Kalahkan 13 Musuh Tak Terlihat | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
1. Menaklukkan 13 Musuh Tak Terlihat dan Jihad Terbesar
Imam Al-Ghazaliโyang berasal dari daerah Persia yang secara fisik digambarkan berperawakan tinggi, besar, gagah, dan brewokanโmenyatakan bahwa kunci untuk menguasai amarah dan nafsu adalah dengan mendeklarasikan perang (jihad) terhadap 13 musuh yang tidak terlihat di dalam diri kita.
Tiga belas musuh tak terlihat tersebut meliputi:
- Egoisme dan Arogansi
- Sifat sombong, angkuh, dan egois (selfishness)
- Merasa benar sendiri, merasa paling bagus, dan merasa menang sendiri
- Ketamakan (greed) dan kemalasan
- Intoleransi dan amarah
- Kebohongan serta kebiasaan bergosip/memfitnah (gosipping/slander)
Jika kita berhasil menaklukkan dan menghancurkan 13 musuh tidak terlihat ini, maka kita akan siap dan mudah untuk mengalahkan semua musuh yang terlihat di luar sana.
Perjuangan ini disebut sebagai jihad yang sesungguhnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, jihad melawan diri sendiri (hawa nafsu) jauh lebih berat dan lebih besar nilainya daripada Perang Badar, yang pada saat itu ratusan orang harus berjuang melawan sekitar sepuluh ribu musuh.
Keberhasilan menaklukkan diri sendiri adalah kunci kebahagiaan sejati.
2. Puncak Kebahagiaan: Makrifatullah dan Jatuh Cinta kepada Allah
Puncak dari kebahagiaan sejati dicapai ketika seseorang telah mencapai makrifatullah (mengenal Allah).
Pada tingkat ini, kebahagiaan sejati dirasakan saat seseorang merasa dekat dan mencintai Allah.
Namun, sering kali pikiran manusia masih terjebak pada hal-hal materi dan fisik. Manusia kerap mengartikan keindahan hanya pada standar fisik yang sempit.
Imam Al-Ghazali mengajak kita merenungkan lima alasan mengapa Allah harus menjadi puncak cinta kita:
- Allah adalah penyempurna diri kita.
Kita secara alami menyukai hal-hal yang membuat diri kita merasa lebih sempurna (seperti minyak wangi atau pakaian bagus).
Padahal, pada hakikatnya, Allah-lah yang merealisasikan dan menciptakan segala hal yang membuat kita menjadi sempurna. - Allah adalah pemberi kebaikan yang utama.
Kita sangat mudah menyukai orang lain, teman, atau tetangga yang sering berbuat baik dan memberikan perhatian kepada kita.
Jika kita bisa menyukai kebaikan manusia, seharusnya kita jauh lebih mencintai Allah yang kebaikan-Nya sangat luar biasa dan memberikan semua fasilitas kehidupan di bumi ini. - Kebaikan Allah tidak memiliki batas.
Kita sering mengagumi orang-orang dermawan yang suka menolong sesama. Allah adalah puncak dari segala kedermawanan.
Dia tetap melimpahkan kebaikan-Nya bahkan kepada orang-orang yang terang-terangan melawan-Nya, mencaci-maki-Nya, atau kaum ateis yang menganggap-Nya tidak ada. - Allah Maha Indah.
Manusia secara naluriah menyukai keindahan dan kecantikan, sedangkan Allah adalah pemilik segala keindahan (Maha Indah).
Hanya saja, keterbatasan pikiran manusia yang selalu menuntut wujud fisik membuat kita sulit jatuh cinta kepada Allah.
Hal ini menyebabkan hubungan kita dengan Allah sering kali hanya sebatas formalitas, atau bahkan bergeser layaknya hubungan juragan dan buruh, di mana manusia justru berani memerintah dan memaksa Allah untuk menuruti keinginannya. - Adanya kesesuaian sifat.
Kita cenderung menyukai orang yang memiliki kecocokan sifat dengan kita.
Jika kita jeli, sifat-sifat Allah sangat sesuai dengan kebutuhan hidup kita; ketika kita butuh keadilan, Allah Maha Adil; ketika kita butuh keakraban,
Allah Maha Dekat dan Maha Akrab. Oleh karena itu, para sufi mengajarkan konsep takhallaqu bi akhlaqillah (tirulah karakter-karakter Allah) karena sifat-sifat tersebut sepadan untuk kita teladani meskipun berbeda level.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa jika kita jatuh cinta pada selain Allah (seperti harta atau lawan jenis), sebenarnya kita sedang tertipu di level bawah.
Segala kebutuhan kita sudah dipenuhi oleh Allah sejak kita masih berada di dalam perut ibu, dan kenikmatan dari Allah jauh lebih besar serta luas, baik lewat jalur makanan, ilmu, persahabatan, maupun kekeluargaan.
3. Kebahagiaan Kaum Awam vs Kaum Khawas: Surga dan Ridha Allah
Merujuk pada kitab Kimiya-yi Sa’adat (Kimia Kebahagiaan), Imam Al-Ghazali menjelaskan perbedaan tingkat kebahagiaan:
- Kebahagiaan tertinggi bagi kaum awam adalah Surga.
- Kebahagiaan tertinggi bagi kaum khawas (khusus) adalah Ridha Allah.
Surga sebenarnya hanyalah pancingan (iming-iming) agar manusia berjalan menuju keridaan Allah.
Hal ini diibaratkan seperti seorang ibu yang memancing anaknya yang sedang belajar berjalan dengan menggunakan pisang atau mainan kesukaannya.
Tujuan utama sang ibu bukanlah sekadar memberikan pisang tersebut, melainkan agar sang anak bisa berdiri dan belajar berjalan.
Begitu pula dengan Surga; ketika seseorang telah berjalan sesuai dengan kehendak Allah, maka urusan fisik seperti surga menjadi tidak penting lagi karena fokusnya sudah beralih pada Ridha Allah.
Bagi masyarakat terdahulu yang sulit berpikir abstrak, Allah menawarkan konsep Surga (Jannah) dengan ilustrasi fisik yang mudah dijangkau oleh pikiran mereka pada zaman itu, seperti kolam susu, kolam madu, dan bidadari.
Namun, puncak sesungguhnya adalah keridaan Allah.
Bahayanya jika seseorang hanya berhenti dan terpaku pada target Surga, ibadahnya akan berubah menjadi sangat matematis atau transaksional (seperti berdagang dengan Allah).
Mereka akan selalu menghitung untung-rugi dari setiap ibadah yang dilakukan (misalnya, menghitung salat Dhuha harus menghasilkan kelancaran rezeki, atau sedekah 1.000 rupiah harus diganti 70.000 rupiah).
Ketika hitungan matematis itu tidak terjadi secara instan, mereka rentan merasa kecewa dan menganggap janji Allah bohong.
Meskipun demikian, Imam Al-Ghazali memaklumi jalur transaksional ini karena merupakan bagian dari proses awal perjalanan menuju keridaan-Nya.
Namun, esensi sejati dari perjalanan spiritual manusia adalah kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali seutuhnya kepada Allah (Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, bukan wa ila al-jannah / kembali ke surga).

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







