Seri Tentang Doa (Bagian 3)
Doa yang Menyapa
Malam itu semakin larut. Kabut tipis turun dari lereng seperti sutra putih yang membelai punggung bumi. Kakek Gunung masih duduk bersila di depan gubuknya, ditemani lentera kecil yang bergetar diterpa angin.
Pemuda yang tadi siang menemuinya belum juga beranjak pulang. Ada sesuatu yang masih ingin ia dengar.
“Kek,” katanya pelan, “tadi Kakek bilang bahwa doa bisa menjadi cahaya saat amal terhenti.
Apakah doa itu juga menemani seseorang setelah mati?”
Kakek Gunung menatap lentera itu lama, lalu menjawab pelan—dengan suara yang seakan datang dari jauh:
“Nak, ketika ruh manusia meninggalkan jasadnya, semua yang dibanggakan lenyap. Rumah, nama, harta, dan gelar—semuanya tertinggal. Tapi ada satu hal yang tetap mengikutinya: doa.”
Pemuda itu menatap heran.
“Doa? Maksudnya doa dari orang lain, Kek?”
Kakek Gunung tersenyum lembut.
“Bukan hanya doa orang lain, Nak. Tapi juga doa-doa yang dulu kau panjatkan sendiri.
Doa yang dulu kau kira tak dijawab, padahal ia sedang menunggu saatnya untuk menjemputmu. Dan ketika tubuhmu dibaringkan dalam tanah, doa-doa itu datang—seperti cahaya yang menembus gelap.”
Pemuda itu terpaku. Lentera di antara mereka bergoyang kecil, seperti ikut menunduk.
“Ketika malaikat datang bertanya,” lanjut Kakek Gunung,
“Doa yang tulus akan menjadi saksi dan temanmu.
Ia akan berdiri di sisimu dan berkata:
‘Aku adalah suara hatinya yang pernah memanggil-Mu di malam sepi. Aku adalah air matanya yang jatuh karena cinta kepada-Mu. Maka lindungilah dia sebagaimana ia pernah menyerahkan diri kepada-Mu.’”
Pemuda itu menitikkan air mata.
“Berarti setiap doa yang pernah aku ucapkan akan menemuiku, Kek?”
Kakek Gunung mengangguk perlahan.
“Benar, Nak. Karena doa yang tak dijawab di dunia bukan berarti ditolak—ia disimpan agar menjadi cahaya di alam kuburmu.
Sementara doa orang-orang yang pernah kau bantu, kau cintai, dan bahkan yang pernah kau maafkan—akan datang berbondong-bondong seperti taman di dalam kuburmu.”
Suara malam begitu hening, hanya angin gunung yang berdesir lembut seperti zikir semesta.
Pemuda itu menunduk, hatinya luluh dan damai.
Kakek Gunung menatapnya, lalu menutup dengan kalimat yang terasa seperti azan bagi ruh:
“Nak, jangan takut mati bila hidupmu penuh doa. Karena kelak, saat kau tertidur di bawah tanah, doa-doa itulah yang akan membangunkanmu—bukan untuk takut, tapi untuk pulang.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/18Z3z4JKnB/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


