SYARAH DOA KUMAIL (28) – MEMBESARKAN KERINDUAN, BUKAN SEKADAR KEINGINAN
Teks Doa Kumail
> وَعَظُمَ فِيمَا عِنْدَكَ رَغْبَتُهُ
Wa ‘aẓuma fīmā ‘indaka raghbatuhu.
“Dan besarlah kerinduannya terhadap apa yang berada di sisi-Mu.”
Tema utama
Islam tidak membunuh keinginan manusia; ia mendidik dan meninggikan arah keinginannya—dari sesuatu yang segera habis menuju apa yang kekal di sisi Allah.
Kata raghbah memuat makna keinginan, harapan, dan kerinduan yang membuat seseorang bergerak menuju sesuatu. Manusia tidak pernah hidup tanpa keinginan. Bahkan orang yang mengaku tidak menginginkan apa pun sedang menginginkan ketenangan dari berbagai keinginan.
Pertanyaannya bukan apakah kita mempunyai keinginan, melainkan apa yang dianggap hati paling layak diinginkan.
Ayat Al-Qur’an
- QS At-Taubah 9:72
> وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”
Bahkan setelah Al-Qur’an menyebut surga dan kenikmatannya, keridaan Allah dinyatakan lebih besar. Puncak keinginan seorang mukmin bukan hanya memperoleh pemberian, tetapi diterima oleh Sang Pemberi. QS At-Taubah 9:72
- QS Al-Kahf 18:46
> الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal-amal saleh yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”
Al-Qur’an tidak menyebut harta dan keluarga sebagai keburukan. Ia menempatkannya secara tepat: keduanya perhiasan, bukan tujuan terakhir keberadaan manusia. QS Al-Kahf 18:46
- QS Asy-Syura 42:20
> مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ
“Barang siapa menghendaki hasil akhirat, Kami akan menambah hasil itu baginya.”
Apa yang terus-menerus diinginkan hati akan membentuk arah usaha dan kehidupan. Keinginan terhadap akhirat bukan pelarian dari dunia, melainkan penggunaan dunia sebagai ladang bagi kehidupan yang kekal. QS Asy-Syura 42:20
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa ke-54 ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, terdapat penggalan yang sangat dekat dengan Doa Kumail:
> وَاقْطَعْ مِنَ الدُّنْيَا حَاجَتِي، وَاجْعَلْ فِيمَا عِنْدَكَ رَغْبَتِي شَوْقًا إِلَىٰ لِقَائِكَ، وَهَبْ لِي صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ
“Putuskanlah ketergantungan hatiku kepada dunia; jadikanlah kerinduanku kepada apa yang berada di sisi-Mu sebagai kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu; dan anugerahkan kepadaku ketulusan dalam bertawakal kepada-Mu.”
Doa ini juga menggunakan ungkapan fīmā ‘indaka raghbatī—“jadikanlah keinginanku tertuju kepada apa yang berada di sisi-Mu.”
Catatan: Doa ke-54 termasuk dalam korpus inti ash-Sahifah as-Sajjadiyyah yang secara masyhur dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as.
Kerangka pembahasan
- Raghbah sebagai keinginan yang menggerakkan kehidupan.
- Agama tidak mematikan keinginan, tetapi menyucikan tujuannya.
- Kenikmatan dunia adalah perhiasan, bukan tujuan terakhir.
- Keridaan Allah lebih besar daripada seluruh pemberian.
- Besarnya kerinduan harus tampak dalam besarnya kesungguhan.
- Doa mendewasakan manusia: dari meminta pemberian menuju merindukan Sang Pemberi.
Pembuka syarah
Tidak ada manusia yang hidup tanpa keinginan.
Seorang anak menginginkan perhatian. Orang dewasa menginginkan keberhasilan. Orang yang telah berhasil menginginkan penghormatan. Setelah penghormatan diperoleh, ia menginginkan agar semuanya tidak hilang.
Keinginan berganti bentuk, tetapi tidak pernah benar-benar selesai.
Doa Kumail tidak menyuruh manusia membunuh seluruh keinginannya. Ia mengajarkan agar keinginan itu dibesarkan dan diarahkan kepada sesuatu yang tidak akan habis:
> “Dan besarlah kerinduannya terhadap apa yang berada di sisi-Mu.”
Masalah manusia bukan karena ia terlalu banyak menginginkan. Sering kali ia menginginkan sesuatu yang terlalu kecil.
Ia menukar ketenteraman dengan pujian sesaat. Ia mengorbankan kebenaran untuk jabatan yang segera berpindah tangan. Ia menjual kebersihan hati demi harta yang pada akhirnya ditinggalkan.
Dunia tidak selalu buruk. Harta dapat menjadi jalan pelayanan, kekuasaan dapat menjadi alat menegakkan keadilan, dan ilmu dapat menerangi kehidupan.
Namun semuanya menjadi berbahaya ketika berhenti sebagai sarana dan mengambil tempat Allah sebagai tujuan terakhir.
Kerinduan kepada apa yang berada di sisi Allah tidak membuat seorang mukmin meninggalkan dunia. Ia justru membuatnya bekerja di dunia dengan arah yang lebih tinggi.
Ia mencari ilmu bukan hanya agar dikenal, tetapi agar kebenaran semakin terang. Ia mencari rezeki bukan sekadar untuk menumpuk, tetapi untuk menjaga keluarga dan menguatkan kebaikan.
Ia menginginkan pengaruh bukan agar manusia tunduk kepadanya, tetapi agar lebih banyak manusia terlindungi.
Pada mulanya, seseorang mungkin mendatangi Allah karena membutuhkan sesuatu.
Namun doa perlahan mendewasakan cintanya. Ia tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang akan Engkau berikan kepadaku?”
Ia mulai berbisik, “Ya Allah, jadikan keridaan-Mu lebih besar dalam hatiku daripada seluruh yang dapat kumiliki.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JHZhtvTWh/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


