Ruh Manusia dan Wujud – Wujud Amal

Dalam menapaki kehidupan dunia ini, tentu sangat bermanfaat sekali jika kita tahu efek-efek setiap perbuatan, perkataan dan sikap kita dalam kaitannya dengan kebahagiaan atau kesengsaraan yg terjadi di masa-masa mendatang.

Sehingga kita bisa lebih bijak dan berhati-hati menjalani kehidupan.

Dengan mengetahui dampak dari setiap perbuatan kita, maka tentu kita akan lebih bersemangat dan optimis membangun masa depan kita, khususnya dlm meraih kebahagiaan hakiki.

Mungkin beberapa butir pemahaman ini akan dapat membantu:

1. Manusia itu pada dasarnya hidup kekal abadi

Ruh kita itu abadi. Tidak ada istilah hancur atau mati bagi ruh manusia.

Kekekalan ruh itu bukan berasal dari dzatnya akan tetapi karena dikekalkan oleh Allah.

Seperti juga kekalnya surga dan neraka. Tidak ada lagi kematian atau kehancuran di sana.

Maka, ketika seseorang meninggal, yg mati/hancur hanyalah jasmaninya.

Sedangkan ruh nya tetap hidup, dan melanjutkan hidupnya di alam yang baru, yaitu alam barzakh, sampai nanti ke yaumil akhir.

2. Ruh kita itu adalah Jati Diri Kita. Yaitu Diri kita yang sebenarnya

Yang melihat, yang mendengar, yang belajar, yang melakukan sesuatu.. semuanya adalah jati diri kita, yaitu ruh/ruhani kita.

Hanya saja dalam menjalankan aktivitas di dunia, ruh kita “menggunakan” sarana badan jasmani kita.

Ketika kita melihat, sebenarnya yg melihat adalah ruh kita, melalui perantara “mata”.

Begitu juga dgn semua perbuatan lainnya. Semua pancaindera, tangan dan kaki kita adalah “alat” yang dipakai oleh ruhani kita.

3. Kita hidup di dunia ini hanya sementara

Lalu setelah itu, kita melanjutkan hidup kita di alam barzakh, sampai terakhir sekali hidup kekal di alam akhirat.

Disitu kita hidup selamanya, tak pernah mati. Bukan ribuan tahun, bukan jutaan tahun, bukan trilyunan tahun… lebih lama dari itu. Selamanya. Tanpa akhir. Tak ada batas akhir. KEKAL ABADI.

4. Karena itu akal sehat kita akan menyuruh kita untuk fokus dan menciptakan kehidupan akhirat kita secara lbh baik. Jangan fokus pada kehidupan dunia yg singkat ini

Maka, agar semua kegiatan/aktivitas dunia kita bisa “bernilai akhirat” … kuncinya ada di NIAT (motivasi/tujuan/motif).

Ketika belajar, niatkan selain nambah ilmu bekal dunia, juga niatkan untuk mendapatkan ridho Allah, atau mendekatkan diri kepada Allah.

Ketika bekerja/berbisnis, niatkan selain untuk cari bekal kehidupan, juga niatkan misalnya untuk melaksanakan perintah Allah karena Allah memang menyuruh kita bekerja/berusaha.

Dengan cara begitu, maka semua urusan “dunia” kita menjadi bernilai akhirat juga.

5. Semua perbuatan dan perkataan kita, itu semua ada bentuk/wujudnya (realitas hakiki)

Semua aktivitas yg kita lakukan setiap hari, apapun itu… semua mewujud dalam bentuk-bentuk makhluk tertentu.

Perbuatan, niat dan perkataan kita … ia akan menjadi “wujud nyata” di alam bathin (barzakh/akhirat), dalam berbagai bentuk.

AlQuran surat AlHujurat ayat 12 menggambarkan, orang yang sedang gosip (ghibah), pada dasarnya wujud yang sedang dibentuk (create) adalah “ia sedang memakan bangkai orang yang ia ghibahi”.

Seandainya “mata batin” kita dibuka, bentuk wujud sedang makan bangkai itulah yang akan terlihat.

Prinsipnya saat ini, selama hidup di dunia ini … kita sedang “mencipta” (create) wujud-wujud akhirat kita.

Wujud itu bisa sangat menyenangkan, bisa juga sangat menakutkan. Tergantung bentuk wujud yg kita ciptakan.

Tentu saat ini kita tdk bisa melihat wujud-wujud tsb. Tapi ia bisa kita lihat ketika kita berada di alam barzakh/akhirat.

Al-Quran surat Az-Zalzalah ayat 7-8 telah memberitakan tentang pembentukan wujud amal ini:

“fa may ya’mal miṡqāla żarratin khairay yarah. wa may ya’mal miṡqāla żarratin syarray yarah”

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat atom sekalipun, niscaya dia akan melihat nya.

Dan yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah/atom sekalipun pun, niscaya dia akan melihat nya pula.

Ketika manusia meninggal, semua “wujud yg ia ciptakan” itu lah yang akan menemaninya. Kita akan hidup bersamanya. Selamanya.

Wujud itu juga kekal abadi, menjadi bagian dari atribut kita. Menjadi teman/musuh kita.

Allah SWT berfirman, “Dan mereka dapati apa yang mereka lakukan hadir di depan mereka.” (QS. Al-Kahf; 48)

Dalam ayat yang lain, “Pada hari setiap orang mendapatkan kebaikan yang dilakukannya dihadirkan di hadapannya dan juga keburukan yang dilakukannya …..” (QS. Ali Imran; 30)

Dalam salah satu hadits diriwayatkan, salah satu ibadah yang kita lakukan ada yg berwujud “pemuda yang sangat tampan” dan menjadi pelindung serta jadi teman setia kita, mendampingi kita ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam perjalanan di barzakh/akhirat.

Begitu juga puasa, shalat, baca quran, sedeqah, shalawat, dsb … semua berwujud sesuatu yang membahagiakan kita.

Sedangkan dosa & maksiat, seperti ghibah, mengambil hak orang lain, meremehkan shalat, perkataan caci maki, dsb…. bentuk wujudnya antara lain berupa api yang membakar, perkakas yg menyiksa, binatang-binatang yang menyeramkan, yang mengganggu dan menyerang kita di alam barzakh/akhirat. Atau berupa bentuk-bentuk lain yang bahkan kita tidak bisa membayangkan sama sekali.

Itulah sebabnya… kita harus berhati-hati menjalani semua aktivitas di dunia ini.

Tetaplah berjuang agar hanya perbuatan baik yg kita lakukan, sehingga wujud-wujud yang kita ciptakan betul-betul membahagiakan kita secara abadi.

6. Bagaimana dgn perbuatan dosa dan kesalahan yg selama ini sdh telanjur kita lakukan? Bagaimana menghapus (delete/remove) wujud-wujud buruk yg sdh telanjur kita ciptakan?

Caranya adalah bertaubat dan istighfar pada Allah. Berdoa memohon ampunan Allah SWT.

Sehingga semua wujud “buruk” yg kita ciptakan (akibat dosa/kesalahan) di masa lalu, dihapus oleh Allah SWT saat kita masih di dunia ini. Agar di barzakh dan akhirat, semuanya tidak ada lagi.

Sesungguhnya Allah SWT maha pengampun. Selama masih ada di dunia ini, kesempatan itu selalu terbuka.

Allah selalu membuka pintu ampunan nya, sebesar apapun dosa kita.

Lalu berjanjilah pada Allah SWT untuk berubah. Untuk lebih taat pada perintah dan laranganNya. Untuk lebih rajin mengenal Allah SWT dan Rasulullah saw serta mempelajari ajaran agama.

***

Pada Allah SWT kita memohon taufik agar menjadikan kita semua sebagai hamba yang shaleh.

Sehingga hidup kita beruntung di dunia dan juga beruntung di akhirat. Kekal abadi dalam keberuntungan sejati.

Allah swt berfirman: “Qad aflahal mukminun”. Artinya sungguh beruntung orang-orang yang beriman.