Pikiranmu Menjadi Batas Pencapaianmu | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Puncak Pencapaian Akal: Menyadari Batas Diri
Menurut pemikiran Blaise Pascal, puncak tertinggi dari pencapaian akal atau nalar manusia adalah kesadaran bahwa ada batasan bagi akal itu sendiri.
Kesadaran bahwa pikiran kita memiliki limitโtitik di mana ia merasa buntu dan tidak lagi mampu menjangkau hal-hal tertentuโjustru merupakan pencapaian intelektual yang agung.
Akhir dari penjelajahan rasional manusia adalah ketika ia sampai pada titik “mentok” dan menyadari bahwa akalnya terbatas serta tidak mengetahui segalanya.
Penting untuk dipahami bahwa menyadari batasan akal bukan berarti menganggap akal tidak penting, namun juga bukan berarti menganggap akal adalah segalanya.
Kita harus menggunakan akal sembari tetap menyadari adanya batas-batas kemampuan subjektif maupun teoretis yang membatasinya.
Perbedaan Antara Otak, Akal, dan Nalar
Untuk memahami topik ini lebih jauh, kita perlu memperjelas tiga istilah yang sering digunakan secara tumpang tindih:
- Otak (Brain):
Ini adalah perangkat fisik atau hardware manusia.
Otak terdiri dari jutaan saraf dan mekanisme biologis canggih yang bisa difoto atau dirontgen.
Jika otak mengalami kerusakan fisik atau “konslet”, maka kemampuan seseorang untuk berpikir secara sadar akan terganggu. - Akal (Mind):
Akal adalah kapasitas atau software yang ada di dalam otak.
Ia merupakan potensi kemampuan seseorang untuk berpikir secara sadar, memahami logika, dan menemukan kebenaran.
Kapasitas akal setiap orang bisa berbeda-beda; ada yang memiliki “versi” yang sangat canggih dan cepat, meskipun secara fisik otaknya tampak sama sehatnya dengan orang lain. - Nalar (Reasoning):
Nalar adalah proses penggunaan atau pengoperasian dari akal tersebut.
Nalar digunakan saat kita menjalankan hidup sehari-hari untuk mempertimbangkan, menilai, dan memilih sesuatu.
Kesadaran Ganda terhadap Nalar
Merujuk pada buku Within Reason karya Donald B. Calne, kita harus memiliki “kesadaran ganda” terhadap nalar kita:
- Pertama:
Menyadari betapa pentingnya akal dan nalar sebagai hakikat kemanusiaan kita. Menjadi anti-nalar adalah sebuah kekeliruan dalam memahami fungsi dasar manusia. - Kedua:
Menyadari bahwa nalar memiliki batasnya sendiri.
Nalar sebagai Alat, Bukan Penentu Tujuan
Nalar hakekatnya adalah produk biologis dan sekadar sarana atau alat yang kodratnya terbatas.
Nalar sangat canggih dalam meningkatkan mutu bagaimana kita melakukan sesuatu, tetapi ia tidak bisa mengubah mengapa kita melakukannya.
Sebagai contoh, nalar telah melahirkan pengetahuan yang memungkinkan kita berkeliling dunia dalam waktu singkat menggunakan pesawat.
Namun, alasan di balik perjalanan tersebutโapakah untuk berperang, berniaga, atau menyebarkan agamaโseringkali bukan ditentukan oleh nalar, melainkan oleh unsur jiwa yang lain seperti naluri, selera, atau kepentingan ego.
Nalar mampu menemukan cara mengolah nuklir, namun keputusan untuk menggunakan nuklir tersebut untuk tujuan apa biasanya lebih dipengaruhi oleh nurani, naluri mempertahankan diri, kebutuhan emosi, atau sikap budaya.
Dalam hal ini, nalar berfungsi sebagai alat yang sangat canggih untuk menerjemahkan keinginan dan keputusan kita, namun isi dari keinginan tersebut digerakkan oleh bagian jiwa yang lain.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







