Bagian 7: MENGAPA ENGKAU MEMBAWA TONGKAT?
Pada suatu hari, Abu Hanifah datang menemui Imam Ja‘far ash-Shadiq untuk mendengarkan ilmu darinya.
Imam keluar dengan bertumpu pada sebuah tongkat. Melihat itu, Abu Hanifah merasa heran. Usia Imam belum sedemikian lanjut hingga membutuhkan tongkat untuk menopang tubuhnya.
Ia pun bertanya:
“Wahai putra Rasulullah, engkau belum mencapai usia yang membuatmu membutuhkan tongkat.”
Imam Ja‘far menjawab:
“Benar. Namun ini adalah tongkat Rasulullah saw. Aku membawanya untuk mengambil berkah darinya.”
Mendengar bahwa tongkat itu merupakan peninggalan Rasulullah, Abu Hanifah segera bangkit dan berkata:
“Izinkan aku menciumnya, wahai putra Rasulullah.”
Imam Ja‘far lalu menyingkap bagian lengannya dan berkata:
“Demi Allah, engkau mengetahui bahwa kulit ini berasal dari kulit Rasulullah dan rambut ini berasal dari rambut Rasulullah. Namun engkau tidak menciumnya, sementara engkau ingin mencium tongkatnya?”
Abu Hanifah kemudian berusaha mendekat untuk mencium tangan Imam. Namun Imam menarik tangannya, menurunkan kembali lengan bajunya, lalu masuk ke dalam rumah.
Mencintai benda yang ditinggalkan
Keinginan Abu Hanifah mencium tongkat Rasulullah tidak dianggapnya sebagai kemusyrikan.
Begitu mengetahui bahwa tongkat itu berhubungan dengan Nabi, ia ingin berdiri dan menciumnya. Tidak ada pertanyaan:
“Apa dalilnya?”
Tidak pula muncul tuduhan:
“Bukankah itu hanya sebatang kayu?”
Abu Hanifah memahami bahwa tongkat itu tetaplah benda. Ia tidak menyembahnya dan tidak menganggapnya mempunyai kekuasaan sendiri. Namun karena pernah digunakan oleh Rasulullah saw., benda itu memperoleh kedudukan khusus di dalam hatinya.
Cinta memang bekerja demikian.
Seorang anak menyimpan pakaian ayahnya yang telah wafat. Bukan karena kain itu mempunyai kekuatan gaib, tetapi karena di sana terdapat jejak orang yang dicintainya. Seseorang mencium surat lama dari ibunya bukan karena kertas itu dapat memberikan manfaat secara mandiri, melainkan karena kasih sayang membuat benda-benda tertentu membawa ingatan, kedekatan, dan makna.
Jika hal seperti itu dapat dipahami dalam hubungan manusia biasa, mengapa menjadi aneh ketika dilakukan kepada peninggalan manusia paling mulia?
Tabarruk bukan menyembah benda
Imam Ja‘far sendiri mengatakan bahwa beliau membawa tongkat Rasulullah untuk mengambil berkah darinya.
Artinya, dalam bahasa riwayat tersebut, tabarruk kepada peninggalan Nabi bukanlah tindakan yang bertentangan dengan tauhid.
Berkah berasal dari Allah. Namun Allah dapat meletakkan berkah-Nya pada manusia, tempat, waktu, maupun benda yang Dia kehendaki.
Ka‘bah tersusun dari batu, tetapi tidak sama dengan bangunan biasa. Air Zamzam tetaplah air, tetapi tidak sama kedudukannya dengan air lain. Malam al-Qadar merupakan bagian dari waktu, tetapi Allah menjadikannya lebih baik daripada seribu bulan.
Benda, tempat, dan waktu tidak menjadi Tuhan hanya karena Allah memberikan kedudukan khusus kepadanya.
Demikian pula peninggalan Rasulullah.
Para sahabat berebut sisa air wudu Nabi. Rasulullah membagikan rambutnya setelah bercukur kepada para sahabat. Ummu Sulaim mengumpulkan keringat Nabi dan mencampurkannya ke dalam minyak wangi. Semua itu tercatat dalam kitab-kitab hadis yang diterima oleh kaum Sunni.
Mereka tidak sedang menyembah air, rambut, atau keringat. Mereka mencari keberkahan melalui sesuatu yang berhubungan dengan manusia yang paling dicintai Allah.
Maka persoalannya bukan apakah sebuah benda memiliki kekuasaan sendiri. Tentu tidak.
Persoalannya adalah apakah Allah dapat memberikan berkah melalui sesuatu yang Dia kehendaki.
Jawabannya jelas: dapat.
Tongkat yang jauh dan manusia yang dekat
Namun Imam Ja‘far membawa percakapan itu lebih jauh.
Abu Hanifah ingin mencium tongkat Rasulullah. Imam kemudian menunjukkan lengannya:
“Kulit ini berasal dari kulit Rasulullah dan rambut ini berasal dari rambut Rasulullah.”
Tongkat mempunyai hubungan dengan Nabi karena pernah disentuh dan digunakannya. Sementara Imam Ja‘far mempunyai hubungan dengan Nabi melalui darah, nasab, rumah, pendidikan, dan mata rantai ilmu.
Mengapa seseorang begitu menghormati benda mati yang pernah berada di tangan Rasulullah, tetapi tidak sepenuhnya mengenali manusia hidup yang membawa ilmu Rasulullah?
Inilah inti teguran Imam.
Bukan karena tongkat itu tidak layak dihormati. Imam sendiri membawanya untuk bertabarruk. Namun penghormatan kepada peninggalan Nabi menjadi timpang apabila tidak disertai penghormatan kepada keluarga yang mewarisi petunjuknya.
Seseorang dapat menangis ketika melihat sandal yang dinisbatkan kepada Rasulullah, tetapi tidak tergerak mempelajari ajaran cucunya.
Ia dapat mencium dinding makam Nabi, tetapi menolak ketika perkataan Ahlul Bait berbeda dari pendapat mazhabnya.
Ia memuliakan rambut Nabi, tetapi mengabaikan kepala Imam Husain yang dipenggal dan diarak oleh kekuasaan.
Ia mencintai benda-benda yang berhubungan dengan Rasulullah, tetapi diam ketika keluarga Rasulullah disingkirkan dari sejarah, ilmu, dan kepemimpinan umat.
Cinta semacam itu belum selesai.
Nasab bukan sekadar kebanggaan biologis
Imam Ja‘far tidak sedang membanggakan garis keturunannya untuk memperoleh penghormatan pribadi.
Buktinya, ketika Abu Hanifah hendak mencium tangannya, Imam justru menarik tangannya dan masuk ke dalam rumah.
Beliau tidak sedang meminta tangannya dicium. Beliau sedang memperbaiki urutan kesadaran Abu Hanifah.
Jangan berhenti pada tongkat.
Lihatlah manusia yang memegang tongkat itu.
Jangan hanya mencari jejak fisik Rasulullah pada benda-benda peninggalannya.
Carilah pula jejak ilmu, akhlak, dan kebenarannya pada Ahlul Bait.
Hubungan biologis saja tentu tidak otomatis menjadikan setiap keturunan Nabi sebagai imam atau manusia suci. Namun pada Imam Ja‘far, nasab itu bertemu dengan ilmu, kesucian, akhlak, dan mata rantai pengajaran yang bersambung:
Ja‘far menerima dari ayahnya, Muhammad al-Baqir. Al-Baqir menerima dari Ali Zainal Abidin. Zainal Abidin menerima dari Imam Husain. Husain menerima dari Ali dan Fathimah. Dan keduanya menerima langsung dari Rasulullah saw.
Jadi, yang berdiri di hadapan Abu Hanifah bukan hanya seorang keturunan Nabi.
Ia adalah mata rantai hidup dari ilmu Nabi.
Peninggalan terbesar Rasulullah
Manusia sering lebih mudah menghormati peninggalan yang diam.
Tongkat tidak akan mengoreksi pikiran kita. Rambut tidak akan menggugat pilihan kita. Pakaian tidak akan menegur kekeliruan kita.
Namun Ahlul Bait berbicara.
Mereka menjelaskan Al-Qur’an, mengoreksi hukum, menentang kezaliman, dan meminta manusia mengubah cara berpikirnya. Karena itu, mencintai benda-benda peninggalan Nabi jauh lebih mudah daripada mengikuti manusia-manusia yang mewarisi kebenarannya.
Benda dapat dicium tanpa konsekuensi.
Tetapi mengikuti Imam berarti bersedia memperbaiki keyakinan, hukum, keberpihakan, dan arah hidup.
Barangkali karena itulah umat dapat berebut benda yang dinisbatkan kepada Rasulullah, tetapi berselisih ketika diminta mengikuti keluarganya.
Padahal Rasulullah tidak hanya meninggalkan tongkat, pakaian, rambut, dan tempat-tempat yang pernah disentuhnya.
Beliau meninggalkan Al-Qur’an dan Ahlul Bait.
Itulah dua peninggalan terbesar yang tidak hanya harus dicintai, tetapi juga diikuti.
Tangan yang ditarik kembali
Ketika Abu Hanifah hendak mencium tangan Imam, beliau menariknya.
Adegan itu sangat indah.
Imam tidak membutuhkan penghormatan lahiriah setelah memberikan pelajaran. Beliau tidak sedang mencari pengikut yang mencium tangannya. Beliau menginginkan manusia yang memahami kedudukannya dan mengambil ilmu darinya.
Sebab mencium tangan dapat dilakukan dalam beberapa detik.
Namun mengikuti kebenaran yang disampaikan tangan itu membutuhkan keberanian sepanjang hidup.
Imam Ja‘far tidak menolak cinta. Beliau membersihkan cinta dari kedangkalan.
Cintailah tongkat Rasulullah jika benar-benar terbukti sebagai tongkatnya.
Muliakanlah rambutnya, pakaiannya, makamnya, serta segala sesuatu yang sah berhubungan dengannya.
Namun jangan sampai benda mati yang ditinggalkan Rasulullah lebih dihormati daripada keluarga hidup yang diwariskannya kepada umat.
Abu Hanifah bertanya mengapa Imam Ja‘far membawa tongkat.
Imam menjawab bukan hanya dengan menjelaskan siapa pemilik tongkat itu.
Beliau menunjukkan siapa manusia yang sedang memegangnya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
⸻
Catatan sumber:
Kisah ini tercatat dalam beberapa karya klasik, antara lain Da‘ā’im al-Islām karya al-Qadhi an-Nu‘man, jilid 1, halaman 59, serta Manāqib Āl Abī Thālib karya Ibn Syahr Asyub, jilid 3, halaman 372.
Lihat Manāqib Āl Abī Thālib, jilid 3, hlm. 372. Riwayat tersebut juga dikutip dalam Bihār al-Anwār, jilid 47, hlm. 28.
Prinsip tabarruk kepada peninggalan Rasulullah memiliki landasan yang sangat kuat, termasuk dalam literatur hadis Sunni: para sahabat berebut sisa air wudu Nabi dalam Shahih al-Bukhari no. 189,
Rasulullah membagikan rambutnya dalam Shahih Muslim no. 1305b, dan Ummu Sulaim mengambil berkah dari keringat Nabi dalam Shahih Muslim no. 2331b.
Dengan demikian, penghormatan kepada peninggalan Nabi bukan tradisi asing dalam Islam dan tidak dapat serta-merta disamakan dengan penyembahan terhadap benda.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EVNzCas9Z/

