Inilah Penyebab Kenapa Hidupmu Gelisah Terus | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Konsep Dasar Psikologi Humanistik
Dalam psikologi humanistik, terdapat lima konsep kunci yang mendasari pemahaman tentang potensi positif yang dimiliki manusia:
- Free Will (Kebebasan Memilih):
Manusia memiliki kebebasan penuh untuk memilih tindakan, menentukan nasib, serta memutuskan apa yang harus atau tidak boleh dilakukan.
Berbeda dengan pandangan lain yang menganggap manusia seperti mesin yang disetir oleh alam bawah sadar atau dikendalikan oleh lingkungan sosial, pendekatan humanisme meyakini bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan individu sendiri.
Sebagai contoh, seseorang mungkin awalnya memeluk suatu agama karena mengikuti orang tua ketika akalnya belum lengkap.
Namun, setelah dewasa dan memiliki akal yang mandiri, ia tetap bertahan pada pilihan tersebut berdasarkan pertimbangan pribadi yang diputuskannya sendiri. - Self Image (Konsep Diri):
Konsep diri adalah cara atau sudut pandang seseorang dalam melihat dirinya sendiri.
Setiap orang memiliki gambaran ini, seperti menganggap dirinya sebagai pribadi yang pendiam, anak yang saleh, atau merasa lebih intelek dibandingkan teman-temannya yang lain.
Citra diri ini merupakan kesadaran dan kesan pribadi tentang siapa diri kita yang sebenarnya. - Self Evaluation / Self Esteem (Harga Diri):
Ini merupakan kelanjutan dari konsep diri, berupa penghargaan atau evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri.
Seseorang akan merasa tersinggung atau marah jika orang lain memperlakukan atau menilai mereka jauh di bawah penilaian yang mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri.
Oleh karena itu, penting untuk menakar diri secara pasโtidak terlalu tinggi hingga menjadi sombong dan mudah tersinggung, serta tidak terlalu rendah agar tidak diremehkan dan kehilangan kemampuan untuk menentukan pilihan (Free Will). - Self Actualization (Aktualisasi Diri):
Konsep ini menekankan pentingnya mewujudkan berbagai potensi luar biasa yang ada dalam diri manusia.
Karena manusia memiliki nilai yang mulia, maka aktivitas kemanusiaan yang paling tinggi adalah menampilkan dan mengaktualisasikan kemuliaan serta potensi tersebut dalam kehidupan nyata. - Frame of Reference (Empati):
Ini adalah prinsip emas dalam etika untuk menyikapi orang lain secara empatik, sebagaimana kita menyikapi diri sendiri. Aturan sederhananya adalah “jika tidak ingin dicubit, jangan menyubit orang lain”.
Karena manusia bersifat dinamis, kita tidak bisa hanya mengandalkan teori-teori kaku yang bisa kedaluwarsa.
Kita harus terus memperbarui pemahaman kita dengan cara berempati, yaitu memosisikan diri di posisi orang lain dan memahami mereka seperti kita memahami diri sendiri.
Siklus Perilaku dan Penyebab Kegelisahan Hidup
Perilaku manusia sehari-hari umumnya dimulai dari adanya orientasi atau tujuan yang ingin dicapai untuk memenuhi kebutuhan. Tindakan yang berhasil mengantarkan kita pada tujuan tersebut akan dirasakan sebagai tindakan yang bermakna, yang kemudian melahirkan kepuasan dan kelegaan.
Namun, dalam psikologi humanistik, kepuasan bukanlah titik akhir.
Kepuasan hanyalah titik awal untuk menetapkan target berikutnya.
Sebagai contoh, setelah berjuang mendapatkan ijazah kuliah, seseorang akan merasa puas, namun ijazah tersebut segera menjadi modal awal untuk mengejar target baru, seperti melamar pekerjaan atau mendaftar profesi tertentu.
Siklus perilaku manusia ini terus berputar dalam pola: Need (Kebutuhan) –> Drive (Dorongan/Motivasi) –> Goal (Tujuan), yang setelah tercapai akan melahirkan kebutuhan baru kembali dengan modal pencapaian sebelumnya.
Siklus ini menjelaskan mengapa manusia sering kali merasa gelisah atau sumpek kembali tak lama setelah berhasil mencapai suatu target besar (seperti setelah wisuda).
Pola ini sejalan dengan pemikiran Ki Ageng Suryomentaram tentang sifat keinginan manusia yang “Mulur dan Mungkret” (Mengembang dan Menyusut).
Ketika suatu target berhasil dicapai, keinginan kita akan mulur (bertambah atau meluas).
Sebaliknya, jika target tidak tercapai, keinginan tersebut akan mungkret (menyusut), meskipun penyusutan ini bukan berarti menyerah karena manusia akan segera memasang target baru yang memicu siklus mulur kembali.
Hidup manusia pada hakikatnya adalah terminal-terminal dari keinginan yang terpenuhi atau tidak terpenuhi.
Kegelisahan yang tiada habisnya terjadi apabila kita mengisi hidup ini dengan hal-hal yang tidak esensial atau tidak penting.
Ketika kita menumpuk pencapaian dalam hal yang menyimpang sejak awal, penyimpangan tersebut akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Fenomena ini digambarkan seperti upaya tiada akhir dalam menumpuk harta benda (al-hakumut takasur).
Orang yang kaya tidak akan merasa cukup; mereka akan terus mengejar jabatan politik, lalu menginginkan jabatan yang lebih tinggi lagi, dan kekayaan yang lebih banyak lagi.
Tanpa disadari, siklus kebutuhan, dorongan, dan tujuan (need-drive-goal) yang tidak esensial inilah yang menjadi sumber utama mengapa hidup terasa gelisah secara terus-menerus.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







