Seri Tentang Doa (Bagian 5)
Doa yang Menjadi Wajah
Pagi telah sempurna.
Matahari memantul di dedaunan yang masih basah oleh embun, dan udara di puncak gunung membawa harum tanah yang suci.
Kakek Gunung menatap lembah dari balainya, sementara pemuda yang kini sudah berubah — bukan lagi pencari jawaban, melainkan penempuh perjalanan — duduk di sampingnya dengan mata yang tenang.
“Kek,” katanya lembut, “aku sudah belajar banyak tentang doa. Tapi masih ada yang belum kupahami. Mengapa sebagian orang, bahkan tanpa bicara, wajahnya seperti menenangkan hati? Apakah itu juga karena doa?”
Kakek Gunung tersenyum. Garis wajahnya memantulkan cahaya pagi yang hangat.
“Nak, wajah seseorang adalah cermin dari apa yang sering ia bicarakan kepada Allah.
Bila lisannya penuh doa, matanya akan menjadi jernih.
Bila hatinya berserah, senyumnya menjadi teduh.
Dan bila ia hidup untuk menenangkan hati orang lain, maka wajahnya akan menjadi zikir yang hidup.”
Pemuda itu termenung.
“Berarti doa bisa terlihat di wajah seseorang?”
“Iya, Nak,” jawab Kakek Gunung pelan.
“Doa yang terus hidup di dalam hati menjelma menjadi wajah yang damai. Ia tak butuh kosmetik dunia, karena cahaya itu berasal dari dalam.
Cahaya yang tak bisa dipalsukan, karena ia tumbuh dari keikhlasan.”
Ia menatap lembah, lalu melanjutkan,
“Orang yang selalu berdoa tanpa pamrih, tanpa paminta, hanya ingin dekat kepada Allah—wajahnya akan menenangkan bahkan bagi orang yang memusuhinya.
Itulah wajah yang disucikan oleh doa.
Wajah yang di akhir hayatnya tidak gelisah, karena sudah terbiasa menatap langit dengan cinta.”
Pemuda itu menunduk, menatap telapak tangannya yang bergetar halus.
“Apakah wajah seperti itu bisa aku miliki, Kek?”
Kakek Gunung tersenyum.
“Bisa, Nak. Bila engkau berdoa bukan untuk meminta, tapi untuk mengenal.
Bila engkau berdoa bukan karena takut, tapi karena rindu.
Dan bila engkau menjadikan setiap napasmu sebagai bentuk syukur, maka wajahmu akan menjadi doa yang berjalan.”
Angin gunung berhembus lembut. Lentera di sudut gubuk bergoyang pelan, seolah ikut mengamini.
Kakek Gunung menatap pemuda itu untuk terakhir kalinya hari itu, lalu berkata dengan suara yang seperti gemericik air wudhu:
“Doa yang paling tinggi bukan yang keluar dari mulut, tapi yang menjelma menjadi wajahmu, sikapmu, dan jalan hidupmu.
Maka ketika kau sudah menjadi doa, engkau tak perlu lagi memintanya—karena seluruh hidupmu telah menjadi jawabannya.”
Pemuda itu menangis. Tapi kali ini bukan karena sedih—melainkan karena paham.
Ia tahu, mulai hari itu, ia tak akan pernah berdoa dengan terburu-buru lagi.
Karena ia sudah mengerti: doa bukan untuk dikabulkan, tapi untuk dihidupi.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19VGfVjTzw/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


