SYARAH DOA KUMAIL (17) – KETIKA MENGINGAT MENJADI JALAN MENDEKAT
Bagian 17 dari 100
Dalam tradisi Ahlul Bait, Doa Kumail dikenal sebagai Doa Khidir as, yang diajarkan Amirul Mukminin Ali as kepada Kumail bin Ziyad.
Teks Doa Kumail
> اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَتَقَرَّبُ إِلَيْكَ بِذِكْرِكَ
Allāhumma innī ataqarrabu ilayka bidzikrika.
“Ya Allah, sesungguhnya aku mendekatkan diri kepada-Mu dengan mengingat-Mu.”
Tema utama
Zikir bukan sekadar pengulangan nama Allah oleh lidah, melainkan usaha mengembalikan kesadaran kepada-Nya agar pikiran, pilihan, dan perbuatan tidak berjalan dalam kelalaian.
Allah tidak menjadi dekat karena kita menyebut-Nya. Dialah yang sejak awal meliputi kehidupan kita dengan ilmu, rahmat, dan pemeliharaan-Nya.
Zikir mengubah keadaan orang yang berzikir: dari lalai menjadi sadar, dari tercerai-berai menjadi terarah, dan dari merasa mandiri menjadi mengakui ketergantungannya kepada Allah.
Karena itu, zikir yang sejati tidak berhenti pada hitungan. Nama Allah yang disebut oleh lidah harus perlahan hadir dalam keputusan hidup.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Baqarah 2:152
> فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah mengingkari-Ku.”
Betapa menggetarkannya janji ini: ingatan seorang hamba kepada Allah dijawab dengan perhatian dan pemeliharaan Allah terhadap hamba-Nya. Tentu Allah tidak pernah lupa; “Allah mengingat” menunjukkan perhatian, rahmat, dan karunia-Nya. QS Al-Baqarah 2:152
- QS Ar-Ra‘d 13:28
> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati memperoleh ketenteraman.”
Ketenteraman zikir bukan berarti seluruh masalah segera hilang. Zikir menempatkan masalah di hadapan kebesaran Allah sehingga hati tidak lagi merasa harus menanggung semuanya sendirian. QS Ar-Ra‘d 13:28
- QS Al-Ahzab 33:41–42
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang beriman, ingatlah Allah dengan ingatan yang banyak dan sucikanlah Dia pada waktu pagi dan petang.”
Zikir yang banyak bukan hanya banyaknya ucapan, tetapi luasnya ruang hidup yang diterangi oleh kesadaran kepada Allah. QS Al-Ahzab 33:41–42
Riwayat Ahlul Bait
Diriwayatkan melalui Imam Ali ar-Ridha as bahwa Amirul Mukminin Ali as berkata:
> طُوبَى لِمَنْ أَخْلَصَ لِلَّهِ الْعِبَادَةَ وَالدُّعَاءَ، وَلَمْ يَشْغَلْ قَلْبَهُ بِمَا تَرَى عَيْنَاهُ، وَلَمْ يَنْسَ ذِكْرَ اللَّهِ بِمَا تَسْمَعُ أُذُنَاهُ
“Berbahagialah orang yang memurnikan ibadah dan doanya bagi Allah; apa yang dilihat matanya tidak menyibukkan hatinya, dan apa yang didengar telinganya tidak membuatnya melupakan zikir kepada Allah.”
Al-Kāfī, jilid 2, Kitab Iman dan Kufur, Bab Keikhlasan, hadis 3
Catatan verifikasi:
Riwayat ini dicantumkan oleh al-Kulaini dengan sanad, tetapi penilaian sanadnya tidak ditampilkan pada halaman rujukan tersebut. Dalam rangkaian sanad terdapat nama-nama yang penilaiannya diperselisihkan, termasuk Sahl bin Ziyad.
Karena itu, ia lebih aman disebut “diriwayatkan” dari Imam ar-Ridha as dan dinisbatkan kepada Imam Ali as. Terjemahan di atas bersifat maknawi.
Kerangka pembahasan
- Allah tidak menjadi dekat karena zikir; zikir menyadarkan manusia akan kedekatan-Nya.
- Zikir lisan adalah pintu menuju zikir hati dan ketaatan anggota badan.
- Kelalaian membuat manusia hidup seolah-olah Allah tidak melihatnya.
- Zikir mengubah cara hati memandang masalah dan kenikmatan.
- Mengingat Allah harus tampak dalam keputusan moral.
- Kedekatan dimulai ketika seluruh kehidupan menjadi ruang untuk mengingat-Nya.
Pembuka syarah
Ada perbedaan antara menyebut nama seseorang dan sungguh-sungguh mengingatnya.
Nama dapat diucapkan oleh lidah sementara hati berada di tempat lain. Demikian pula zikir. Tasbih dapat bergerak di antara jari-jari, tetapi pikiran terus berkelana. Nama Allah berulang kali terucap, sedangkan pilihan hidup tetap ditentukan oleh hawa nafsu.
Doa Kumail tidak sekadar mengajarkan penyebutan. Ia mengajarkan pendekatan:
> “Ya Allah, sesungguhnya aku mendekatkan diri kepada-Mu dengan mengingat-Mu.”
Allah tidak pernah jauh. Kitalah yang sering menjalani hari-hari seolah-olah Dia tidak hadir dalam kesadaran kita.
Kita menerima nikmat tanpa mengingat Pemberinya. Kita melakukan dosa tanpa mengingat pandangan-Nya. Kita menghadapi kesulitan tanpa mengingat kekuasaan-Nya. Kita mengejar pengakuan manusia hingga lupa bahwa nilai diri yang sesungguhnya berada di hadapan-Nya.
Zikir mengembalikan hati dari pengembaraan itu.
Ketika seseorang menyebut Allāhu Akbar, ia bukan hanya mengatakan bahwa Allah Mahabesar. Ia sedang mengingatkan dirinya bahwa masalahnya tidak lebih besar daripada Allah, pujian manusia tidak lebih besar daripada keridaan Allah, dan ancaman penguasa tidak lebih besar daripada kekuasaan Allah.
Ketika ia mengucapkan alhamdulillāh, ia belajar melihat kehidupan sebagai pemberian, bukan kepemilikan mutlak. Ketika ia mengucapkan astaghfirullāh, ia berhenti membela kesalahannya dan mulai mencari jalan kembali.
Zikir yang benar perlahan berpindah dari lidah menuju kehidupan.
Nama Allah hadir ketika tangan hendak mengambil yang bukan haknya. Ingatan kepada-Nya muncul ketika lidah hampir melukai seseorang. Kesadaran kepada-Nya menahan kaki sebelum melangkah menuju dosa.
Pada saat itulah zikir menjadi jalan kedekatan.
Bukan karena Allah sebelumnya jauh, tetapi karena hati akhirnya berhenti berpaling.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/191Ntc4RhL/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


