Miliki Kualifikasi Ini, Jiwa Kalian Jiwa Sufi | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hakikat Tasawuf
Tasawuf dan karakter jiwa seorang Sufi pada dasarnya berakar dari ajaran-ajaran dalam kumpulan risalah Imam Junaid, yaitu Risalah Al-Junaidiyah.
Tarekat Junaidiyah sendiri merupakan salah satu tarekat mu’tabarah yang berkembang di beberapa daerah di Indonesia.
Menurut Imam Junaid, hakikat tasawuf adalah kondisi di mana Allah menjauhkan atau mematikan dirimu dari dirimu sendiri, serta menghidupkanmu di dalam-Nya.
Secara sederhana, kehidupan seorang Sufi dijalankan dengan menepikan ego pribadi demi menghidupkan orientasi sepenuhnya kepada Allah.
Jika diibaratkan, di dalam diri manusia terdapat dua tombol: tombol duniawi yang menyanyikan lagu-lagu dunia, dan tombol Ilahi yang menyanyikan lagu ketuhanan.
Seorang Sufi akan memilih untuk menekan tombol ketuhanan tersebut, sehingga seluruh hidupnya berjalan seturut dengan nilai-nilai Ilahi.
Mengilahi di Tengah Kehidupan Duniawi
Hidup dengan orientasi Ilahi bukan berarti kita tidak boleh menggunakan atau menikmati hal-hal yang bersifat duniawi.
Manusia tetap hidup di dunia menggunakan media, perangkat, dan modal duniawi, namun arah, tujuan, serta target akhirnya harus diorientasikan kepada Allah (mengilahi atau merohani).
Sebagai contoh, aktivitas belajar atau mengaji tentu membutuhkan pakaian, kendaraan, laptop, dan kopi, yang semuanya merupakan hal duniawi.
Namun, jika segelas kopi digunakan sebagai media agar kuat terjaga untuk membaca Al-Qur’an (bukan sekadar begadang menonton sepak bola), maka kopi tersebut telah diajak untuk “merohani” dan “mengilahi”.
Begitu pula dengan sepeda motor; jika digunakan untuk pergi ke masjid demi salat berjamaah daripada sekadar berjalan-jalan ke mal, maka kendaraan tersebut telah dibawa ke arah spiritual.
Jiwa seorang Sufi senantiasa membawa seluruh aspek kehidupannya untuk hidup di dalam Allah.
Menjalankan Tasawuf dengan Praktik Nyata
Menempa jiwa dalam tasawuf tidak bisa dilakukan hanya dengan banyak bicara atau sekadar berwacana (qila wa qola).
Banyak orang senang belajar tasawuf dan bermimpi menjadi Sufi agar memiliki karomah, kemampuan menaklukkan orang, atau menyembuhkan penyakit, namun semua itu sering kali hanya berakhir sebagai obrolan tanpa ada perubahan nyata dalam perilaku keseharian.
Imam Junaid sangat menekankan pentingnya praktik nyata dibandingkan teori atau filosofi yang rumit.
Tasawuf dijalankan dengan “lapar” (puasa), meninggalkan kesenangan serta kelezatan dunia, dan melepaskan hal-hal yang sekadar indah dan menyenangkan.
Hal ini karena dasar dari tasawuf adalah kemurnian hubungan dengan Allah yang dibangun dengan menghindari kesenangan duniawi.
Karakter Jiwa Sufi: Seperti Bumi, Mendung, dan Hujan
Jika seseorang berhasil memurnikan hubungannya dengan Allah, maka akan lahir karakter rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Jiwa Sufi diibaratkan melalui tiga simbol alam:
- Bumi:
Bumi adalah tempat pembuangan sampah sejati di mana segala kotoran dicampakkan kepadanya, namun bumi tetap membalasnya dengan menumbuhkan tanaman-tanaman yang baik untuk menjadi sumber makanan bagi manusia.
Begitu pula seorang Sufi; ketika dicaci maki atau diperlakukan buruk, ia akan selalu membalasnya dengan kebaikan.
Selain itu, bumi tetap stabil dan memperlakukan sama siapa saja yang menginjaknya, baik orang saleh maupun orang munafik. - Mendung:
Mendung senantiasa menaungi dan memayungi siapa saja yang ada di bawahnya tanpa membeda-bedakan. - Air Hujan:
Hujan turun untuk mengairi segala sesuatu tanpa memilih apakah penerimanya orang beriman atau orang kafir.
Dengan demikian, jiwa seorang Sufi bersifat stabil, tidak pilih-pilih dalam berbuat baik, serta menjadi rahmat bagi siapapun.
Menghindari Atribut Lahiriah
Kualifikasi penting lainnya dari seorang Sufi adalah tidak menyibukkan diri dengan penampilan luar.
Imam Junaid memperingatkan bahwa jika seorang Sufi sangat peduli dan sibuk dengan penampilan lahiriah atau atribut-atribut duniawi, maka wujud batinnya sebenarnya telah rusak.
Seseorang tentu diperbolehkan memakai pakaian yang bagus, pantas, dan sopan, tetapi fokus utamanya tidak boleh tersita oleh hal-hal tersebut.
Secara keseluruhan, jiwa seorang Sufi ditandai oleh kesediaan untuk selalu menaungi, membantu, memberikan kebaikan kepada siapa saja tanpa pandang bulu, serta tidak disibukkan oleh hal-hal lahiriah dan atribut duniawi.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







