SYARAH DOA KUMAIL (39) – SEBELUM MENGAKUI DOSA, SUCIKANLAH ALLAH DARI SANGKAAN KITA
Teks Doa Kumail
> لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ
Lā ilāha illā anta, subḥānaka wa biḥamdika.
“Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu.”
Penggalan ini berdiri tepat sebelum pengakuan, “Aku telah menzalimi diriku.” Susunannya mengajarkan sebuah adab: sebelum mengakui kesalahan, hamba terlebih dahulu menyucikan Allah dari setiap tuduhan dan prasangka yang tidak layak.
Tema utama
Taubat yang benar dimulai dengan tauhid: Allah tidak bersalah atas dosa kita, tidak berbuat zalim dalam ketetapan-Nya, dan tidak kekurangan apa pun dalam pemeliharaan-Nya.
Kesalahan berada pada pilihan hamba; sedangkan Allah tetap Mahasuci dan Maha Terpuji.
Tiga ungkapan dalam penggalan ini membangun tiga fondasi:
Lā ilāha illā anta: tidak ada tempat penghambaan dan harapan mutlak selain Allah.
Subḥānaka: Allah Mahasuci dari kezaliman, kekurangan, dan sifat-sifat makhluk.
Wa biḥamdika: bahkan ketika mengakui dosa, hamba tetap melihat kemurahan dan kesempurnaan-Nya.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Anbiya 21:87
> لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Doa Nabi Yunus as memiliki susunan yang sangat dekat: tauhid, penyucian Allah, lalu pengakuan kesalahan. Ia tidak memulai dengan menyalahkan laut, ikan, keadaan, atau takdir. Ia memulai dengan membenahi hubungannya dengan Allah. QS Al-Anbiya 21:87
- QS Al-Isra 17:44
> تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ
“Tujuh langit, bumi, dan siapa pun yang berada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.”
Doa Kumail menyatukan tasbih dan pujian sebagaimana Al-Qur’an: subḥānaka wa biḥamdika. Seluruh keberadaan menjadi saksi bahwa Allah Mahasuci dan segala kesempurnaan kembali kepada-Nya. QS Al-Isra 17:44
- QS Al-An‘am 6:102
> ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ
“Itulah Allah, Tuhan kalian. Tidak ada tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah Dia.”
Tauhid bukan hanya pernyataan mengenai jumlah Tuhan. Ia menuntut agar penyembahan, ketaatan tertinggi, ketergantungan, dan kepulangan diarahkan hanya kepada-Nya. QS Al-An‘am 6:102
Doa Ahlul Bait
Dalam doa ke-28 Ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, disebutkan:
> فَتَعَالَيْتَ عَنِ الْأَشْبَاهِ وَالْأَضْدَادِ، وَتَكَبَّرْتَ عَنِ الْأَمْثَالِ وَالْأَنْدَادِ، فَسُبْحَانَكَ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ
“Engkau Mahatinggi dari segala keserupaan dan lawan; Mahabesar dari segala bandingan dan tandingan. Maka Mahasuci Engkau, tiada Tuhan selain Engkau.”
Doa tersebut mendahuluinya dengan pernyataan bahwa semua selain Allah lemah, berubah, dan membutuhkan pertolongan. Hanya Allah yang tidak mempunyai tandingan dan tidak bergantung kepada apa pun. Ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, Doa 28
Kerangka pembahasan
- Hubungan tauhid, tasbih, dan pujian dalam satu penggalan.
- Lā ilāha illā anta meruntuhkan seluruh sandaran mutlak selain Allah.
- Subḥānaka menyucikan Allah dari kezaliman dan kekurangan.
- Wa biḥamdika mengakui bahwa seluruh kesempurnaan milik-Nya.
- Taubat tidak boleh dibangun di atas sikap menyalahkan takdir.
- Pengakuan dosa menjadi sehat ketika pandangan kepada Allah telah diluruskan.
- Hamba mengakui keburukannya tanpa kehilangan keyakinan kepada kebaikan Tuhan.
Pembuka syarah
Sebelum mengatakan, “Aku telah menzalimi diriku,” Doa Kumail terlebih dahulu berkata:
> “Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu.”
Susunan ini bukan kebetulan.
Ketika manusia berhadapan dengan akibat dosanya, ia mudah mencari pihak lain untuk disalahkan. Ia menyalahkan keadaan, lingkungan, keluarga, kelemahan tubuh, godaan dunia, bahkan ketetapan Allah.
Seakan-akan dosanya terjadi karena Allah tidak cukup menjaganya.
Doa Kumail membersihkan kesadaran itu sebelum pengakuan dimulai.
Lā ilāha illā anta.
Tidak ada tuhan selain Engkau. Tidak ada tempat kepulangan yang mutlak selain Engkau. Tidak ada kekuasaan yang berdiri mandiri di hadapan-Mu.
Subḥānaka.
Engkau Mahasuci dari segala kezaliman. Engkau tidak pernah menyesatkan hamba yang ingin mencari petunjuk. Engkau tidak membebani tanpa memberikan kemampuan. Engkau tidak menutup pintu taubat ketika manusia datang membawa penyesalan.
Wa biḥamdika.
Segala puji bagi-Mu. Bahkan kemampuan untuk menyadari dosa adalah pemberian-Mu. Hati yang masih menyesal belum sepenuhnya mati. Lidah yang masih dapat mengucapkan istigfar belum kehilangan seluruh jalannya untuk kembali.
Tauhid yang sejati membuat manusia berhenti menuduh Allah atas kerusakan yang dibuatnya sendiri.
Ia tidak berkata, “Mengapa Allah membiarkan aku melakukan ini?” sebelum bertanya, “Mengapa aku menggunakan kebebasan dan kekuatan yang diberikan-Nya untuk melanggar perintah-Nya?”
Namun menyucikan Allah tidak berarti manusia harus membenci dirinya. Doa ini tidak menghancurkan harga diri; ia menghancurkan kebohongan diri.
Hamba tidak dipanggil untuk merasa bahwa dirinya tidak mempunyai nilai, tetapi untuk berhenti memindahkan kesalahan kepada Tuhan.
Nabi Yunus as berseru dalam kegelapan: tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.
Doa itu tidak berakhir di dalam kegelapan.
Pengakuan yang dimulai dengan tauhid justru menjadi jalan keselamatan.
Sebab ketika Allah telah disucikan dari seluruh tuduhan, manusia akhirnya dapat melihat dengan jernih apa yang harus diperbaiki dalam dirinya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DVpHod2fS/
—
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


