Bagian 2: BERAPA JARAK ANTARA TIMUR DAN BARAT?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Abu Hanifah bertanya kepada Imam Ja‘far ash-Shadiq:
“Berapakah jarak antara timur dan barat?”
Orang mungkin mengharapkan jawaban berupa ukuran: sekian mil, sekian farsakh, atau sekian hari perjalanan. Namun Imam Ja‘far menjawab:
“Perjalanan satu hari—bahkan kurang dari itu.”
Abu Hanifah merasa heran. Bagaimana mungkin jarak antara timur dan barat ditempuh kurang dari sehari? Bukankah keduanya terbentang begitu jauh?
Imam Ja‘far kemudian menjelaskan:
“Mengapa engkau mengingkarinya? Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat dalam waktu kurang dari satu hari.”
Jawaban itu singkat. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan satu pelajaran penting: sebelum menjawab sebuah pertanyaan, kita harus memahami terlebih dahulu apa sebenarnya yang sedang ditanyakan.
Pertanyaan yang tampak jelas
“Berapa jarak antara timur dan barat?”
Sekilas, pertanyaan ini tampak terang. Padahal di dalamnya tersembunyi beberapa persoalan.
Timur yang mana? Barat yang mana? Diukur dari tempat siapa? Apakah yang dimaksud jarak geografis, perjalanan manusia, atau rentang waktu yang tampak dalam peredaran matahari?
Timur dan barat bukanlah dua tembok yang berdiri pada ujung bumi. Keduanya merupakan arah yang bergantung pada posisi seseorang. Timur bagi seseorang dapat menjadi barat bagi orang lain yang berdiri di tempat berbeda.
Dengan demikian, pertanyaan Abu Hanifah sebenarnya belum memberikan kerangka pengukuran yang pasti.
Imam Ja‘far tidak terjebak dalam ketidakjelasan itu. Beliau memilih sebuah kerangka yang dapat disaksikan setiap manusia: perjalanan matahari dalam pandangan sehari-hari, sejak terbit sampai tenggelam.
Dalam kerangka itu, jarak antara timur dan barat memang ditempuh dalam waktu kurang dari satu hari.
Bukan pelajaran astronomi
Jawaban Imam tidak harus dibaca sebagai rumusan astronomi modern. Beliau sedang berbicara dengan bahasa pengalaman manusia: matahari terlihat terbit dari timur, bergerak di langit, kemudian tenggelam di barat.
Yang hendak diperlihatkan bukan ukuran mutlak alam semesta, melainkan kelemahan dalam pertanyaannya.
Abu Hanifah mengira hanya ada satu cara memahami “jarak”. Imam Ja‘far menunjukkan bahwa sebuah pertanyaan dapat memiliki jawaban berbeda ketika kerangka acuannya berubah.
Di sinilah kecerdasan seorang guru terlihat. Guru sejati tidak selalu memberikan jawaban yang panjang. Kadang-kadang ia hanya mengubah sudut pandang muridnya—lalu persoalan yang tampak rumit menjadi terang dengan sendirinya.
Kesalahan sering dimulai dari kerangka
Manusia kerap berselisih bukan karena tidak memiliki jawaban, melainkan karena sejak awal mereka tidak sepakat tentang apa yang sedang dibicarakan.
Seseorang bertanya tentang “keadilan”, tetapi tidak menjelaskan keadilan menurut ukuran siapa. Ia berbicara tentang “kebebasan”, tetapi tidak menentukan apakah yang dimaksud bebas dari paksaan, bebas dari tanggung jawab, atau bebas mengikuti kebenaran.
Demikian pula dalam hukum. Dua peristiwa dapat tampak serupa, lalu seseorang segera menyamakan hukumnya. Namun pertanyaan yang semestinya diajukan terlebih dahulu adalah:
Serupa dalam hal apa?
Dua perkara mungkin sama bentuknya, tetapi berbeda sebabnya. Sama akibat lahiriahnya, tetapi berlainan maksudnya. Sama namanya, tetapi berbeda hakikatnya.
Di sinilah jawaban Imam Ja‘far memiliki hubungan yang dalam dengan persoalan qiyas. Qiyas dapat tampak sangat meyakinkan apabila orang menganggap dua perkara berada dalam kerangka yang sama. Padahal kesamaan itu mungkin hanya terdapat pada permukaan.
Kesalahan bukan selalu berada pada kesimpulan. Kadang-kadang kesalahan telah terjadi jauh sebelumnya—ketika seseorang memilih ukuran yang keliru.
Memperbaiki pertanyaan
Imam Ja‘far tidak sekadar menjawab Abu Hanifah. Beliau memperbaiki cara berpikir yang melahirkan pertanyaan itu.
Sebab pertanyaan yang tidak tepat dapat membawa manusia kepada jawaban yang menyesatkan, sekalipun disusun dengan logika yang rapi. Logika bekerja berdasarkan bahan yang diberikan kepadanya. Jika batas pengertian, ukuran, dan kerangka acuannya kabur, kesimpulannya pun akan berdiri di atas kekaburan.
Karena itu, kecerdasan bukan hanya kemampuan menjawab dengan cepat. Kecerdasan juga berarti mengetahui kapan sebuah pertanyaan perlu diperiksa kembali.
Apa yang dimaksud?
Dari sudut pandang siapa?
Dengan ukuran apa?
Dalam keadaan bagaimana?
Pertanyaan-pertanyaan kecil itulah yang menjaga akal agar tidak tergesa-gesa mengubah dugaan menjadi kepastian.
Ketika Abu Hanifah bertanya tentang jarak antara timur dan barat, Imam Ja‘far tidak mengajaknya mengukur bumi. Beliau mengajaknya mengukur ketepatan pikirannya sendiri.
Dan terkadang, perjalanan terjauh bukanlah dari timur menuju barat.
Perjalanan terjauh adalah dari merasa telah memahami—menuju kesadaran bahwa pertanyaannya sendiri masih harus diperbaiki.
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
⸻
Catatan sumber:
Dialog ini dinukil oleh ath-Thabrisi dalam al-Ihtijaj melalui riwayat al-Hasan bin Mahbub dari Sama‘ah, dan dimuat kembali dalam Bihar al-Anwar, jilid 47, halaman 215.
Karena al-Ihtijaj sering menukil riwayat secara ringkas, kisah ini sebaiknya diperlakukan sebagai riwayat yang tercatat dalam literatur, tanpa memberinya penilaian sanad yang belum dapat dipastikan. Lihat Bihar al-Anwar, jilid 47, hlm. 215.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19RuxbQqFV/

