Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
SAFINAH TV – Imam Ali Ridha as., mendapat tawaran menjadi putra mahkota Al-Makmun. Walaupun mengalami tekanan dan kekerasan, Imam Ali Ridha as. tetap dengan pendiriannya. Sedangkan Al-Makmun berusaha membujuk Imam Ali Ridha as untuk bersedia menerima tawarannya.
Apakah yang terjadi di balik tawaran Al-Makmun menjadikan Imam Ali Ridha as. sebagai Putra Mahkota?
Selamat menyaksikan!
Di Balik Pengangkatan Imam Ali Ridha sebagai Putra Mahkota Al-Ma’mun
Alasan Penerimaan Jabatan
Persoalan mengenai diterimanya jabatan Putra Mahkota oleh Imam Ridha as dari Khalifah Al-Ma’mun Al-Abbasi memicu banyak pertanyaan, bahkan di kalangan sahabat dekat beliau sendiri.
Namun, Imam Ridha as sebenarnya mengetahui bahwa masa jabatannya tersebut tidak akan berlangsung lama dan beliau menyadari bahwa dirinya akan wafat akibat diracun oleh Al-Ma’mun.
Salah seorang sahabatnya yang bernama Rayyan pernah bertanya, “Wahai putra Rasulullah, orang-orang berkata bahwa Anda menerima jabatan Putra Mahkota padahal Anda menunjukkan sikap zuhud (meninggalkan keduniawian) terhadap dunia ini”.
Imam as menjawab bahwa Allah SWT mengetahui betapa beliau sangat tidak menyukai jabatan tersebut.
Beliau menjelaskan bahwa ketika dihadapkan pada pilihan antara menerima jabatan tersebut atau dibunuh, beliau terpaksa memilih untuk menerima demi menyambung hidup.
Beliau juga memberikan perbandingan dengan kisah Nabi Yusuf as, yang meskipun seorang Nabi dan Rasul, bersedia mengelola perbendaharaan penguasa Mesir saat keadaan mendesak dengan berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengalaman”.
Syarat dan Ketegasan Imam
Imam Ridha as menegaskan bahwa keterlibatannya dalam pemerintahan murni karena keadaan darurat dan paksaan, di mana beliau diancam akan dihukum mati jika menolak.
Beliau menyatakan, “Aku tidak masuk ke dalam urusan ini kecuali seperti orang yang masuk untuk segera keluar darinya,” dan hanya kepada Allah-lah beliau mengadu serta memohon pertolongan.
Sebelum menerima posisi tersebut, Imam mengajukan syarat yang sangat ketat kepada Al-Ma’mun, yaitu: beliau tidak akan mengangkat atau memberhentikan siapa pun, serta tidak akan mengubah tradisi atau sunnah yang sudah berlaku.
Al-Ma’mun pun menyetujui syarat tersebut. Suatu ketika, Al-Ma’mun meminta Imam untuk menulis surat kepada para pengikutnya di daerah-daerah yang sedang bergejolak untuk membantu menenangkan keadaan.
Imam menjawab dengan tegas bahwa jika Al-Ma’mun menepati janji (syarat awal), maka beliau pun akan menepatinya. Beliau menekankan bahwa jabatan tersebut sama sekali tidak menambah kenikmatan atau kemuliaan bagi dirinya.
Bagian 3: Kegagalan Rencana Al-Ma’mun Imam mengungkapkan bahwa bahkan saat beliau masih berada di Madinah, pengaruh dan surat-surat beliau sudah ditaati oleh orang-orang dari wilayah Timur hingga Barat. Dengan memegang teguh syarat-syarat awal, Imam Ridha as berhasil menggagalkan rencana Al-Ma’mun yang ingin memanfaatkan sosok Imam untuk melegitimasi dan memperkuat kekuasaan pemerintahannya.
Sama seperti para leluhurnya yang suci, Imam Ridha as menunjukkan bahwa mereka tidak pernah tergiur oleh harta duniawi dan tidak akan tunduk pada penguasa yang zalim, tidak peduli seberapa besar ancaman atau imbalan yang diberikan kepada mereka.

Baca Kisah Teladan Imam Ali Ridha a.s. di Safinah-Online.com dengan mengeklik tautan berikut:
Pesan Imam Ali ar-Ridha pada Jumโat Akhir Bulan Syaโban [http://bit.ly/PesanImamRidha]
4 Kisah Menarik Imam Ridha a.s. [http://bit.ly/KisahImamRidha]
Antara Ulama dan Raja, Penguasa dan Hamba Saleh [http://bit.ly/2Hxqjg5]
Selamat membaca!
Anda dapat mengikuti kami di:
Instagram: https://instagram.com/SafinahOnline
Facebook: https://Facebook.com/SafinahOnline
Telegram: https://Telegram.me/SafinahOnline
Twitter: https://Twitter.com/SafinahOnline
Vidio: https://vidio.com/@SafinahOnline
Youtube: http://bit.ly/SafinahTV


