SEBELUM SEGALA AWAL, SESUDAH SEGALA AKHIR
Bagian 10 dari 100
Teks Doa Kumail
«يَا أَوَّلَ الْأَوَّلِينَ وَيَا آخِرَ الْآخِرِينَ
Yā Awwala al-awwalīn, wa yā Ākhira al-ākhirīn.
“Wahai Yang Awal dari segala yang awal, dan Yang Akhir dari segala yang akhir.”»
Tema utama
Allah bukan makhluk pertama dalam urutan waktu dan bukan makhluk terakhir yang tersisa. Dia adalah Pencipta waktu, sumber seluruh permulaan, dan tujuan segala perjalanan.
Segala sesuatu selain Allah mempunyai awal karena menerima keberadaan. Ia juga mempunyai akhir karena keberadaannya tidak mandiri. Allah tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak ditunggu oleh kebinasaan.
Karena itu, “Yang Awal” dan “Yang Akhir” ketika dinisbatkan kepada Allah tidak menunjukkan posisi-Nya dalam garis waktu. Waktu sendiri adalah ciptaan-Nya.
Ayat Al-Qur’an
1. QS Al-Hadid 57:3
«هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”»
Allah adalah Yang Awal tanpa didahului dan Yang Akhir tanpa diakhiri. Segala sesuatu berasal dari kehendak-Nya dan seluruhnya tetap berada di bawah pengetahuan serta kekuasaan-Nya. “QS Al-Hadid 57:3”.
2. QS An-Najm 53:42
«وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ
“Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah segala kesudahan.”»
Tujuan akhir manusia bukan kematian, kubur, atau sekadar berakhirnya kehidupan dunia. Kesudahan sejati adalah kepulangan kepada Allah dan berdiri di hadapan keputusan-Nya. “QS An-Najm 53:42”.
3. QS Al-Qashash 28:70
«لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Milik-Nya segala pujian di dunia dan di akhirat; milik-Nya segala keputusan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.”»
Allah tidak hanya berada pada awal penciptaan, kemudian membiarkan ciptaan berjalan sendiri. Dia adalah Tuhan pada permulaan, sepanjang perjalanan, dan pada kepulangan. “QS Al-Qashash 28:70”.
Riwayat Ahlul Bait
Diriwayatkan bahwa Imam Muhammad al-Baqir as bersabda:
«كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا شَيْءَ غَيْرُهُ
“Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung telah ada ketika belum ada sesuatu pun selain-Nya.”»
Riwayat tersebut melanjutkan bahwa pengetahuan Allah terhadap sesuatu sebelum keberadaannya sama dengan pengetahuan-Nya setelah sesuatu itu ada. Penciptaan tidak menambahkan pengetahuan baru kepada Allah. “Al-Kāfi, Kitab at-Tawḥīd, bab Sifat Zat, hadis 2”.
Catatan verifikasi:
Dalam rujukan tersebut, Allamah al-Majlisi dan Syekh Baqir al-Behbudi sama-sama menilai riwayat ini ṣaḥīḥ. Meskipun demikian, penilaian derajat hadis tetap merupakan hasil kajian ulama tertentu, bukan memiliki kedudukan mutlak seperti teks Al-Qur’an.
Terjemahan Indonesia di atas merupakan terjemahan maknawi.
Kerangka pembahasan
1. Seluruh makhluk memiliki awal karena menerima keberadaan dari Allah.
2. Allah bukan “yang pertama” dalam urutan benda-benda, melainkan Pencipta urutan dan waktu.
3. Allah tidak berubah dari belum menjadi Tuhan lalu menjadi Tuhan setelah menciptakan makhluk.
4. Segala sesuatu yang kita andalkan di dunia mempunyai batas dan akhir.
5. Allah adalah tujuan terakhir sehingga kehidupan manusia tidak boleh kehilangan arah.
6. Kematian bukan keluarnya manusia dari kekuasaan Allah, tetapi perpindahan menuju pengadilan dan rahmat-Nya.
Pembuka syarah
Kita memahami kehidupan melalui permulaan dan akhir.
Ada hari kelahiran dan hari kematian. Ada pertemuan dan perpisahan. Ada saat sebuah rumah dibangun dan saat ia ditinggalkan. Ada kerajaan yang didirikan dengan kemegahan, kemudian hanya menyisakan puing-puing yang dikunjungi wisatawan.
Bahkan gunung, bintang, peradaban, dan seluruh yang tampak kokoh sedang berjalan menuju akhirnya masing-masing.
Karena hidup di dalam waktu, manusia mudah membayangkan Allah dengan ukuran yang sama. Seolah-olah Allah adalah sesuatu yang berada sangat jauh di belakang seluruh permulaan atau menunggu di ujung terakhir sejarah.
Doa Kumail membebaskan kita dari bayangan tersebut:
«“Wahai Yang Awal dari segala yang awal, dan Yang Akhir dari segala yang akhir.”»
Allah bukan penghuni tertua di dalam waktu. Waktu tidak mengandung-Nya; waktu justru diciptakan-Nya.
Tidak pernah ada suatu masa ketika Allah belum ada, kemudian menjadi ada. Tidak ada pula masa depan yang akan membuat-Nya berakhir. Kata “sebelum” dan “sesudah” hanya berlaku bagi makhluk yang hidup di dalam rangkaian waktu, sedangkan Allah adalah Pencipta seluruh rangkaian tersebut.
Setiap permulaan memperoleh keberadaannya dari Allah. Setiap akhir berhenti pada keputusan-Nya. Kita lahir karena Dia menghendaki, hidup karena Dia memelihara, dan kembali karena tidak ada tujuan terakhir selain Dia.
Kesadaran ini mengubah cara manusia mencintai dunia.
Kita masih dapat mencintai keluarga, pekerjaan, rumah, persahabatan, dan seluruh karunia Allah. Namun kita tidak lagi meminta sesuatu yang sementara agar menjadi kekal. Kita tidak menuntut makhluk memberikan jaminan yang hanya dapat diberikan oleh Sang Pencipta.
Sebagian penderitaan manusia lahir karena ia meminta keabadian dari sesuatu yang memang diciptakan untuk berakhir. Ia ingin usia tidak menua, tubuh tidak melemah, kekuasaan tidak berpindah, orang-orang tercinta tidak pergi, dan namanya tidak dilupakan.
Padahal dunia tidak pernah berjanji untuk menetap.
Segala sesuatu yang kita genggam suatu hari akan kita lepaskan—atau lebih dahulu melepaskan kita. Harta berpindah tangan. Jabatan diwariskan kepada orang lain. Rumah dihuni generasi berikutnya. Nama yang dahulu memenuhi pembicaraan perlahan menghilang dari ingatan.
Namun kepulangan kepada Allah bukanlah kehilangan terakhir.
Ia adalah tersingkapnya kenyataan bahwa sejak permulaan, kita tidak pernah memiliki sumber dan tujuan selain Dia.
Sebelum nama kita dikenal manusia, Allah telah mengetahui kita. Setelah nama kita tidak lagi disebut manusia, kita tetap berada di hadapan-Nya. Sebelum tangan kita mampu menggenggam sesuatu, Allah telah memelihara kita. Ketika tangan itu kelak tidak mampu mempertahankan apa pun, Allah tetap menjadi tempat kita kembali.
Maka seorang hamba yang mengenal Allah sebagai Yang Awal dan Yang Akhir tidak akan membiarkan hidupnya berputar tanpa tujuan.
Ia bertanya dari mana nikmatnya berasal, untuk apa kekuatannya diberikan, dan kepada siapa seluruh amalnya akan dipertanggungjawabkan.
Allah adalah awal yang tidak didahului dan akhir yang tidak diakhiri.
Dari-Nya seluruh perjalanan bermula.
Kepada-Nya seluruh perjalanan berakhir.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DbHBRduxx/

