุงูููุฉู. ุงููููููู ูู ููุงุฑูุญูู ู ุญูููุฑูุชูููุง ููู ู ูุฐูุงููุจูููุงุ ููุฃููููููููุง ููู ู ูููุงููุฌูููุง.
Terjemahan:
Ya Allah, gunung-gunung kami telah merekah karena kekeringan, bumi kami diselimuti debu, dan ternak kami kehausan. Mereka kebingungan di tempat-tempat berbaringnya, meratap seperti ibu-ibu yang kehilangan anak. Mereka telah letih bolak-balik ke padang penggembalaan dan merindukan tempat-tempat air.
Ya Allah, kasihanilah rintihan makhluk yang merintih dan kerinduan makhluk yang merindu. Ya Allah, kasihanilah kebingungan mereka di jalan-jalan yang ditempuhnya dan rintihan mereka di tempat-tempat berlindungnya.
- Datang kepada Allah ketika harapan menipis
ุงููููููู ูู ุฎูุฑูุฌูููุง ุฅููููููู ุญูููู ุงุนูุชูููุฑูุชู ุนูููููููุง ุญูุฏูุงุจููุฑู ุงูุณูููููููุ ููุฃูุฎูููููุชูููุง ู ูุฎูุงูููู ุงููุฌููุฏูุ ููููููุชู ุงูุฑููุฌูุงุกู ููููู ูุจูุชูุฆูุณูุ ููุงููุจูููุงุบู ููููู ูููุชูู ูุณู. ููุฏูุนูููู ุญูููู ููููุทู ุงููุฃูููุงู ูุ ููู ูููุนู ุงููุบูู ูุงู ูุ ูููููููู ุงูุณููููุงู ูุ ุฃููููุง ุชูุคูุงุฎูุฐูููุง ุจูุฃูุนูู ูุงููููุงุ ููููุง ุชูุฃูุฎูุฐูููุง ุจูุฐููููุจูููุงุ ููุงููุดูุฑู ุนูููููููุง ุฑูุญูู ูุชููู ุจูุงูุณููุญูุงุจู ุงููู ูููุจูุนูููุ ููุงูุฑููุจููุนู ุงููู ูุบูุฏูููุ ููุงููููุจูุงุชู ุงููู ููููููุ ุณูุญููุง ููุงุจูููุงุ ุชูุญูููู ุจููู ู ูุง ููุฏู ู ูุงุชูุ ููุชูุฑูุฏูู ุจููู ู ูุง ููุฏู ููุงุชู.
Terjemahan:
Ya Allah, kami keluar menuju-Mu ketika tahun-tahun paceklik bertubi-tubi menimpa kami dan tanda-tanda hujan mengecewakan harapan kami. Engkaulah harapan bagi orang yang sengsara dan pencukup kebutuhan orang yang memohon.
Kami menyeru-Mu ketika manusia telah berputus asa, hujan dari awan tertahan, dan ternak binasa. Janganlah Engkau menghukum kami karena perbuatan kami atau menimpakan azab kepada kami karena dosa-dosa kami.
Bentangkanlah rahmat-Mu atas kami melalui awan yang mencurahkan air, musim yang berlimpah kesuburan, dan tumbuhan yang menawan; melalui hujan yang tercurah deras, yang dengannya Engkau menghidupkan apa yang telah mati dan mengembalikan apa yang telah hilang.
- Memohon hujan yang menghidupkan
ุงููููููู ูู ุณูููููุง ู ููููู ู ูุญูููููุฉู ู ูุฑูููููุฉูุ ุชูุงู ููุฉู ุนูุงู ููุฉูุ ุทููููุจูุฉู ู ูุจูุงุฑูููุฉูุ ูููููุฆูุฉู ู ูุฑููุนูุฉูุ ุฒูุงููููุง ููุจูุชูููุงุ ุซูุงู ูุฑูุง ููุฑูุนูููุงุ ููุงุถูุฑูุง ููุฑูููููุงุ ุชูููุนูุดู ุจูููุง ุงูุถููุนูููู ู ููู ุนูุจูุงุฏูููุ ููุชูุญูููู ุจูููุง ุงููู ููููุชู ู ููู ุจูููุงุฏููู.
Terjemahan:
Ya Allah, anugerahkanlah hujan dari sisi-Mu yang menghidupkan dan menghilangkan dahaga, yang mencukupi dan merata, yang baik dan diberkahi, yang menyenangkan serta membawa kesuburan.
Dengan hujan itu, tumbuhan berkembang, cabang-cabang menghasilkan buah, dan dedaunan menjadi segar. Dengannya Engkau pulihkan kekuatan hamba-hamba-Mu yang lemah dan Engkau hidupkan kembali negeri-negeri-Mu yang telah mati.
- Rahmat bagi manusia, ternak, dan hewan liar
ุงููููููู ูู ุณูููููุง ู ููููู ุชูุนูุดูุจู ุจูููุง ููุฌูุงุฏูููุงุ ููุชูุฌูุฑูู ุจูููุง ููููุงุฏูููุงุ ููููุฎูุตูุจู ุจูููุง ุฌูููุงุจูููุงุ ููุชูููุจููู ุจูููุง ุซูู ูุงุฑูููุงุ ููุชูุนููุดู ุจูููุง ู ูููุงุดููููุงุ ููุชูููุฏูู ุจูููุง ุฃูููุงุตููููุงุ ููุชูุณูุชูุนูููู ุจูููุง ุถูููุงุญููููุงุ ู ููู ุจูุฑูููุงุชููู ุงููููุงุณูุนูุฉูุ ููุนูุทูุงููุงูู ุงููุฌูุฒููููุฉูุ ุนูููู ุจูุฑููููุชููู ุงููู ูุฑูู ูููุฉูุ ููููุญูุดููู ุงููู ูููู ูููุฉู.
Terjemahan:
Ya Allah, anugerahkanlah hujan dari sisi-Mu yang menumbuhkan rumput di dataran tinggi kami, mengalirkan air di lembah-lembah kami, menyuburkan tanah di sekitar kami, menghasilkan buah-buahan kami, dan menopang kehidupan ternak kami.
Semoga dengannya daerah-daerah kami yang jauh menjadi basah dan wilayah-wilayah terbuka kami memperoleh manfaat. Limpahkanlah keberkahan-Mu yang luas dan karunia-Mu yang besar kepada makhluk-Mu yang melarat serta hewan-hewan liar-Mu yang tidak dipelihara manusia.
- Hujan yang membawa kesuburan dan harapan
ููุฃูููุฒููู ุนูููููููุง ุณูู ูุงุกู ู ูุฎูุถูููุฉูุ ู ูุฏูุฑูุงุฑูุง ููุงุทูููุฉูุ ููุฏูุงููุนู ุงููููุฏููู ู ูููููุง ุงููููุฏูููุ ููููุญูููุฒู ุงููููุทูุฑู ู ูููููุง ุงููููุทูุฑูุ ุบูููุฑู ุฎููููุจู ุจูุฑูููููุงุ ููููุง ุฌูููุงู ู ุนูุงุฑูุถูููุงุ ููููุง ููุฒูุนู ุฑูุจูุงุจูููุงุ ููููุง ุดููููุงูู ุฐูููุงุจูููุงุ ุญูุชููู ููุฎูุตูุจู ููุฅูู ูุฑูุงุนูููุง ุงููู ูุฌูุฏูุจููููุ ููููุญูููุง ุจูุจูุฑูููุชูููุง ุงููู ูุณูููุชููููุ ููุฅูููููู ุชูููุฒููู ุงููุบูููุซู ู ููู ุจูุนูุฏู ู ูุง ููููุทููุงุ ููุชูููุดูุฑู ุฑูุญูู ูุชูููุ ููุฃูููุชู ุงููููููููู ุงููุญูู ููุฏู.
Terjemahan:
Turunkanlah kepada kami hujan yang membasahi bumi, melimpah dan tercurah deras; curahannya saling menyusul dan tetesannya saling mendorong.
Hujan yang kilatnya tidak menipu, awannya tidak hampa air, gumpalan awannya tidak tercerai-berai, dan tidak berupa gerimis yang disertai angin dingin. Hingga orang-orang yang dilanda kekeringan menikmati kesuburannya dan mereka yang ditimpa paceklik memperoleh kehidupan melalui keberkahannya.
Sungguh, Engkaulah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, meluaskan rahmat-Mu, dan Engkaulah Pelindung, Yang Maha Terpuji.
—
Catatan pengisahan:
Kisah diolah dari Nahj al-Balaghah, Khutbah 115. Adegan kambing, penggembala, suasana pertemuan, dan gerak tubuh merupakan rekonstruksi sastra. Teks sumber memuat doa, tanpa menetapkan tanggal, tempat, ataupun berita bahwa hujan langsung turun sesudahnya.
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: ย https://www.facebook.com/share/p/1C328cvJdD/
—
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


