Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
SAFINAH TV – Suatu ketika Imam Jafar Shadiq as. turut menyambut kepulangan rombongan haji. Salah seoorang sahabat Imam Jafar as. menyampaikan pengalaman melayani seorang pengikut Imam yang sibuk beribadah. Hingga sahabat Imam Jafar as. merasa orang tersebutkah sebagai hamba yang paling utama.
Bagaimanakah tanggapan Imam Jafar Shadiq as. terhadap pengikutnya yang sibuk beribadah?
Selamat menyaksikan!
Kisah Imam Jafar Shadiq as. tentang Hamba yang Sibuk Beribadah
Penyambutan Jamaah Haji
Sudah menjadi tradisi bagi Imam Jafar Shadiq as. untuk menyambut para jamaah haji yang kembali ke Madinah setelah mereka menyelesaikan manasik haji.
Penduduk Madinah bersiap menyambut kafilah-kafilah pertama, dan Imam Jafar Shadiq as. berada di barisan terdepan untuk menyalami, memeluk, dan mengucapkan selamat atas keselamatan kepulangan mereka, sembari mendoakan agar amal ibadah mereka diterima.
Pertemuan dengan Sahabat
Imam Shadiq as. kemudian melihat salah seorang sahabat setianya. Beliau mendekat dan memeluknya.
Pria itu berkata dengan penuh takzim, “Mengapa engkau menyusahkan diri (untuk menyambutku), wahai putra Rasulullah? Padahal kedudukanmu yang telah Allah muliakan jauh di atas kami semua.”
Ia menambahkan, “Aku sering mengingatmu (selama perjalanan).”.
Ia bercerita kepada Imam bahwa selama perjalanan, ia mendampingi seorang pengikut Imam yang ia anggap sangat luar biasa kezuhudannya.
Imam kemudian bertanya tentang apa yang dilakukan oleh hamba yang dikenal ahli ibadah tersebut.
Ibadah dan Beban bagi Orang Lain
Pria itu menjelaskan, “Wahai tuanku, ia benar-benar tenggelam dalam ibadah. Setiap kali kami berhenti di suatu tempat untuk beristirahat, ia selalu memisahkan diri untuk menyibukkan diri dengan shalat, doa, dan bermunajat dengan penuh ketundukan (tadharru’).”.
Mendengar hal itu, Imam as. bertanya, “Lalu siapa yang menyelesaikan urusan-urusan dan keperluannya?”.
Pria itu menjawab, “Kami, wahai tuanku. Kami semua yang melakukannya untuk dia. Kami yang menambatkan untanya, menyiapkan tempat tidurnya, mendirikan tendanya, dan ketika makanan sudah siap, kami yang menghidangkannya untuk dia.”.
Penjelasan Imam Shadiq as.
Imam as. kemudian memandang pria tersebut dan berkata dengan tegas, “Kalian semua jauh lebih utama (afdhal) daripada dia.”.
Imam menjelaskan alasannya: karena orang tersebut telah membebankan urusan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pribadinya kepada orang lain.
Beliau kemudian memberikan teladan agung: “Sesungguhnya Rasulullah saw., manusia yang paling ahli ibadah dan paling zuhud, jika sedang dalam perjalanan bersama para sahabatnya, beliau sendiri yang menambatkan untanya dan menyiapkan tempat tidurnya.”.
Bahkan, ketika para sahabat berebut ingin melakukan hal itu untuk beliau, Rasulullah saw. bersabda, “Aku lebih berhak atas urusan (keperluan) pribadiku.”.
Kesimpulan
Mendengar penjelasan tersebut, pria itu merasa sangat bangga dan bersyukur.
Dalam hatinya ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memperkenalkanku dengan keluarga Muhammad (Ahlul Bait).”.
Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Muhammad dan keluarganya.

Baca Kisah Teladan Rasulullah saw. di Safinah-Online.com dengan mengeklik tautan berikut:
Mengapa Imam Shadiq as Menolak Tawaran Khilafah? (1-2) [http://bit.ly/2KGshMm]
Mengapa Imam Shadiq as Menolak Tawaran Khilafah? (2-2)[http://bit.ly/2u1zsEo]
Doa-doa Kemudahan Rezeki dari Imam Jaโfar Shadiq as[http://bit.ly/2KYCDTL]
Selamat Membaca!
Anda dapat mengikuti kami di:
Instagram: https://instagram.com/SafinahOnline
Facebook: https://Facebook.com/SafinahOnline
Telegram: https://Telegram.me/SafinahOnline
Twitter: https://Twitter.com/SafinahOnline
Vidio: https://vidio.com/@SafinahOnline


