Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Qasim bin Hasan (bahasa Arab: قاسم بن الحسن ) salah seorang putra dari Imam Hasan al-Mujtaba as yang turut gugur sebagai syuhada di padang Karbala pada peristiwa Asyura 61 H. Pada malam Asyura, menjawab pertanyaan pamannya Imam Husain as akan pendapatnya mengenai kematian yang tidak lama lagi menjelang, Qasim bin Hasan menjawab, bahwa kematian itu lebih manis dari madu.
Qasim, seorang remaja yang belum dewasa, mendatangi pamannya, Abdillah al-Husein a.s., untuk meminta izin pergi ke medan pertempuran.
Begitu melihat Qasim, Imam al-Husein a.s. langsung memeluknya erat dan mereka berdua pun menangis bersama. Imam al-Husein a.s. sempat menolak permohonan tersebut karena usia Qasim yang masih sangat belia.
Namun, Qasim akhirnya berhasil mendapatkan izin setelah terus memohon serta mencium tangan dan kaki sang Imam.
Wajah anak remaja berusia 13 tahun itu digambarkan indah bagai sepotong rembulan, dan ia bertempur di medan perang dengan penuh keberanian.
Di tengah pertempuran, tiba-tiba seorang yang terkutuk bernama Amar bin Sa’ad menyerang Qasim dan memukul dahinya dengan sangat keras hingga ia jatuh. Dalam kondisi tersebut, Qasim berteriak meminta pertolongan, “Oh paman, tolonglah aku!”.
Mendengar teriakan itu, Imam Husein a.s. segera menghampiri dan berdiri di samping Qasim.
Qasim yang sedang mengalami kesakitan teramat sangat tampak mengais-ngais tanah dengan kedua kakinya.
Imam pun berkata dengan penuh kepiluan: “Semoga Allah menjauhkan satu kaum yang telah membunuhmu dari rahmat-Nya. Betapa sulit bagi pamanmu yang diminta bantuannya namun tidak dapat melakukan apa-apa.”


