17 October 2026

1. Pendahuluan dan Keutamaan Surah Al-Ashr

  • Status dan Jumlah Ayat:
    Surah Al-Ashr terdiri dari tiga ayat yang pendek. Menurut mayoritas mufasir, surah ini tergolong Makkiyah (turun di kota Mekah), meskipun ada pendapat yang menyatakan Madaniyah.
  • Kandungan Komprehensif:
    Meskipun singkat, surah ini memuat ringkasan dari seluruh konsep dan tujuan diturunkannya Al-Qur’an (mafahimul Qur’an).
    Di dalamnya terkandung konsep sempurna mengenai empat dasar akidah dan amal yang menjadi kunci kebahagiaan manusia.
  • Keutamaan Membaca:
    Diriwayatkan dari Imam Ja’far as-Sadiq bahwa barang siapa yang membaca Surah Al-Ashr dalam shalat-shalat sunnahnya, Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dengan wajah yang bersinar, tersenyum gembira, dan mata yang berbinar-binar hingga ia masuk ke dalam surga.

2. Tafsir Ayat 1: Sumpah Demi Waktu/Masa (Wal-‘Ashr)

  • Hikmah Sumpah dengan Waktu:
    Allah sering bersumpah menggunakan nama-nama waktu (seperti waktu subuh, dhuha, malam, dan fajar) karena waktu merupakan modal utama manusia selama hidup di dunia.
    Kehidupan manusia sangat terikat oleh durasi dan batas usia yang cepat atau lambat akan berakhir.
  • Berbagai Makna Al-Ashr:
    1. Waktu ashar atau waktu pelaksanaan shalat ashar.
    2. Waktu atau zaman tertentu, seperti zaman diutusnya Nabi Muhammad SAW atau zaman kemunculan Imam Mahdi.
    3. Pendapat Utama (Mayoritas Mufasir): Waktu atau masa secara umum.
  • Hakikat Berjalannya Waktu:
    Waktu kehidupan manusia tidak pernah berhenti. Siang dan malam ibarat kendaraan yang terus membawa manusia menuju kematian, baik dalam keadaan diam maupun bergerak.
    Seiring berjalannya waktu, detak jantung akan berhenti dan seluruh fungsi tubuh (penglihatan, pendengaran, dan kekuatan fisik) perlahan-lahan akan melemah.

3. Tafsir Ayat 2: Hakikat Kerugian Manusia (Innal Insaana Lafii Khusrin)

  • Makna Kerugian (Khusrin):
    Dalam bahasa Arab, seseorang dikatakan mengalami kerugian dalam perniagaan apabila ia tidak mendapatkan keuntungan, bahkan modal utamanya ikut lenyap.
  • Kerugian Duniawi vs. Kerugian Hakiki Akhirat (Al-Khusrul Mubin):
    • Kerugian harta, kesehatan, atau jabatan di dunia bersifat sementara.
    • Kerugian yang nyata dan hakiki terjadi di akhirat, yaitu ketika seseorang menyia-nyiakan modal usianya di dunia sehingga kehilangan kesempatan meraih kebahagiaan abadi dan mendapatkan murka Allah.
  • Perumpamaan Penjual Es Batu:
    Dikutip dari Mufasir Fakhruddin Ar-Razi mengenai nasihat seorang saleh yang memahami makna kerugian dari penjual es.
    Usia manusia ibarat es batu yang terus mencair di bawah terik matahari. Jika modal waktu tersebut tidak segera dimanfaatkan atau “dijual” kepada Allah, modal itu akan habis sia-sia.
  • Dunia sebagai Pasar (Dunia Suqun):
    Diriwayatkan dari Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi bahwa dunia ibarat sebuah pasar besar. Di akhir perjalanan pasar tersebut, ada kelompok yang memperoleh keuntungan besar dan ada kelompok yang mengalami kerugian.

4. Perniagaan Jiwa dan Harta dengan Allah

  • Tawaran Pembelian dari Allah:
    Dalam Surah At-Taubah ayat 111, Allah menawarkan untuk membeli jiwa dan harta orang-orang beriman dengan imbalan surga yang abadi.
  • Mahalnya Nilai Jiwa Manusia:
    Ditegaskan oleh Imam Ali bin Abi Thalib bahwa jiwa manusia memiliki harga yang sangat mahal dan tidak ada tandingannya kecuali surga.
    Oleh karena itu, sungguh bernilai rendah jika seseorang menjual jiwanya demi harta yang sedikit, jabatan singkat lima tahunan, atau popularitas sementara di dunia dengan cara berdusta atau merampas hak orang lain.
  • Kisah Orang Badui:
    Ketika mendengar ayat tentang Allah membeli jiwa dan harta dengan surga, seorang Arab Badui bertanya memastikan kebenarannya.
    Setelah mendapat kepastian dari Rasulullah, ia langsung menjual seluruh jiwa dan hartanya tanpa ragu hingga akhirnya gugur sebagai syahid dalam peperangan.
  • Pelipatgandaan Amal Kebaikan:
    Allah membalas setiap kebaikan manusia secara berlipat ganda, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji (700 kali lipat atau lebih).

5. Tafsir Ayat 3: Empat Unsur Penyelamat dari Kerugian

Seluruh manusia berada dalam kerugian di pasar dunia, kecuali mereka yang memiliki dan berkomitmen pada empat unsur utama:

  1. Keimanan (Ilal-ladzina Aamanu):
    Memiliki ikatan keyakinan yang benar kepada Allah.
  2. Amal Saleh (Wa ‘Amilush-Shalihat):
    Keimanan harus dibuktikan melalui perbuatan baik. Di dalam Al-Qur’an, iman dan amal saleh selalu berdampingan.
    Orang yang beriman dan beramal saleh dijanjikan kehidupan yang tenteram dan indah (Hayatan Thayyibah) di dunia.
    Sebaliknya, orang yang telah meninggal dunia sangat berharap dikembalikan ke dunia hanya untuk berbuat amal saleh.
  3. Komitmen pada Kebenaran (Wa Tawaashau bil-Haq):
    Saling berpesan dan berpegang teguh pada kebenaran, serta siap membela kebenaran meskipun harus mengorbankan kepentingan atau harta pribadi (seperti contoh menegakkan kebenaran dalam pembagian harta warisan).
  4. Keteguhan dalam Kesabaran (Wa Tawaashau bish-Shabr):
    Kesabaran diperlukan agar seseorang tetap konsisten (istiqamah) berada di jalan iman, amal saleh, dan kebenaran dalam berbagai situasi dan ujian hidup (seperti saat mengalami kesempitan ekonomi).

6. Pelajaran Tambahan dan Riwayat Pendukung

  • Puisi Renungan tentang Zaman (Imam Ali Ar-Ridha):
    Manusia sering kali mencela waktu dan zaman atas keburukan yang terjadi, padahal cela tersebut ada pada diri manusia itu sendiri. Waktu hanya berjalan; manusialah yang menentukan apakah waktunya diisi dengan kebaikan atau keburukan. Bahkan, serigala yang ganas tidak pernah memangsa sesama serigala, sedangkan manusia yang tidak menjaga dirinya bisa saling menyakiti sesamanya.
  • Tiga Jenis Kesabaran (Nasihat Rasulullah SAW):
    1. Sabar saat tertimpa musibah.
    2. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan perintah Allah.
    3. Sabar dalam menahan diri dari kemaksiatan.
  • Lima Ciri Hamba Allah yang Baik (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad Al-Baqir dari Rasulullah SAW):
    1. Merasa bahagia di dalam hatinya setelah melakukan kebaikan.
    2. Merasa menyesal, tidak nyaman, dan segera memohon ampunan jika tergelincir melakukan keburukan/dosa.
    3. Pandai bersyukur atas segala nikmat yang diterima.
    4. Bersabar saat menghadapi ujian dan kesulitan.
    5. Mampu mengendalikan diri dan emosinya saat sedang marah.

AB 4 Pilar Keselamatan Surah Al Ashr

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us