Teks Doa Kumail
> ظَلَمْتُ نَفْسِي
Ẓalamtu nafsī.
“Aku telah menzalimi diriku sendiri.”
Dalam redaksi masyhur, pengakuan ini kemudian dilanjutkan dengan kalimat, “dan aku telah lancang karena kebodohanku.” Namun penggalan “aku telah menzalimi diriku” berdiri sebagai pengakuan tersendiri yang sangat mendasar.
Tema utama
Kemaksiatan tidak mengurangi kerajaan Allah dan tidak melukai kesempurnaan-Nya. Dosa kembali kepada pelakunya: menggelapkan hati, memperbudak kehendak, merusak hubungan, dan menjauhkan jiwa dari tujuan penciptaannya.
Mengakui “aku menzalimi diriku” berarti berhenti menempatkan diri hanya sebagai korban keadaan. Manusia mungkin benar-benar pernah dilukai oleh lingkungan atau orang lain.
Namun pada wilayah yang masih berada dalam pilihannya, ia harus berani mengakui tanggung jawabnya.
Pengakuan ini bukan kebencian kepada diri sendiri. Ia adalah kasih sayang yang jujur terhadap jiwa: kita mengakui bahwa diri ini telah disakiti oleh pilihan-pilihan kita agar ia dapat diselamatkan.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Baqarah 2:57
> وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
Kedurhakaan manusia tidak mengurangi keagungan Allah. Manusialah yang kehilangan cahaya, ketenangan, dan arah hidup akibat pilihannya. QS Al-Baqarah 2:57
- QS Al-A‘raf 7:23
> قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata: Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Nabi Adam as dan Sayyidah Hawa tidak membangun pembelaan dengan menyalahkan satu sama lain. Mereka mengakui kesalahan, lalu menggantungkan keselamatan kepada pengampunan dan rahmat Allah. QS Al-A‘raf 7:23
- QS Yunus 10:44
> إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusialah yang menzalimi dirinya sendiri.”
Ayat ini menjaga keseimbangan antara keadilan Allah dan tanggung jawab manusia. Tidak semua penderitaan merupakan hukuman atas dosa, tetapi setiap dosa tetap membawa kerusakan bagi jiwa pelakunya. QS Yunus 10:44
Riwayat Ahlul Bait
Dalam sebuah doa yang diriwayatkan dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as disebutkan:
> اَللّٰهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي عَلَىٰ ظُلْمِي لِنَفْسِي وَإِسْرَافِي عَلَيْهَا لَمْ أَتَّخِذْ لَكَ ضِدًّا وَلَا نِدًّا
“Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa meskipun aku telah menzalimi dan melampaui batas terhadap diriku, aku tidak pernah mengangkat tandingan atau sekutu bagi-Mu.”
Doa tersebut kemudian menggambarkan ironi manusia:
> وَخَلَقْتَنِي لِلَّذِي خَلَقْتَنِي لَهُ، فَصَنَعْتُ غَيْرَ الَّذِي خَلَقْتَنِي لَهُ
“Engkau menciptakanku untuk tujuan yang karenanya aku diciptakan, tetapi aku justru melakukan sesuatu yang berbeda dari tujuan penciptaanku.”
Al-Kāfī, jilid 2, Kitab Doa, bab doa-doa ringkas untuk dunia dan akhirat, hadis 33
Kerangka pembahasan
- Allah tidak dirugikan oleh kemaksiatan makhluk.
- Dosa pertama-tama merusak jiwa orang yang melakukannya.
- Mengakui tanggung jawab berbeda dari membenci diri sendiri.
- Menyalahkan keadaan terus-menerus dapat menghalangi taubat.
- Kezaliman terhadap diri juga dapat melahirkan kezaliman kepada orang lain.
- Taubat merupakan usaha menyelamatkan jiwa dari kerusakan yang dibuatnya.
- Rahmat Allah memungkinkan diri yang terluka kembali kepada tujuan penciptaannya.
Pembuka syarah
Dosa sering dibayangkan seolah-olah manusia sedang melukai Allah.
Seakan-akan kemaksiatan kita mengurangi kebesaran-Nya, membuat kerajaan-Nya terancam, atau merampas sesuatu dari kesempurnaan-Nya.
Padahal Allah tidak membutuhkan ketaatan kita.
Jika seluruh manusia beribadah, kerajaan-Nya tidak bertambah. Jika seluruh manusia membangkang, kekuasaan-Nya tidak berkurang.
Lalu siapakah yang dilukai oleh dosa?
Doa Kumail menjawabnya dengan dua kata:
> “Aku telah menzalimi diriku.”
Ketika seseorang berdusta, Allah tidak kehilangan kebenaran-Nya. Pelakulah yang kehilangan kepercayaan. Ketika seseorang memelihara dengki, Allah tidak kehilangan ketenteraman-Nya. Hati pelakulah yang berubah menjadi tempat yang sempit dan gelisah.
Ketika manusia menolak salat, Allah tidak kehilangan apa pun. Manusialah yang kehilangan waktu untuk mengingat dari mana ia berasal dan kepada siapa ia akan kembali.
Setiap dosa adalah tindakan jiwa terhadap dirinya sendiri.
Ia menukar kebebasan dengan perbudakan kepada hawa nafsu. Ia menukar ketenangan dengan kegelisahan. Ia menukar kejernihan hati dengan kenikmatan singkat yang meninggalkan akibat panjang.
Namun pengakuan “aku menzalimi diriku” bukanlah ajakan membenci diri.
Orang yang membenci dirinya mungkin justru semakin merusaknya. Ia merasa tidak lagi layak diselamatkan, lalu menggunakan masa lalu sebagai alasan untuk terus jatuh.
Doa Kumail mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kita mengakui bahwa diri ini telah dizalimi karena kita masih percaya bahwa diri ini layak diselamatkan.
Kita berhenti berdalih. Kita tidak lagi meletakkan seluruh kesalahan pada keadaan, pergaulan, godaan setan, atau kelemahan masa lalu. Semua itu mungkin mempunyai pengaruh, tetapi pada bagian yang kita pilih sendiri, kita berani berkata: “Akulah yang melakukannya.”
Pengakuan tersebut terasa berat, tetapi justru membebaskan.
Selama kesalahan selalu ditempatkan di luar diri, perubahan juga akan selalu menunggu sesuatu di luar diri. Namun ketika seseorang mengakui tanggung jawabnya, ia menemukan tempat pertama untuk memulai perbaikan.
Ia tidak dapat mengubah seluruh dunia.
Tetapi dengan pertolongan Allah, ia dapat berhenti menzalimi jiwa yang dipercayakan kepadanya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DVpHod2fS/

