Gunakan Senjata Ini Maka Tujuanmu Akan Tercapai | Ngaji Filsafat
Kedudukan Akal sebagai Panglima, Bukan Raja
Menurut Imam Ghazali, akal bukanlah raja dalam diri manusia, melainkan hanya seorang panglima.
Rajanya adalah kalbu atau hati, yang bertugas menyetir, mengorientasikan, dan memberi warna pada kehidupan kita.
Akal merupakan pasukan yang paling kuat di antara pasukan-pasukan lainnya karena ia bertugas mengarahkan semua potensi diri, namun posisinya tetaplah seorang bawahan atau suruhan.
Jika kalbu seseorang jernih dan positif, maka akal akan menjadi pasukan yang sangat kuat untuk membela kejernihan tersebut.
Sebaliknya, jika kalbunya gelap dan suram, maka akal akan bertransformasi menjadi pasukan kegelapan.
Dengan demikian, akal selalu dibatasi oleh orientasi emosi dan ambisi manusianya; ia adalah senjata hebat yang fungsinya sangat bergantung pada siapa yang memegangnya.
Akal sebagai Alat Justifikasi dan Strategi
Dalam catatan sejarah, banyak tragedi kemanusiaan yang melibatkan orang-orang pintar, seperti para filsuf Jerman yang mendukung gerakan Nazi dan peristiwa Holocaust.
Secara akal sehat, kekerasan yang merusak kemanusiaan seharusnya ditolak, namun akal hanyalah pasukan yang mengikuti arahan tuannya.
Jika diarahkan oleh jiwa yang jahat, akal akan digunakan untuk memuluskan kejahatan melalui trik, strategi, atau rekayasa agar keburukan tersebut tampak benar melalui argumen-argumen tertentu.
Meskipun demikian, manusia tidak boleh meninggalkan akal.
Tanpa akal, seseorang seperti kerajaan yang memiliki raja tetapi tidak mempunyai panglima perang, sehingga ia menjadi lemah dan mudah dikalahkan.
Ketertinggalan dalam sains, teknologi, dan peradaban sering kali disebabkan oleh keragu-raguan dalam mendayagunakan akal budi.
Keterbatasan Nalar dan Kritik Modernisme
Kekeliruan peradaban modern adalah menganggap akal sebagai satu-satunya alat intelijensi manusia, padahal terdapat perangkat lain seperti naluri, nurani, intuisi, ambisi, hasrat, hingga selera.
Akal atau nalar hanyalah sarana atau alat yang tidak memegang kendali penuh atas orientasi hidup.
Penentu keputusan tetap berada pada “sang raja”, yaitu kalbu atau bagian jiwa lainnya seperti nurani dan intuisi.
Herbert Simon menegaskan bahwa nalar adalah alat belaka yang tidak dapat menentukan tujuan hidup; ia hanya memberitahu cara untuk sampai ke sana.
Nalar ibarat “senjata sewaan” yang bisa digunakan untuk tujuan baik maupun buruk.
Inilah sebabnya orang pintar yang jahat sangat berbahaya, karena mereka memiliki pasukan akal yang kuat untuk mendukung kejahatannya.
Pentingnya Menjernihkan Kalbu
Dalam dunia tasawuf, manusia sangat didorong untuk menjernihkan hati agar corak hidupnya menjadi positif dan terang.
Hati yang jernih akan memastikan bahwa akal digunakan sebagai senjata untuk membela kebenaran.
Keterbatasan nalar yang paling utama adalah ia tidak memegang kunci kesimpulan; ia memberikan masukan dan pertimbangan, namun kalbu sering kali memiliki ambisi atau hasrat sendiri yang bisa saja mengabaikan pertimbangan akal tersebut.
Selain itu, nalar sering kali dibatasi atau “terbatasi” oleh standar-standar yang dibuat manusia sendiri demi mencapai target tertentu.
Standar, Norma, dan Pagar Pemikiran
Manusia sering membuat batasan berpikir berdasarkan ideologi, etika, sosial, budaya, hingga politik.
Meskipun akal secara teoretis sangat canggih dan bisa masuk ke mana saja, manusia membatasinya dengan aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dipikirkan atau dibahas.
Nalar bahkan sering bekerja untuk memberikan justifikasi atau alasan mengapa suatu hal tidak boleh didiskusikan.
Jika seseorang mencoba membuang semua standar agar akalnya bebas tanpa batas, pada akhirnya ia akan terjebak pada pembuatan standar-standar baru versinya sendiri. Hal ini karena karakter dasar akal adalah melayani kepentingan dan idealisme yang diinginkan manusia.
Kesimpulan tentang Fungsi Akal
Ada dua kondisi eksistensial akal manusia: pertama, fungsinya secara umum adalah melayani, mendukung, dan menjadi sarana bagi kebutuhan serta keinginan manusia.
Kedua, akal banyak dibatasi oleh standar-standar yang dibuat oleh penggunanya.
Hidup yang serius adalah hidup yang memiliki visi dan misi yang jelas, dan sebagai konsekuensinya, manusia akan menciptakan “pagar-pagar” atau standar strategi yang kadang menghalangi cara kerja nalarnya demi mewujudkan tujuan tersebut.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







